my world,  Resensi

Sehari Bersama Besali (Sebuah Resensi)

Judul Buku : Besali

Penerbit : Laksana (2019)

Harga : Rp68.000

Jumlah halaman : 291

Buku ini tiba di hari-hari yang begitu ramai, hari-hari ketika kondisi memang sedang sehat dan tuntutan pekerjaan membutuhkan mobilitas tinggi, walau keadaan masih pandemi, kadang aku tiba di rumah jelang azan Magrib.

Kurir yang mengantar buku ini sampai menelepon beberapa kali, tapi aku baru mengeceknya ketika tiba di rumah. “Paketnya saya bawa pulang ya, Bu,” katanya melalui pesan Whatsapp. Aku minta maaf dan berjanji mengambilnya esok hari.

Biasanya buku yang tiba di hari-hari hectic harus bersabar hingga beberapa minggu, bahkan bulan, buku itu tergeletak di rak samping ranjang tidurku, tapi tidak untuk Besali, aku langsung membuka bungkus batik dan plastik wrapping-nya seketika buku itu sampai ke tanganku. Aku sudah membaca blurb dari penulisnya sebelum memesan Besali. Mbak Eni (Sabrina Ws) membuatku penasaran.

Lohita Sasi bungsu dari empat bersaudara, satu-satunya perempuan di keluarganya dan ia pula yang diamanahkan mengelola usaha bengkel besi Besali oleh ayahnya. Wasiat itu jelas tertulis dalam secarik kertas yang ditulis oleh ayahnya sebelum pergi untuk selamanya. Ayahnya sangat mengerti kecintaan Lohita pada membaca sehingga apa yang sangat penting disampaikan ayahnya dengan tulisan.

Walau memiliki karakter yang introver, Lohita mampu menyesuaikan diri di lembar baru kehidupannya sebagai yatim piatu yang mandiri, kepiawaian ayah ibunya menanamkan nilai-nilai prinsip hidup, membuat perempuan muda itu berjalan tegak melanjutkan hari-hari dengan berani. Menghadapi soalan pribadi dengan bekal intuisi dan keyakinan yang telah dibangun orang tuanya, juga menggerakkan Besali dengan bantuan Sapta, pekerja Besali yang dipercaya oleh ayahnya mampu kembali menghidupkan Besali. Besali bukan sekadar bengkel besi tua bagi Sapta, di sana dia ditempa menjadi pribadi Sapta yang sekarang. Setelah semua ujian hidup di masa kecilnya, sosok Pak Pande, ayah Lohita menjadi figur bapak sekaligus guru spiritualnya.

Lohita mengurus toko buku kesayangannya dan mengalami banyak hal di sana, dia yang awalnya merasa terpisah dari Besali mau tak mau mulai menyadari bahwa usaha turun temurun itu adalah hidupnya juga. Di toko buku yang bersebelahan dengan kedai kue milik sahabatnya, Kartika, Lohita seperti menemukan cinta. Itu yang dia rasakan ketika bertemu Rey, seorang pegawai bank di kotanya yang juga seorang pengarang. Rey kerap menyambangi toko buku Lohita dan menghiburnya ketika duka kehilangan ayah sempat meredupkan hari-hari Lohita.

Penulis tidak memainkan plot twist di sini, tidak ada punchline, walau mungkin bermaksud memberikan kejutan di belakang, itu tidak terlalu kena bagiku. Namun, lagi-lagi tak ada masalah. Cerita ini asyik dan tenang sebagaimana seting Pacitan yang disajikan oleh penulis dibuat detail agar pembaca ikut menyusuri jalan setapak, melintasi jembatan Grindulu Ploso, duduk sebentar menyesap es degan Mbak Etik atau mengais-ngais pasir di pantai Pidakan.

Kehadiran tokoh-tokohnya seperti digerakkan penulis mungkin agar pesan-pesan moral di novel ini tidak bergeser sedikit pun. Tentang adab pergaulan anak dan orang tua, pria dan wanita, hingga bertetangga dan hidup bermasyarakat.

Sekali lagi novel ini begitu tenang, aku sendiri bergiat membacanya setelah tiba di halaman 100-an. Sebelumnya begitu lama sampai alur terhubung dan konflik ditonjolkan. Bisa dibilang, aku menghabiskan jatah liburku di hari Jumat ini dengan Besali. Pukul setengah sebelas, aku membaca akhir cerita dan begitu merasa lega. Novel ini sama sekali tidak mengecewakan, atau mungkin beberapa bulan ini, aku terlalu banyak membaca cerita suram dan cerita kali ini datang pada waktu yang tepat.[]

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *