my world,  Resensi

Metafora Divakaruni

Aku tidak tahu harus senang atau kecewa sesaat setelah menyelesaikan membaca The Unknown Errors of Our Lives-nya Chitra Banerjee Divakaruni—buku ini hadiah dari sahabatku dan aku mendadak ingin membaca tulisan Divakaruni yang lain.

Kupikir kali ini pun aku mendapatkan cerita-cerita suram, setelah kemarin kukatakan aku akan jeda sejenak dari membaca kisah yang menyedihkan, tapi apa daya, tempo hari daftar bacaan yang kutumpuk itu setelah buku-buku Gabo adalah: kumpulan cerpen Hemingway, Lolita (karya Nobokov yang kontroversial), dan sekuel To Kill A Mockingbird yang berjudul Go Set A Watchman yang ditulis Harper Lee (buku ini adalah bonus yang diberikan penjualnya padaku).

Ada kuselipkan pada bagian bawah tumpukan, buku Blusukan yang ditulis Mark Twain, tapi aku sudah bertekad akan membacanya lain waktu, kapan-kapan saja kalau aku benar-benar senggang. Seperti biasa aku sudah membaca blurb dan pengantar penerbit atau penerjemahnya. Ini menjadi kebiasaanku untuk memutuskan apa memasukkannya ke daftar bacaan bulan ini atau tahun ini, bahkan mungkin beberapa tahun ke depan.

Aku bukan pembaca yang rakus—paling tidak tak serakus yang kalian bayangkan—juga tidak terlalu gemar memberi stabilo di beberapa bagian buku milikku sendiri. Namun, untuk buku Divakaruni kali ini, hal semacam itu sangat sulit dihindari. Dia menulis teramat bagus dan metafora yang dipakainya seperti kerap menggodaku untuk meniru barangkali nanti ke depan kalau ada yang cocok. Aku tertawa karena hal ini.

Divakaruni menghidupkan imajinasi dengan metafora yang tidak terpikirkan olehku. Apalagi aku termasuk orang kuno yang masih menulis metafora dengan gaya zaman dulu yang sungguh memuakkan, karena itu aku sempat bertekad bahwa metafora bukanlah hal yang harus kutekuni, aku tak perlu berlatih menulis bagus dengan menggunakan metafora, mungkin lebih baik fokus pada latihan melantur saja, sudah banyak yang mengatakan lanturanku lebih bergaya ketimbang saat aku bermetafora.

Kumpulan cerpen yang tidak pendek ini—sebagaimana cerpen-cerpen Hemingway—bercerita tentang kehidupan perempuan-perempuan India yang menjadi imigran di Amerika. Kesaaman cerita satu dengan lainnya adalah kesemuanya berbicara pada sudut pandang tokoh perempuannya. Kisah-kisah yang sangat mengena, penuh perasaan, memiliki pesan-pesan humanis yang kental, dan sekali lagi bernada suram bagiku.

Tokoh-tokoh perempuan dihidupkan dalam berbagai usia, mulai tua, dewasa, bahkan anak-anak. Tentang harapan negeri baru yang justru melemparkan para tokoh untuk ingin kembali ke negeri asalnya. Dibuka dengan cerita berjudul Nyonya Dutta Menulis Surat, Divakaruni menyajikan kisah dengan kekhasan sejati seorang penulis dunia yang seolah-olah hanya dia sendiri yang bisa menulis serupa itu dan setiap orang boleh menikmati dengan cara yang mereka kehendaki.

Terpesona. Itu mungkin satu kata yang cocok untuk gaya penceritaan Divakaruni. Bukan hanya penggambaran watak, deskripsi lokasi, konflik cerita yang amat padat, penuturan yang dibuat Divakaruni dalam kumpulan cerpen ini amat memikat. Hanya saja bagi yang punya selera happy ending, ini bukan kisah yang enak dibaca dan menghibur Anda. Kalau sedang dalam kegalauan berat dan Anda adalah tipikal individu yang baper, lebih baik mencari hiburan dengan bacaan-bacaan lain saja, tapi kalau tujuan Anda membaca bukan sekadar memperoleh hiburan (sebenarnya mendapatkan metafora-metafora baru juga hiburan mengasyikkan), tapi juga mendapat pelajaran berharga dari penulis kelas dunia seperti Divakaruni, Anda layak memburu buku semacam ini.

Kumpulan cerpen yang dalam versi bahasa Indonesia-nya diterjemahkan menjadi: Kesalahan-kesalahan yang Tidak Diketahui dalam Hidup Kita ini bukan hanya menyajikan kronika yang apik dalam sebuah fiksi, tapi juga memuat peristiwa-peristiwa konsekuensial yang tak mungkin dihilangkan di setiap cerita yang dibangun oleh penulis. Konfliknya sangat kuat dan beralasan, terlihat tidak dibuat-buat. Dengan membenturkan budaya dua negeri yang begitu bertolak belakang, Divakaruni berhasil menyajikan cerita yang tak terlupakan.

Buku 264 halaman ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan dialihbahasakan oleh Gita Yuliani K. Tentu tidak ada lembar yang menyajikan biodata penulis di buku yang ditulis oleh penulis populer semacam ini, tapi perhatianku jadi tertumbuk pada agen naskahnya (literarty agent): Sandra Djikstra Literarty Agency. Penulis India-Amerika ini terlihat begitu berkelas dan memiliki nilai tawar naskah yang tinggi dengan agen yang mumpuni. Divakaruni memang penulis yang berhasil menyabet penghargaan American Book Award dan Crawford Award, juga beberapa penghargaan bergengsi lainnya di bidang fiksi dengan karya-karyanya yang tetap tinggal di hati para pembacanya.

Di kumpulan cerpennnya kali ini, aku sangat terkesan dengan cerita yang dipilih sebagai pembuka: Nyonya Dutta Menulis Surat. Aku bisa merasakan perasaan berat tak terkira menghimpit dada Nyonya Dutta yang hirah ke Amerika atas ajakan anak lelakinya. Sementara ia dan segala kebiasaan dan pemikiran konvensionalnya adalah milik kampung halamannya, Calcutta.

Hidup mereka telah berbaur, seperti masa lalu dan masa depan, janji dan kekecewaan, minyak biji rami dan terpentin. Seperti napas burung-burung di atas pohon pengabulan doa, mungkin mereka bisa dipisahkan, tetapi dia tidak punya keahlian untuk melakukannya, meskipun dia ingin. Perkawinan adalah lomba panjang yang penuh sandungan, belajar gaya berjalan pasanganmu, sementara engkau berjalan…

Petilan di atas ada pada halaman 229, diambil dari cerpen yang di bab akhir yang judulnya diambil menjadi judul buku ini: Kesalahan-Kesalahan yang Tidak Diketahui dalam Hidup Kita. Hampir di setiap paragraf yang disajikan oleh Divakaruni meyajikan metafora semacam itu. Metafora yang tidak jauh dari keseharian dan sangat mudah dipahami hingga kita bisa meraba dengan jelas kondisi tokoh-tokoh dalam cerita. Divakaruni tidak jelas-jelas menghindari kata sifat dalam menyajikan cerita, tetapi ia tahu bagaimana memakainya dalam porsi yang cukup sampai aku sendiri kesulitan menandai kapan ia menggunakannya.

Hal yang terburuk dalam menulis adalah menampilkan kata sifat, beberapa penulis kelas dunia bahkan menghindarinya sebagaimana orang-orang menghindar dari penyakit menular. Konon katanya pemakaian kata sifat adalah bentuk keputusasaan penulis dalam menggambarkan apa yang disaksikan. Adjektiva seperti cantik, indah, menarik, tinggi, besar, keren, kesemuanya bersifat subjektif. Ketika penulis mengatakan perempuan itu cantik, anggapan itu belum tentu disetujui pembaca. Divakaruni berhasil menghindari hal-hal semacam itu dan menggambarkannya dengan metafora yang tepat. Mungkin sebagaimana mengasah kemampuan di satu jurus andalan, Divakaruni berhasil melakukan dalam keahlian menampilkan metafora.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *