Just My Opinion,  my world,  Self reminder

Ramadhan, Momen Meningkatkan Produktivitas dan Melenyapkan Rasa Malas*

Ramadhan dinanti kehadirannya setiap tahun oleh setiap muslim dan muslimat. Bulan penuh rahmat, berkah, ampunan, dan bisa jadi masa libur panjang di beberapa instansi pendidikan tertentu. Paling tidak, kalaupun rutinitas tetap berlanjut di Ramadhan, secara ritmis akan lebih lambat dan singkat, terutama pagi hari. Saya memperhatikan dari tahun ke tahun, dari satu pemukiman ke pemukiman lain yang sempat saya tinggali beberapa tahun di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar, termasuk di kampung saya, Aceh Singkil, kehidupan pascasubuh di Ramadhan seperti terhenti secara otomatis. Geliat kehidupan benar-benar dimulai kembali pukul delapan atau sembilan pagi, tetapi sebelum itu kota terlihat mati.

Saya jadi teringat salah satu kisah yang menceritakan suasana pagi di Kairo bakda subuh di musim panas dalam novel Ayat-ayat Cinta Habiburrahman El-Shirazy, bahwa kebiasaan itu disindir para imam. Imam tersebut mengungkapkan, “Seandainya Israel menggempur Mesir pukul setengah tujuh pagi, maka mereka tidak akan mendapatkan perlawanan apa-apa, mereka akan dengan mudah memasuki kota Kairo dan membunuh penduduknya satu per satu, karena pada saat itu rakyat Mesir terlelap dalam tidurnya dan baru akan benar-benar bangun pukul sembilan”. Sindiran ini kemudian menjadi relevan untuk Aceh di kala Ramadhan.

Ramadhan bisa disebut sebagai momen dianjurkannya tidur selepas shalat Subuh, kalau tidak dikatakan diperbolehkan. Mungkin menggunakan kata bisa dimaklumi agak sedikit menurunkan kadar ekstrim bahwa tidur selepas shalat Subuh di kala Ramadhan seolah disunahkan dalam Islam. Apakah landasan hadis yang mengatakan bahwa orang yang berpuasa itu, tidurnya pun menjadi ibadah bisa melanggengkan kebiasaan tidur selepas subuh bahkan hingga pukul sepuluh atau dua belas siang?

Tadi saya sudah menyebutkan bisa dimaklumi barangkali buat beberapa individu yang memang mengisi malam Ramadhan-nya dengan iktikaf, tilawah, tarawih, tahajud, dan  tadarus Al-Qur’an sepanjang malam Ramadhan, tetapi bagaimana dengan orang yang malam-malam Ramadhan amalannya tidak lebih baik dari malam lainnya, hanya ada tambahan tarawih yang selesai sekitar pukul 21.30 WIB paling lama, padahal di malam lain dia juga biasa begadang hingga tengah malam. Apakah kebiasaan tidur dan tidak melakukan apa pun setelah shalat Subuh juga adalah hal wajar dikerjakan sepanjang Ramadhan? 

Saya kira ini hanya perihal kebiasaan dan pola pikir. Jika kita mengatur pikiran bahwa kita perlu tidur lebih cepat agar esok pagi bisa lekas berangkat ke kantor/ke sekolah atau sudah memiliki janji pukul enam atau tujuh pagi, tentunya kita akan berusaha melakukannya; yaitu tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi, lalu tidak tidur lagi karena harus bersiap pergi.

Begitu pula jika kita mengatur pikiran bahwa seorang muslim harus bangun sebelum azan Subuh dan memanfaatkan waktu paginya melakukan aktivitas produktif selain berzikir dan tilawah, mungkin pagi bisa diisi dengan berolahraga atau membaca. Kita bisa mengatur pikiran bahwa waktu subuh dan pagi adalah saat terbaik untuk melakukan banyak hal bermanfaat dan bisa meningkatkan kualitas diri dan kehidupan, terlebih lagi di bulan Ramadhan; bulan ketika tidur pun dinilai sebagai ibadah, apalagi jika kita melakukan aktivitas yang jauh lebih berfaedah daripada sekadar tidur. 

James Clear penulis buku Atomic Habits yang dikenal sebagai Pakar Kebiasaan (pakar habit) menegaskan bahwa kebiasaan adalah bunga majemuk dalam perbaikan diri. Kita perlu bersepakat lebih dulu apakah tidur pagi itu baik atau tidak. Apakah kebiasaan melakukan aktivitas produktif setelah shalat Subuh bagus untuk masa depan dan kesehatan kita, terlebih lagi sebagai seorang muslim, membiasakan kegiatan produktif di waktu subuh adalah keutamaan. Sebagaimana hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Thabrani: “Seusai shalat fajar (Subuh), janganlah kamu tidur sehingga melalaikan kamu untuk mencari rezeki”. Para ulama, sebagaimana diungkapkan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, sampai-sampai menempatkan hukum tidur sehabis subuh sebagai makruh. Makruh berarti hal itu kurang direkomendasikan, bahkan tidak direkomendasikan, sekalipun tidak terlarang.

Kalau memang pola pikir ini sudah ter-setting dalam kepala, kemudian menjadi motivasi yang jelas bagi kita untuk memulai kebiasaan baik, maka akan lebih mudah melakukannya. Istilahnya kita sudah menemukan big why, artinya kita harus memiliki alasan kuat terlebih dahulu untuk bisa melakukan sesuatu.

Kembali pada pernyataan James Clear tadi, bahwa ternyata sesungguhnya kebiasaan ini bisa menjadi bunga majemuk yang baik atau yang buruk. Sebuah kebiasaan bisa menjadi bunga majemuk positif jika ia bisa menjadi bunga majemuk yang produktif dan meningkatkan pengetahuan, sebaliknya bisa menjadi negatif jika ia bisa menjadi bunga majemuk yang membuat stres dan pikiran buruk. Memanfaatkan waktu subuh dengan kesadaran penuh menurut saya adalah bunga majemuk positif.

Tulisan ini telah tayang di Harian Serambi Indonesia edisi 1 April 2023.

Lalu, apakah tidur di luar jam rutin tidur malam tidak diperbolehkan? Tentu bukan ini pokok pembahasan saya. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Rasulullah menyarankan tidur siang yang dalam hadis disebut dengan qailulah, yaitu tidur yang dilakukan sebentar di siang hari di antara pukul 11.00-14.00. Qailulah dianjurkan oleh nabi dan secara kesehatan sangat baik untuk menjaga vitalitas tubuh. “Istirahat sianglah (qailulah), sesungguhnya setan-setan tidak melakukan qailulah” (HR. Abu Nu’aim).

Menurut saya, kita bisa mengatur waktu atau keinginan tidur bakda subuh menjadi tidur 15 atau 20 menit di waktu duha atau bakda zuhur. Kita bisa memilih di antara dua opsi tersebut dan jika di kedua waktu itu adalah jam kerja, kita bisa tetap memilih opsi pertama yang lebih wajar, yaitu tidur lebih awal di malam hari. Namun, jika memang kondisi mengharuskan seseorang harus mengambil waktu tidur di pagi hari karena menjaga vitalitas kerja dan tidak memungkinkan baginya untuk tidur di waktu lain yang disarankan, hukumnya tentu sudah berbeda dan hal ini di luar konteks pembahasan saya.

Ramadhan semestinya bisa menjadi momen menempa kebiasaan baik untuk 11 bulan ke depan. Meningkatkan produktivitas dan melenyapkan rasa malas. Mungkin kita melihat banyak orang yang tetap bermalas-malasan di pagi hari tetapi dia tak punya permasalahan keuangan, toh, rezeki sudah ada yang mengatur, atau untuk apa tergesa-gesa saat pagi–sebenarnya bukan tergesa, tetapi menyegerakan beraktivitas produktif dan itu adalah dua hal yang berbeda–toh, tidak ada pembeli jika toko dibuka selepas shalat Subuh, orang-orang masih tidur karena semalam nongkrong di warkop hingga larut. Tetapi yakinlah bahwa membangun kebiasaan baik dengan tetap terjaga selepas subuh akan berdampak besar dalam meningkatkan kualitas hidup dan kebahagiaan di masa yang akan datang. Apalagi sebagai seorang muslim, kita telah pula dijanjikan keberkahan ketika pagi.   

Begitu pula dengan menyegerakan tidur malam. Jika kita pekerja paruh waktu yang memerlukan kerja di waktu-waktu tenang seperti tengah malam, ambillah waktu tidur secukupnya setelah waktu isya dan bangun kembali sepertiga malam. Semoga kebiasaan-kebiasaan kecil yang kelak berdampak besar itu mampu kita mulai di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Bulan latihan fisik sekaligus rohaniah bagi para muslim dan muslimat.[]

*penulis adalah pegiat Forum Lingkar Pena Aceh dan tenaga pengajar di Pesantren Baitul Arqam Sibreh. Surel:

kawakib.shabiyya@gmail.com 

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya: Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Bisa dihubungi melalui surel medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *