my world

Menyajikan Literatur Mini di Rumah Sendiri

Buku fisik memang harus hadir di rumah kita jika menginginkan anak yang gemar menggali ilmu dari aktivitas membaca. Masing-masing orang memiliki tips tersendiri untuk bisa membeli buku-buku bergizi dan bagus untuk anak ataupun ponakan kesayangannya. Aku dan suami juga punya beberapa tips yang barangkali bisa menginspirasi ayah bunda yang memiliki niat yang sama menghadirkan gudang ilmu, jendela dunia bagi anak-anaknya tercinta.

Sebelum menikah, aku sudah mulai tertarik dengan buku anak-anak yang eye catching, bahannya keras untuk yang berjenis boardbook dan ada juga buku bantal yang tidak akan koyak kecuali ya, kalau anak kita iseng mengguntingnya. Selain hunting buku anak sebeum menikah, melirik ke buku-buku loakan pun tak ada salah. Tapi sayangnya di Aceh jarang kutemui kecuali majalah-majalah second yang kini tidak tampak cukup berkembang bisnisnya di Aceh. Sekitar tahun 2012 masih ada gerobak majalah bekas itu di jalan Inong Balee, Darussalam, sekarang sudah tak tampak lagi. Alternatif lainnya bisa pesan pada teman yang berdomisili di kota-kota atau daerah yang banyak menjual buku loakan. Aku pernah pesan ke Kak Fida buku-buku dan majalah bekas yang dijual dengan harga miring. Ingat, hindari beli buku bajakan untuk menghargai jerih payah dan keringat para penulis. Ah, aku pernah membeli sekali karena buku aslinya sudah menjadi begitu langka di toko buku, sementara aku belum kenal salah seorang teman yang menjual buku-buku langka kala itu. Aku membeli Jejak Langkah-nya Pramoedya Ananta Toer dan saat itu rasa bersalah menggelayuti, akhirnya buku tersebut kuhibahkan ke seorang teman. Aku terpaksa membelinya karena hanya itu yang ada dan aku penasaran dengan tetralogi Buru tersebut.

IMG-20151108-WA0056
dua paket buku eye cathing dari MDS menyedot perhatian anak-anak. Membaca jadi aktivitas menarik.

IMG-20160202-WA0008

Ah, sebenarnya ini curcol atau tips, sih? Kenapa jadi panjang begini? Hahaha

Baiklah, lainnya aku pernah diajak seorang teman menjadi salah satu Book Advisor Mandira Dian Semesta. Salah satu lini Penerbit Mizan yang memproduksi buku anak-anak dan dijual per paket. Buku ini tergolong cukup mahal bagi orang dengan ekonomi menengah ke bawah seperti kami, tapi bagiku sebandinglah dengan manfaat yang diberikan. Temanku Mbak Bela, yang menjadi Supervisor di MDS pernah mengatakan, buku mahal itu bukan untuk orang kaya, melainkan untuk orang yang memang ingin membelinya. Yap, perlu mental berbeda untuk memilih menyajikan buku bagus untuk anak. Pun, sudut pandang yang berbeda dari setiap orangtua. Sebenarnya sama herannya dengan Teh Kiki Barkiah yang pernah menulis di buku best seller-nya, 5 Guru Kecilku. Komentar sebagian orangtua yang mengatakan, “Hah? Buku kok semahal itu, kalau saya, sih, mending beli emas saja!” silakan berkomentar, tapi tentu sudah siap dengan sebuah penilaian.

Aku membeli paket pertama dengan ikut arisan dan tak peduli akan narik pada bulan apa. Yang penting aku akan meghadiahkan sebuah buku yang amat menarik bagi sulungku saat itu yang akan berulang tahun ke-8. Ia menyukai sains dan buku terjemahan dari Korea itu terlihat sangat menarik penyajiannya. Confidence in Science judul bukunya. Benar isinya sangat menarik dan sarat ilmu. Karena sulung kami sudah bisa membaca waktu itu, perangkat smart e-pen CIS tidak kubeli.

Ketika aku ingin menambah koleksi buku baru untuk anak-anak, aku mencari teman yang ingin membeli buku sejenis atau di penerbit yang sama. Komisi dari mengajak mereka ini bisa kuangsurkan untuk membeli paket buku-buku lainnya. Alhamdulillaah, jadi semakin lengkap tema dan koleksi buku anak-anak. Selain mengumpulkan komisi itu, aku giat mengajari Akib dan Biyya untuk menabung Rp 2000/ hari untuk membeli buku baru. Kalau sudah dapat ang pao alias salam tempel lebaran, Akib langsung minta dibelikan buku baru. Sisanya barulah dia heboh dengan es krim dan coklat.  O iya, Akib terkadang masih sering tergoda mainan juga.

Sampai saat ini aku merasa belum membelikan banyak buku untuk anak-anak. Oh, apalagi masih ada juga buku-buku yang dipinjam dan belum kembali. So sad kalau mengenang bagaimana perjuangan membelinya dengan menyicil sedikit demi sedikit. Tapi semoga usaha ini tetap konsisten dan menulis seperti ini menambah semangat untuk menyajikan literatur memperkaya dunia literasi di rumah kami.

IMG-20160129-WA0004 (766)
Biyya mulai mencoba membaca sendiri bukunya saat usia 6 tahun. Tidak ada yang namanya dipaksa belajar membaca oleh Bunda.

Masih ada cara pamungkas, jangan lupa hunting di media sosial penulis-penulis cerita anak yang recomended. Pantengin giveaway ataupun kuis-kuis yang biasanya berhadiah (apalagi) kalau bukan bukunya. Amati juga diskon-diskon cetar di toko buku online. Kalau kebetulan kamu punya kesempatan sering-seringlah ke toko buku. Kami punya satu toko buku yang memberikan diskon untuk pelanggan yang memiliki kartu anggota. Selain itu kami menjalin silaturrahim yang baik dengan siempunya toko, punya nomor kontak dan jaringan pribadinya membuat kita mudah mengecek buku-buku terbaru dan buku-buku yang direkomendasikan.

IMG-20151008-WA0007 (166)
sepaket buku Ensiklopedi Bocah Muslim. Wow! Ayah Bundanya aja dapet banyak ilmu baru dari buku-buku ini. Biar kekinian dilengkapi fitur Agmented Reality juga.

Dari banyaknya tips yang tidak rinci di atas, kami berharap ada satu atau dua tips saja yang bisa diaplikasikan dan mudah-mudahan bisa menghadirkan literatur-literatur bergizi untuk buah hati. Tidak akan mubazir hal yang disarankan oleh Syeikh Hasan Al Banna ini, menyediakan pustaka kecil di rumah sendiri. Tokoh-tokoh dan ilmuwan besar seperti Alkhawarizmi, Ibnu Sina (Avicenna), Ibnu Haitsam (Alhazen), dan banyak lagi penemu Muslim yang lahir di abad kejayaan Islam adalah orang-orang yang semasa kecilnya akrab dengan buku-buku. Bahkan penulis seperti Sir Arthur Conan Doyle, Agatha Christie, dulunya adalah predator-predator buku di perpustakaan pribadi keluarganya. Bagaimana mereka menuliskan dalam otobiografinya tentang ingatan mengenai rak buku yang penuh dengan buku dan momen-momen indah saat Kakek membacakan berbagai buku untuk mereka. Tulisan kali ini tidak akan tuntas membahas kaitan buku dan manfaatnya, juga tidak cukup untuk menjabarkan begitu banyak tokoh yang dilahirkan dari rahim-rahim kedekatannya dengan buku dan ilmu. Seperti kata Kang Emil, “malas membaca, mundur berbangsa,” rasanya bisa menjadi epilog tulisan kali ini.

 

IMG-20151215-WA0001
membacakan buku meningkatkan bonding ortu-anak dan kakak-adik

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *