cerita ceriti,  Just My Opinion,  my world,  Self reminder

Menikah dan Kepiawaian Mengalah

Tiba-tiba kembali ingin menulis tentang pernikahan dan keluarga. Aku jadi tertarik lagi menganalisis dan merenungkan materi yang satu ini. Mungkin karena memang merasa diri butuh refleksi atau ada miris dalam hati melihat fenomena di sekelilingku ketika balik ke kampung halaman. Aku jadi ingin membahas lagi mengenai serba-serbi kehidupan pasutri. Aku nyaris lupa bagaimana berat menyatukan pikiran dalam sewindu pernikahan kami, tapi dengan cara menulis, membaca, dan mengkaji ulang metode-metode yang kami terapkan berdua, saat ini aku hampir lupa kalau seiring perjalanan kami berdua yang kini menjelang empat belas tahun, kami pun punya kerikil-kerikil kecil yang membuat perjalanan pernikahan kami tidaklah semulus jalan tol.

 

Euforia jatuh cinta, menyatu bersama, menikmati dinamika rasa dalam rumah tangga, lalu yang paling penting bagiku pribadi, bagaimana agar nyala cinta tetap stabil hingga di penghujung usia. Dibulatkan niat sejak di awal, menjadi pribadi pembelajar yang tak pernah merasa puas memoles diri, berhenti memberi makan ego, dan penuh permakluman, tiba-tiba aku merasa sangat terbiasa. Luwes dan berpikiran terbuka kupelajari justru dalam kehidupan rumah tangga. Terlebih lagi setelah memiliki anak. Menyambung nyawa yang nyaris tiga kali akan lepas, membuatku semakin merasakan keajaiban-kajaiban itu ada, kagum akan kekuasaan Allah.

Salah satu alasan aku dulu ingin dekat dengan lelaki yang menjadi suamiku kini adalah kepribadiannya yang rendah hati. Aku penasaran bagaimana ia melatih dirinya dan kapan harus dimulai. Dengan sepenuh pinta aku kerap berdoa diberikan pendamping dengan kepribadian yang baik dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Belajar dari apa saja.

Lalu apa yang dicari dalam pernikahan? Tiada lain kecuali keberkahan. Bukan rasa ingin dimanja, dipeutimang terus menerus, prestise dan gengsi, dianggap sudah sempurna kebahagiaannya, dan malah untuk show off dan pengakuan orang lain. Ini yang paling sering jadi bahan renunganku belakangan ini.  Apalagi  jelang hari raya seperti sekarang. Hari keluarga, hari berkualitas, hari bersilaturahmi. Semua ditampilkan dengan penuh gengsi dan tinggi hati, tapi sesungguhnya ada yang semakin keropos di dalam bilik cinta rumah tangga.

Mungkin tema kali ini adalah lebih spesifik ke pertanyaan, mengapa cinta meredup dan mengalami disrupsi seiring bertambahnya usia pernikahan? Ada yang sudah enggan mengakui tergila-gila awalnya, ada yang mulai malu mengungkapkan rasa, ada yang malah menuai banyak konflik rumah tangga dan bersandiwara di depan keluarga. Memang semakin ke sini kita semakin tahu karakter masing-masing. Ada yang dahulu ditutup rapi justru menjadi-jadi. Euforia sudah padam, cinta berakhir sudah dan stagnan itu menimbulkan kebosanan luar biasa. Padahal Allah sudah menyediakan wahana untuk belajar dan berlatih di dalam rumah tangga, jika ego tetap dipertahankan paling terdepan, apa jadinya? Sesungguhnya kalau suami istri belum tahu cara mengalah, pertanda mereka belum berhasil membina rumah tangga.

Aku ingat sekali nasihat yang disampaikan Prof. Alyasa’ Abubakar yang kurang lebih intinya seperti ini; pahami hak dan kewajiban sebagai suami istri. Kewajiban suami menafkahi istri lahir dan batin, memenuhi pangan, sandang, dan pakaian. Suami banyak yang tidak tahu bahwa kewajiban istri itu hanya ada dua dalam Islam, yaitu melayani suami (di atas ranjang) dan menemani makan. Banyak orang yang berpendapat bahwa memasak, membersihkan rumah, mengurus anak, dan segala remeh temeh rumah tangga adalah kewajiban seorang istri. Tidak ada satu hadis pun yang memiliki redaksi demikian, bahwa semua yang di atas adalah kewajiban istri. Justru yang menyediakan makanan adalah kewajiban suami, tidak pula disebut di sana bahwa makanan mentah yang belum diolah, tapi makanan.

Namun, pertanyaannya adalah, apakah dengan memenuhi hak dan kewajiban saja rumah tangga kita jadi bahagia? Apakah keberkahan hadir dengan hanya memenuhi kewajiban dan menuntut hak? Rumah tangga seperti itukah yang kita inginkan? Kembali pada pasangan masing-masing.

Ringan saja, aku tak perlu merasa bersalah secara syariat ketika tidak memasak, mengurus anak-anak dan membersihkan rumah dengan baik, tapi aku menanamkan prinsip alangkah bahagianya kalau kusanggup melakukan semuanya dengan baik setidaknya hari ini, lalu esok aku juga bergumam sama, esok lagi, dan esok lagi. Lalu suamiku juga merasa aku tak harus mengerjakan hal itu, tapi ia merasa sangat berterima kasih saat aku lakukan semua itu. Cara berterima kasihnya begitu beragam dan juga konkret.

Ini menjadi hal kecil yang kerap terlupakan. Sebab semakin lama bersama, kita semakin menemukan irama yang seringkali hentakannya tidak sama. Akhirnya tiba-tiba hubungan jadi begitu hambar dan tibalah saatnya saling mengira saja, apa hak dan kewajiban. Akhirnya hubungan menjadi stagnan. Asyiknya di mana yang seperti itu?

Terlebih lagi ketika kita sudah memiliki anak-anak, ketika berbagi peran pengasuhan, suami istri justru merasa berbagi beban bukan kebahagiaan. Padahal anak-anak bukan sebab menderita dan bahagia, kebahagiaan itu hadir dari dalam jiwa. Kalau sekadar dari luar, tidak dikaruniai momongan bisa menjadi sebab konflik, punya momongan pun berpotensi menuai konflik lebih pelik.

Menikah adalah berhenti memberi makan ego, belajar mengalah lebih banyak, bersabar menunggu saat yang tepat dalam menyelesaikan berbagai hal. Semuanya berpotensi memantik kebahagiaan dan semuanya pula bisa menuai konflik. Jadi, bijaklah menempatkan diri. Komunikasi yang baik dan efektif bukan melalui media sosial. Dalam beberapa hal, kualitas dan kuantitas merupakan dua sisi mata uang yang tidak boleh dipisahkan, salah satunya waktu bersama keluarga. Untuk hal lain bolehlah kita mengatakan yang penting kualitasnya, tapi untuk keluarga keduanya harus seimbang, kualitas dan kuantitas waktu bersama. Bukan kuantitas berapa banyak foto keluarga yang kita unggah di media sosial, tapi benar-benar kebersamaan sungguhan yang justru bisa membuat kita lupa mengabadikan melalui lensa-lensa kamera. Kita mengabadikannya dalam lensa-lensa hati dan tersimpan lekat dalam kenangan hingga mati.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, dan Faza. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *