cerita ceriti,  my little angels,  my world

November 30th Funniest Disaster (no.. no more, Kiddos!)

Sebenarnya niat menyalakan laptop malam ini tak lain adalah untuk menyelesaikan sebuah worksheet lagi untuk anak-anak kelas 9. Namun, tiba di rumah tadi sore, aku disambut dengan senyum Akib dan Biyya plus celoteh mereka berdua setelah dijemput ayahnya tadi siang. Aksi kedua bocil ini membuat fokusku hilang sekejap mata. Akhirnya laptop disimpan untuk sementara waktu.  Aku langsung  saja menyiapkan makan malam sambil melayani celotehan kedua kakak adik itu, sementara si Baby Faza sudah tidur.

ab6a0af3a26efc4290478714140d9f66

Ah, Akib Biyya! Akur-akurannya memang nggak pakai lama. Entah apa asal mulanya, Biyya jadi sebal pada Akib. Akib juga semakin menjadi-jadi menggoda Biyya. Magrib menjelang dan seperti biasa, kami salat berjemaah di rumah. Biyya masih dengan seonggok kesalnya, masbuk satu rakaat. Akib juga bakda salam masih juga mengomentari Biyya yang arah manik matanya tidak ke tempat sujud. Padahal tadi aku sudah bilang, “Ayo, Biyya… pergi wudu terus supaya setannya pergi, marahnya reda.”

Ayah dan Bunda tidak begitu menggubris sengketa yang tak jelas asal mulanya, sepertinya tadi tidaklah seserius itu, hanya karena salah gambar dan buku Biyya sobek sedikit, Biyya tidak terima, Akib juga ogah minta maaf. Kami juga tidak memaksa salah satunya minta maaf, tapi tetap bilang hal seperti itu jangan dibesar-besarkan Biyya. Akib kalau memang tidak sengaja sebaiknya dijelaskan ke Biyya.

Nah, bagus kalau ada yang minta maaf dan yang lainnya mau memaafkan, tapi lebih sering keduanya bersikeras tidak ada yang mau mengalah apalagi minta maaf.

Usai salat, kami ada tausiah dan sedikit diskusi. Biyya yang masih kesal ikut dengan tertib termasuk mengaji, mengambil buku iqra-nya dan mengulang setengah halaman. Akib justru melendot di sampingku sambil mendengarkan  bacaan Qur’an bundanya supaya dapat rahmat.

Dia ngeles tidak mengaji, tapi inginnya menyimak saja. Malam ini Akib berhasil mengelak karena sudah waktunya makan malam. Masih dengan berdebat hal yang tidak penting di meja makan, Ayah minta Akib dan Biyya lebih tenang. Acara makan berlangsung lancar dan khidmat. Kecuali Akib yang tidak menghabiskan nasinya sekitar tiga suap. Di meja makan si ayah ada panggilan juga, teman kerjanya, Pak Ballah, memberi kabar akan bertandang ke rumah sekejap. Memang sulit melepaskan telepon selular kalau sudah mulai ada panggilan tiba-tiba.

Ayah balik lagi bergabung ke meja makan tapi dengan si seksi tadi, penarik perhatian nomor satu. Si telepon genggam. Tema obrolan entah ke mana-mana. Sejauh ini situasi under control. Bunda menegur kuku Akib yang mulai panjang. Sementara itu, Biyya yang hobi sekali menggunting kuku, berinisiatif lebih dulu mencari penjepit kuku. Nah, iniah muasal perkara besar malam ini.

Ya, benar kita punya beberapa penjepit kuku dengan berbagai ukuran. Hanya satu yang masih baru, mengilat, tajam dan jadi favorit. Biyya yang sepertinya sejak tadi masih ‘belum terurai’ perasaannya, mulai lagi membuat Akib kesal. Akib juga sudah mengantre jepit kuku favorit tadi. Selain membuat lama proses pemotongan kuku tangannya, Biyya mulai lebai ingin memendekkan lagi kuku kakinya. Pada dasarnya itu tidak begitu urgen. Bisa dilihat dari kuku kakinya yang masih pendek dan bersih. Ada saja cara Biyya supaya penjepit kuku itu tetap  di tangannya. Ini si abang yang sejak awal juga semakin besar kesalnya dengan si adik. Pecahlah perang suara.

“Sssttt… Dek Faza bobok, Sayang, jangan ribut. Ayo kakak adik harus sayang-sayangan…” cara persuasif dilaksanakan, karena kalau larangan jangan berantem akan semakin memantik perselisihan.

Mulailah saling mengeluh tidak suka abang yang begini, tidak suka adik yang begitu. Suara naik sekian oktaf. Seperti biasa si bunda minta tolong ke ayah untuk menggondol kakak adik ini ke teras supaya mereka bisa melanjutkan adu mulut dengan adu jotos sekalian tanpa mengganggu kami seisi rumah yang butuh ketenangan.

“Ayah, tolong angkat Akib, Bunda gendong Biyya ke luar!” ini klimaks.

Gendongan yang tidak dirindukan keduanya adalah saat ini. Biyya yang fisiknya lebih terlatih dibanding Akib, tentu saja bunda urus duluan. Langsung, deh, dia ngacir sambil bilang kalau mereka sudah akur. Akib demi melihat penjepit kuku yang tergeletak langsung memungut dan mulai memotong kukunya sambil menyalah-nyalahkan Biyya yang memulai keributan ini. Melihat gelagat Akib yang belum bisa berdamai, bunda masih usaha menangkap Biyya yang ternyata cukup licin seperti lele–berhubung si bunda belum pernah nangkap belut, baru kaliber ikan lele–sungguh Biyya sulit dicekal.

Dia juga mahir mencari tempat yang membuat proses ini beribet. Di seputaran meja makan, kami berputar mengitarinya. Bunda harus mengeluarkan sedikit jurus Harimau Menepis apalah gitu, untuk bisa mencengkeram gadis yang rutin main pencak silat setiap minggu itu. Lengannya dapat, mulai bunda apit kedua kakinya supaya lebih nyaman. Eh Biyya-nya malah meronta jadi kaki satunya lagi terjuntai. Bunda hanya memegangi satu lengan satu kaki. Jarak meja makan ke pintu keluar sekitar sepuluh langkah, supaya Biyya tidak sakit, Bunda singkat dengan berlari.

Ayah siaga dengan Akib, tapi lebih cekatan bunda lagi. Penjepit kuku terlepas dari tangan Akib, aku tarik Akib ke luar. Akib dan Biyya sudah di teras dan pintu bunda kunci. Histeria Akib yang tidak suka dikunci di luar, ia mulai menggedor sampai Faza terganggu tidurnya. Bunda mengurus Faza, Ayah keluar mengurus Akib dan Biyya. Untuk menenangkan Akib ayah berikan satu gertakan di kaki Akib. Ayah juga menantang Biyya dan Akib adu jotos di teras. Dihadapkan berdua untuk selesaikan sengketa, habis-habisin kesal. Mereka cuma gagu, menangis keduanya. Ayah mulai pidato Akib masih belum bisa menstabilkan emosinya. Matanya masih menyala, Biyya mulai menyesal dengan apa yang terjadi dan mereka harus berakhir di teras rumah menjelang isya. Ayah melanjutkan pidato sambil nggak mau rugi waktu. Hehe…

Ayah berpidato sambil kasih pakan kelinci dan isi penuh dot mereka semua. Di teras ada tumpukan daun Indigofera, di samping itu Akib dan Biyya duduk bersandar ke dinding. Pidato ayah terus berlanjut. Bunda tidak tahu lagi apa kejadian, tapi dari dalam terdengar suara pidato ayah saja. Hahaha…

Terdengar Akib mengulang hafalan doa iftitah, bergantian dengan Biyya. Di sekolah mereka diajarkan doa iftitah Allaahuakbar kabira… sementara di rumah kita juga menghafal yang lebih singkat Allahumma ba’id… Biyya antusias. Laporan terkini dari ayah, Biyya tadi mencoba tenang, dewasa dan mencairkan suasana. Akib masih dengan amarah membara dan tidak terima. Faza minum dan minta makan, karena memang belum sempat makan malam tadi langsung tidur. Setelah selesai bunda elus punggungnya dan Faza melanjutkan tidur lagi.  Bunda wudhu dan memakai mukena, lalu beranjak ke teras. Meihat ayah sedang mempreteli daun indigo dari tangkainya. Akib dan Biyya masih bersandar dengan kaki ditekuk. Keduanya memeluk kaki dan bersandar ke dinding. Terenyuh hati bunda menyaksikannya.

“Gimana kalian berdua?” aku tanya Akib yang langsung menoleh dengan mata yang memerah.

“Kami udah baikan,” katanya memelas.

Sekilas aku bertanya, kenapa hanya menatap Ayah yang sedang menyiangi pakan kelinci, bukannya ikut membantu. Akhir cerita aku suruh keduanya masuk, sebeum tidur mereka ambil wudhu dan salat Isya. Bada isya Biyya masih dengan hafalan doa iftitah dan meminta buku berisikan doa tersebut. Ia keluar lagi memamerkan buku itu ke ayah. Malah minta menyetor lagi nanti. Biyya … Biyya…

ignore-them

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya: Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Bisa dihubungi melalui surel medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *