lomba blog,  my world,  Self reminder

Menulislah, Jangan Katakan Nanti

 

“Menulis adalah bekerja untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer).

Siapa yang tak ingat dengan Kartini dan surat-suratnya yang dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang? Lalu sekarang di era milenial dan keterbukaan, perang opini melanda seperti tiada habisnya. Apa kurang perjuangan Sulthanah Safiatuddin, Dewi Sartika, dan Cut Nyak Dhien hingga gaungnya tak seperti Kartini? Karena Kartini menulis. Karena ia merekam jejak dengan tinta inspirasi. Itulah mungkin yang membedakan gaung yang terekam oleh nama Kartini.

Menulis memang unik, membedakan tingkat peradaban manusia. Awal adanya bahasa, kemudian diekspresikan secara verbal, lalu tahap tertinggi adalah pengungkapan melalui menulis. Di bidang akademisi pun menulis menjadi syarat untuk mencapai tingkat tertinggi di bidangnya.

Menulis adalah terapi jiwa, melepas penat dan lelah. Mengurai pemahaman dan menemukan solusi sembari mengasah empati. Jejak-jejak yang kelak tertinggal dalam tulisan-tulisan akan abadi bersama waktu. Maka kita pernah mendengar bahwa seorang penulis bisa hidup abadi, tentu saja dalam karya-karyanya. Lihatlah Al-Ghazali, Buya Hamka, Pramoedya Ananta Toer, Ernest Hamingway, Leo Tolstoy, dan penulis-penulis yang hingga kini dikenang dunia. Memberikan warna bukan hanya pada sastra, namun juga pada peradaban dunia. Perubahan kebaikan, perjuangan, kuotasinya dikutip oleh orang-orang yang tercerahkan melalui tulisan-tulisannya.

Rekognisi yang telah mereka lakukan layaknya amal jariyah yang tak pernah putus.

Saat peradaban Islam menjadi peradaban tertinggi di dunia, tak ada ilmuwan muslim yang tidak menulis. Sejarah menceritakan, para ilmuwan dihargai emas seberat buku yang telah selesai ia tulis oleh pemimpin masa itu. Penelitian-penelitian sains, kesehatan atau kedokteran, penemuan-penemuan dan karya sastra ditulis. Memang dituangkan dalam bentuk karya yang dapat dibaca dan dijadikan rujukan.

Lalu sebenarnya, apa yang memberatkanmu dalam memulai untuk merekam jejak, Kawan? Mulainya menulis, berkarya tanpa nanti!

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *