my world,  Resensi

Petualangan Awal Tahun: Berkeliling di Tiga Benua

Tiga hari ini di sela-sela mengedit dua buku, aku ditemani buku Studi di Tiga Benua yang ditulis Rosaria Indah atau yang akrab disapa Kak Oca. Benar-benar menghibur, tapi tetap inspiratif. Bahkan so inspiring! Membaca ini seperti mengobrol dengan Kak Oca–yang sudah lama kurencanakan, tapi belum pernah sempat aku lakukan karena saking pemalunya, eh—penyebab sebenarnya adalah bertemu Kak Oca juga saat beliau sibuk mengisi materi dan jadi pembicara.

Ada beberapa bagian yang sangat membuatku terkesan dan ingin menceritakan kembali sembari senyum-senyum sendiri. Aku jadi teringat sosok Abak yang sangat humoris kalau membaca interaksi Kak Oca dengan supervisornya. Ada saja ‘kengeyelan’ tertentu yang tidak segan diungkapkan dan mau tak mau membuat lawan bicaranya, alih-alih marah, justru tersembur tawanya.

Tentu banyak sekali yang dialami ketika merantau di tiga benua dan paling banyak diceritakan di buku ini saat berjuang meraih Ph.D., saat liburan Ramadan di bab Muslimah Palugada, aku bisa membayangkan betapa kikuknya Kak Oca saat bertemu pelanggan berkebangsaan Lebanon tajir-diceritakan di sana perjuangan mencari income tambahan, dan muslimah palugada itu ternyata berarti: apa yang lu butuh gue ada—aku terkekeh berkali-kali dengan istilah ini. Padahal dulu sudah pernah mendengar akronim plesetan ini. Kejadian tersebut (maaf spoiler) hanya karena sudah berlalu bisa diceritakan selucu dan seasyik itu. Terima kasih, bagian ini paling menghibur.

Di bab lain saat Kak Oca menceritakan gagal berangkat mengambil pendidikan doktoral, ingin sekali ikut memeluk langsung, walau terlalu telat, ya. Di bab yang sama ketika menceritakan sosok murabbiyah yang layak jadi panutan, aku begitu terenyuh. Memang kisah-kisah di dalamnya aneka rasa; malah bisa dibuat tetralogi seperti Uda A. Fuadi kalau ingin diadaptasi ke novel fiksi. Karena konfliknya dapat, petualangannya pun kelewat asyik untuk dinikmati. Ada juga bagian yang lagi-lagi aku ingin menghaturkan ucapan empati dalam, yaitu saat Kak Oca harus bertemu psikolog. Tindakan tepat dan aku jadi ikut berkaca dan aware mengenai kesehatan mental; jangan malu meminta pertolongan ahli.

Saat Kak Oca menghadirkan suasana kampus dan kota Sydney, aku merasa kembali ke zaman MTs dulu, saat suka-sukanya membaca Pingkan, Sehangat Mentari Musim Semi karya Teh Imun. Jadi ingin mengejar cita-cita yang dulu. Dulu pernah sempat hunting scholarship, terutama AAS-walau Kak Oca ke Sydney dengan beasiswa LPDP, sih- tapi karena Oz, jadi ingatanku langsung terpaku ke beasiswa AAS.

Yah, aku termasuk telat membaca buku ini, tapi aku jadi senang awal tahun Allah malah mengarahkan untuk membaca buku ini, jadi muncul perasaan optimistis. Jadi sebenarnya, tahun lalu aku memilih membaca buku-buku suram demi keperluan untuk belajar teknis penulisan, tapi dampaknya juga ada, sih, kadang ada bisikan-bisikan pesimistis yang sulit kuhindari.

Kesimpulannya, aku jadi mengawali tahun dengan bahagia dan bisa memutuskan buku apa saja yang bisa masuk reading list tahun ini. Semoga kita semua sehat-sehat, ya!

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *