cerita ceriti,  my world,  Self reminder

Pertemuan, Senja, dan Barista

“Kalau kau tidak disibukkan dengan kebaikan, maka kau akan disibukkan dengan keburukan” -anonym-

Seketika lelah dan sakit menguap, barangkali ini yang disebut ‘energi positif’. Bertemu dengan niat dan rencana positif, semoga berdampak baik pula, berdayaguna yang kelihatannya buat orang lain, tapi sesungguhnya apa yang kita tanam adalah untuk kita semai kelak.

Ada yang familier dengan lokasi ini? Walau sudah sering lewat dan datang ke pusat lokasi SOS Village, Lamreung, Aceh Besar, tapi ke Rumoh Agam baru masuk kali ini, sih. Kalau lewat tentu pernah beberapa kali sekadar melintasi jalanan di depan rumah ini.

Ketika sampai di pintu pagar, suasana tampak segar dan menyenangkan walau sore. Cahaya jingga mentari berkilau keemasan. Aku sudah membuat janji dengan Fara dan Pak Aris untuk duduk sore ini. Karena memang sudah waktunya kumpul keluarga, aku tak segan meminta izin membawa semua anggota keluarga ke pertemuan nonformal ini. Ah, bukan kebetulan kan kalau suamiku jauuuh lebih karib dengan Pak Aris, sang Leader anak-anak di Rumoeh Agam. Sebagai social worker, jejaring keberkahan semacam ini memang kerap mengejutkan, tapi saking seringnya kejadian seperti ini tidak lagi membuat kaget. What a small world! Tentu saja bersyukur selalu bisa berada dalam lingkaran orang-orang baik dan diberi kesempatan bertemu lagi dan lagi oleh Allah.

Sore ini bukan pertemuan mendadak, tapi memang sudah sejak akhir tahun lalu kita ingin bersinergi dan berbagi mengenai pengalaman belajar menulis untuk anak-anak di Rumoh Agam. Bersyukur sekali Allah memberikan kesempatan hari ini untuk membincangkan lebih detail lagi. Ini akan terus dikolaborasikan dengan teknologi Blockchain yang membuat belajar menulis menjadi plus plus.

Begitu sampai di taman yang berada di tengah Rumoh Agam, kami dapati Pak Aris, sang Barista, sudah berjalan menuju bangku kayu lengkap dengan sebaki perlengkapan membuat kopi. Ia terlihat repot tapi bersinar bahagia.

“Pak Aris! Wah, Barista langsung beraksi ini!” sapa suamiku setelah di depan tadi mengucapkan salam kepada anak-anak, lalu duduk di sebelah Fara.

Senja itu kami menyeruput kopi yang aroma dan rasanya luar biasa. Lalu lanjut ke percakapan lepas kangen dan inti pertemuan kali ini.

Kita akan memulainya dari hal yang sederhana, berharap ke depan Allah menjaga komitmen kita semua dan kegiatan belajar menulis ini bermanfaat untuk orang banyak, terutama bagi anak-anak di Rumoh Agam dan para stafnya. Mengenai waktu untuk saat ini fleksibel saja, kita akan mengadakan kelas menulis setiap tiga kali sebulan dengan tanggal dan waktu yang disepakati dua atau tiga hari menjelang kelas, mengingat masih ada empat amanah yang sama dengan lokasi yang cukup berjauhan, lalu kapasitas gerakku yang masih tergantung sekali dengan mobilitas suami. Kalau masalah kesehatan, mohon didoakan semoga Allah senantiasa menjaga dan menganugerahiku kesehatan dan usia yang berkah. Aamiin.

#learning #charity #writingclass

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, dan Faza. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *