cerita ceriti

Rahasia Kelezatan Mi Aceh

Sudah lama ingin makan mi. Hm, padahal nongkrong di mana-mana sambil pesan kopi seringkali aroma bumbu mi goreng yang sedang ditumis membuat mulut otomatis berujar, “Bang, mi goreng basah, satu, ya!”

Namun, kali ini asli sudah sebulan lebih sepertinya nongkrong hanya untuk sekadar menyeruput sanger. Kalau di warkop-warkop Aceh, jangan tanya ada mi Aceh atau tidak, lebih jitu itu pesan mi goreng biasa atau mi goreng basah. Mau yang biasa atau yang berkuah. Titik.

Mi goreng basah favoritku!
Mi goreng biasa. Captured by: Hayatullah Pasee

Nah, sudah menitik air ludah? Belum lah ya? Baiklah. Mi Aceh memang unik, walau sampai ada produsen mi instan populer yang akhirnya melabeli salah satu produknya dengan mi Aceh, kekhasan mi Aceh tak akan mungkin tertandingi. Malah tempo hari temanku misuh-misuh akibat kecele mi yang dilabeli mi Aceh tadi ternyata sangat jauh dari ekspektasinya sebagai orang Aceh yang sudah merantau lama ke pulau lain, lalu sangat merindukan rasa mi Aceh, rasanya benar-benar beda, akunya.

Waaaaw, prihatin… beneran sedih bacanya, karena kalau sudah ‘hawa mi Aceh’, aku sendiri tahu bagaimana rasa yang berkecamuk dalam dada. Itu adalah rasa yang pernah ada. Yaelaaaaa, ngomongin apa, sih? Hahaha

Intinya menderita, deh, kalau akhirnya tidak kesampaian saat sedang ingin-inginnya makan mi Aceh.

Sumber foto: www.kabarin.co

Apa rahasia kelezatan mi Aceh? Tentu saja bisa ditebak, yaitu dari keistimewaan bumbunya. Memangnya pakai apa saja, sih, kok sampai membuat rasa kita tak bisa move on?

Yuk, kita kulik dari mulai bahan utama:

200 gr mi kuning basah,
75 gr daging sapi tenderloin, potong dadu
150 gr udang, sisihkan kulit dan kepalanya,
4 siung bawang putih, iris tipis
3 butir bawang merah, iris tipis
1 buah tomat, potong kasar
200ml air
50 gr taoge
2 sdm kecap asin
½ sdt garam
1 sdt gula pasir
½ sdt cuka masak
4 sdm minyak sayur
1 batang daun bawang, iris tipis
1 sdm bawang merah goreng
2 iris jeruk nipis

Paling penting itu bumbu halusnya, karena letak kenikmatan rahasianya ada di sini, tapi ada baiknya kuberitahu bahwa aroma khasnya itu bisa saja berasal dari kaldu udang. Mau tahu cara membuatnya?

Begini caranya: kulit dan kepala udang dibuat kaldu dengan cara dicuci bersih dan merebusnya dengan 250 ml air, setelah mendidih kecilkan dan lanjut merebus hingga 5 menit. Tiriskan untuk diambil kaldunya. Kalau almarhum Mama mertuaku, untuk menguatkan rasa udangnya, seringkali kulihat ia memblender rebusan ini hingga halus dan menggunakannya sebagai kaldu.

Baiklah, untuk bumbu halusnya, yaitu:

6 butir bawang merah
4 siung bawang putih
1 buah kapulaga
2 buah kemiri sangrai
5 buah cabai merah besar
5 buah cabai rawit
1 ½ sdm kari bubuk India
¼ sdt jintan
½ sdt lada putih bubuk

Untuk melengkapi mi Aceh ini, selain kerupuk muling atau melinjo, kita kudu menambahkan  cabe rawit bulat dan acar. Simak beberapa bahan pembuat acar:

1 buah mentimun, buang biji dan potong dadu,
5 butir bawang merah, iris tipis,
1 sdt gula pasir,
1 sdt cuka masak,
½ sdt garam.

Nah,  sekarang mulai memasak, nih, caranya:
1. Haluskan bumbunya boleh pakai blender ataupun cobek

2. Kemudian panaskan wajan, masukkan minyak goreng, setelah minyak panas, masukkan bawang putih dan merah yang sudah diiris, bumbu halus, daging sapi, dan udang, tambahkan kaldu udang dan masak hingga harum dan kuah menjadi kental.

3. Masukkan mi yang sudah dicuci dan ditiriskan.

4. Masukkan toge jangan sampai over cooked.

5. Cicipi rasanya, sesuaikan dengan selera, ingin ditambahkan garam misalnya.

6. Tata mi di atas piring yang sudah dilapisi daun pisang, tambahkan bumbu pelengkap seperti acar, irisan jeruk nipis, dan kerupuk muling.

Rasa gurih bisa disesuaikan seperti menambahkan cumi atau kepiting sesuai selera.

Nah, kalau ada yang bilang ada bumbu istimewa tambahan seperti biji ganja, aku sendiri tidak pernah tahu, sih, sebagai orang yang lahir dan besar di Aceh hingga hari ini belum pernah tuh, melihatnya ditambahkan dalam resep mi Aceh.

Kalau sedang repot, tapi lagi ingin banget masak mi Aceh, aku biasanya tinggal ke pasar Lambaro atau Peunayong (rumahku lebih dekat ke pasar induk Lambaro), di tempat penjual mi, biasanya mereka menyediakan bumbunya juga sudah dibungkus dalam plastik dan bisa kubawa pulang hanya dengan Rp.5000 bisa buat makan mi Aceh setengah kilo sepuas-puasnya!

Sumber foto: imaskasurakarta.blogspot.com

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, dan Faza. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *