my world

Pantai Gosong Telaga, Riwayatmu Kini

Aku sempat mengabadikan di sebuah foto setahun silam di mana bibir pantai Gosong Telaga dihiasi segala jenis sampah berserakan. Tahun ini masih belum ada perubahan, pun kesadaran para pengunjung atau pengelola tempat wisata di Aceh Singkil tersebut. Aku tak tahu ada pihak pengelola atau tidak, tapi setahuku setiap akan memasuki gerbang pantai, ada yang memberikan karcis,  menagih biaya masuk dan parkir untuk satu sepeda motor,  kami dikenakan total biaya Rp.5000. Setelah kami memarkirkan sepeda motor, saat akan pulang juga masih ditarik biaya parkir oleh orang lain lagi dengan tarif Rp.2000. Mantap!

Foto lebaran Idulfitri tahun lalu (1438 H)

Hari ini seperti tahun kemarin, kami kembali ke pantai Gosong Telaga. Pantai pasir hitam ini objek wisata terdekat yang bisa kami tempuh dari kediaman keluarga besar di Gunung Lagan. Berencana berangkat pukul 07.00 WIB dan molor hingga setengah jam, akhirnya kami tiba sekitar pukul 08.00 WIB. Pantai masih sepi tapi pondok-pondok penjual kuliner sederhana sudah mulai buka.

Abang iparku memilih tempat langganan keluarga kecilnya di pojokan paling kanan. Tempatnya cukup teduh, tapi sayang sekali sampah-sampah walau dengan segala daya upaya pemilik pondok itu membersihkan, masih kentara sekali liarnya para pembuang sampah sembarangan yang datang ke pantai ini.

Sebelum duduk bersantai, kami akhirnya berinisiatif membersihkan sekeliling tempat kami duduk. Persis seperti tahun sebelumnya, tak ada perubahan berarti. Sampah plastik mendominasi, mulai dari plastik siomay, wadah cup air mineral, botol air mineral, plastik makanan ringan, hingga tusuk sate yang sempat membuat kaki Faza, bungsu kami, terluka.

Aku belum tahu bagaimana cara menggugah kesadaran masyarakat setempat. Hal kecil yang barangkali belum terasa artinya hanya mencoba menuliskan keprihatinan ini dan setiap mengunjungi Gosong Telaga kami sekeluarga melaksanakan ‘ritual’ bersih-bersih sampah terlebih dahulu.

Ini memang terdengar menyedihkan, satu-satunya objek wisata paling ramai dikunjungi saat hari-hari libur adalah pantai Gosong Telaga, tapi tempat ini pula yang menjadi kawasan serupa TPA di Aceh Singkil.

Di diskusi-diskusi keluarga, kerabat, dan teman-teman yang bisa saja salah dua atau tiga dari mereka cukup dekat dengan para pemegang kebijakan, tapi kabarnya hal ini belum lagi mengusik mereka hingga membuat kebijakan-kebijakan tegas bagi yang memiliki andil dalam memperburuk keadaan.

bersih-bersih pantai dimulai

Pada dasarnya, sampah yang kita bawa sendiri tidak lah menggunung sebagaimana keadaan yang terlihat dari hasil akumulasi sampah yang dibuat per individu. Apa salahnya setiap orang bertanggung jawab pada sampahnya masing-masing.

Sangking kesalnya, kurasa aku ingin memesan sebuah spanduk untuk ditempel di sana dengan redaksi yang sama liarnya dengan kelakuan para pembuang sampah. Misalnya bertulskan “Selain b*bi dilarang buang sampah di sini”, tapi Kakakku mengatakan aku keterlaluan. Bagaimana kalau bagian sini diboikot oleh para pengunjung. “Kasihan ibu penjual itu,” kilahnya.

Semoga permasalahan ini segera mendapatkan solusi konkret, sayang sekali kalau persoalan sebesar ini masih luput dari perhatian kita semua.

Paling tidak, pengunjung bisa menikmati suasana pantai tanpa terluka atau terganggu pemandangan seperti pantai-pantai di seputaran Aceh Besar dan Banda Aceh.

Pantai Lampuuk

 

 

 

 

 

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *