cerita ceriti,  disleksia,  edukasi,  my world,  Parenting,  Self reminder

Sebuah Cerita Lama yang Menemukan Benang Merah Hari ini

Ini sebuah cerita tentang ibu yang tak lagi muda. Anak pertamanya disleksia (ini diagnosis dokter selama asesmen dan observasi berbulan-bulan) artinya ia punya kesulitan berbahasa ekspresif. Semestinya begitu. Sebagaimana ibunya yang memang merasa kesulitan di area bahasa dan matematika, ini bisa diturunkan secara genetik dan 50% memang dari ibu. Ditambah dengan riwayat kesehatan dan proses lahirnya bisa jadi faktor penyebab juga.

Namun diagnosis mengenai anak ini tegaknya tergolong terlambat di usia 10 tahun. Kenapa bisa terlambat? Qadarullah dia tidak mengalami kesulitan berbahasa ekspresif dan keterlambatan bicara (speech delay) dan bisa membaca di usia 6 tahun tanpa kesulitan yang berarti. Bahkan anak itu sangat menyukai buku, walaupun belakangan orang tuanya tahu dia tak sepenuhnya paham apa yang dibacanya. Itulah sebabnya orang tuanya tak menyangka dia seorang disleksik.

Sekali lagi, diagnosis anak ini terlambat, tapi tidak intervensinya. Ternyata walau tidak tahu teori yang muluk-muluk, hanya karena Allah yang menanamkan rasa suka ibunya pada buku, sejak usia 4 bulan dalam kandungan, ibunya suka sekali membacakan buku. Kadang ayahnya membacakan sesekali ketika waktunya sedang luang. Ibunya suka ‘hunting’ buku-buku anak sejak sebelum menikah karena jatuh cinta pada ilustrasi di buku-buku anak.

Ibunya memang suka menggambar dan bisa sedikit sedikit. Sejak kecil, si ibu suka didongengkan cerita oleh ayahnya, diberikan buku, dan suka mendengar kakek (yang sebenarnya adik nenek) bercerita tentang kisah-kisah nabi sewaktu kecil. Neneknya yang asli Minang pun suka sekali bercerita tentang masa-masa penjajahan Belanda hingga Jepang. Beberapa adalah kisah yang sangat heroik.

Membaca nyaring atau read aloud, yang ternyata dilakukan dengan metode-metode tertentu, juga berdasarkan penelitian evidance based alias punya landasan yang mumpuni, banyak membantu perkembangan bahasa anak dan bonding (ikatan) antara ibu dan anak. Membaca nyaring adalah hal yang sangaaaat sederhana dan mudah, tetapi punya dampak yang begitu besar.

Apalagi jika wawasan perbukuan orang tua pun luas, seiring dengan gemarnya seseorang berkarib dengan buku. Sekarang baru terdengar istilah BBB, buku bermutu baik. Dalam dua tahun ini pun perjenjangan buku Indonesia mulai diatur (kalau di LN sudah sejak lama sesuai dengan kemampuan baca di usia tertentu).

si ibu bersama pemustaka dan pegiat literasi dalam acara Gerakan Indonesia Membaca

Nah, ibu pengoleksi buku anak ini belum punya ilmunya, tapi tahu sedikit saja karena suka sekali mengoleksi buku-buku anak dari LN dan melihat ada kode-kode tertentu di buku anak. Sering sekali ada bacaan “early learning is vital!” dan learning atau belajar yang dimaksud tentunya bukan calistung.

Di setiap buku ada petunjuk orang tua, terutama di seri-seri tertentu. Seperti ‘Talk About’ terbitan Ladybird. Segala jenis buku dengan seri ‘talk about’ didesain untuk menstimulasi percakapan antara anak dan orang dewasa, meningkatkan kosakata, dalam kalimatnya disebutkan, “encourage the early growth of vocabulary“. Bahkan buku-buku dan aktivitas membaca nyaring ini bisa membantu perkembangan mental dan menunjukkan asal bunyi huruf dan kata. Bahkan di masa depannya akan menumbuhkan minat anak terhadap buku.

si ibu dengan teman-teman komunitas Read Aloud Banda Aceh (RABNA)

Si ibu hanya tahu secuil bahasan itu dari buku-buku anak yang dikoleksinya. Hanya Allah yang mampu menggerakkan semua ini, hingga anaknya yang menyandang disleksia, tampil sebagaimana dirinya yang unik tetapi tidak begitu tampak berbeda dengan anak-anak akademik lainnya.

Bagaimana jika anak tersebut ternyata menyukai hal-hal akademis? Pastinya membaca nyaring akan membuat ia tampil lebih cemerlang. Namun, dalam keluarga yang bukan berorientasi akademis tinggi seperti si ibu ini, hal tersebut begitu membahagiakan. Jika bukan karena pertolongan Allah, tidak mungkin rasanya mampu menjadi orang tua. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah itu buat si ibu ataupun si ayah dalam keluarga kecil ini. Semoga si ibu mampu mendidik anak-anak yang membawa manfaat bagi umat dan menyelesaikan amanah dan misinya di dunia ini.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya: Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Bisa dihubungi melalui surel medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *