cerita ceriti,  my world

Selamat Ilang Tahun Eun yud

cieeee… ada yang lupa hari lahir suaminya sendiri.

Siapa?l

Aini!

Hah?

Iya Aini yang ngakunya romantis dan rada melankolis itu.

Hap! Hap! Lompat tinggi-tinggi. Sebenarnyaa hari itu aku nggak ingat tanggal. Ya, taulah hari senin dimana aku full mengisi jam noncurriculum subject di Baitul Arqam, senin biasanya hari paling hectic dalam seminggu. Tapi asli, aku lupa tanggal. Hadeeeuh.

“Bunda, Om hari ini ulang tahun?” Kata Naufal memastikan. Aku sedang bersiap berangkat dan merayu Faza untuk tinggal saja di rumah hari ini. Hujan terus-terusan turun. Faza juga sedang masa sapih jadi harus lebih sehat. Lalu istirahat di dalam rumah dengan cuaca seperti ini adalah pilihan terbaik. Toh Uncu juga tidak ada jam mengajar.

Aku sedikit terhenyak. “Hah, ini tanggal 17, ya? Oktober, ya?” Hahaha… sebentar lagi Eun yud mengantarku ke DPBA, aku belum memberi kode apapun. Memang terlihat sekali aku lupa hari istimewa ini.

Nah sebenarnya it’s all no problemo. Tahu kenapa aku jadi begini? Ya karena Eun yud bukan orang yang suka diingat ulang tahunnya, tapi aku kekeuh dengan kebiasaanku. Mengingat hari yang kuanggp istimewa sebagaimana kebanyakan perempuan-peremuan penyuka drama dan bacaan genre roman lainnya, buahhahahah.

Well, apa yang ingin dibahas lebih dulu? Sudut pandangku atau Eun yud?

Barangkali karena latar belakangku memang dari keluarga sederhana. Umak Abak tidak pernah sekalipun merayakan ulang tahun anak-anaknya. sesuatu yang kurasakan amat unik dan sebenarnya aku bangga juga kalau diingat hingga hari ini. Aku mulai tahu merayakan ultah saat bersama teman-teman SD dulu, atau bersama sepupu-sepupu ku yang ramainya hampir sekampung. Dari tontonan di televisi dan buku atau majalah yang kubaca, dari teman-teman yang keluarganya merayakan ulang tahun. That’s all.

Kesan yang kutangkap adalah menyenangkan, seru, dan terlihat apa ya… seperti sebentuk perhatian yang harus dibalas perhatian kembali. Pengikat batin dan betapa istimewanya itu hanya ada satu hari dalam setahun. Begitulah batinku hingga saat menikah dengan Eun yud yang notabene Mama dan keluarga intinya sangat mementingkan hari lahir. Mama selalu memasak sesuatu yang istimewa di hari lahir kelurga inti. Bahkan Eun yud masih punya foto ultah ke-6 kalau tidak salah. Lengkap dengan topi kerucut, balon-balon dan kue tart yang di atasnya ada lilinnya. Hihihi…

Tapi tetap saja penuh teka teki, Eun yud tidak suka perayaan ultah.

Tahun kedua di pernikahan kami, terjadilah sesuatu.

Jreng… jreng … jreng.

Miskomunikasi saat aku baru jadi Ibu beranak satu, lepas dari segala aktivitas publik dan full mengurusi domestik, then Eun yud tidak ingat hari ultahku tepat di pukul 24.01 21 Maret 2007.

Kalau diingat lagi kami tertawa, terutama aku akan membahas hal ini berjam-jam sambil menowel-nowel hidung Eun yud, mengacak-acak rambutnya dan kembali ia minta maaf. Maafnya itu semakin membuatku tak enak hati.

Saat itu, aku yang muntab, uring-uringan seperti anak TK sedang ngambeg. Memasak makan siang sambil berair mata. Dulu dan sampai hari ini semarah apapun tugas domestik tetap kuselesaikan. Eun yud pulang ke rumah untuk makan siang. Membawa pulang kado yang tidak dibungkus. Dua eksemplar buku, satunya novel Taj Mahal, Kisah Cinta Abadi yang ditulis John Shors. Sebenarnya itu ungkapan tak langsung yang sangat romantis. Tapi aku terlanjur sedih, aku pengennya tepat pukul 24.01 tapi ia malah ingat menjelang siang setelah pagi itu tentu saja Eun yud bingung kenapa istrinya yang paling manis mukanya sejagat menangis dan berubah jadi perempuan jadi-jadian yang matanya bengkak merah sampai ia pergi kerja.

Aku salah apa? Aku kudu piye? Itu barangkali jeritan batinnya. Selama kenal sebelum menikah aku pernah sekali mengucapkan selamat ulang tahun dan memberi kado topi pancing warna hijau navy untuk Eun yud. Itu sebelumnya aku ingat, Eun yud pernah memberi hadiah pena tinta untukku. Masa perkenalan dan beberapa lembar surat dengan kertas surat bergambar Dragon Ball menceritakan latar belakang keluarganya sedikit detail. Surat itu masih kusimpan sebagai bukti sejarah kalau-kalau di sini ada yang tidak mengakui pernah mengirimiku surat dengan kertas surat Son Go Ku. Buahahhahh # dijitak!

Dari sana barangkali aku berangkat dan menyimpulkan sendiri, membuat asumsi bahwa seorang Yudhi juga merasakan hal yang sama, hari lahir adalah sesuatu yang spesial. Jadi, tanpa penjelasan dan persamaan persepsi, aku ujug-ujug ngambek dan bilang hadiah itu sudah terlalu hambar karena hadir setelah aku menangis. Sontak jiwa mudanya juga bergolak, Eun yud merasa seperti tidak dihargai jerih payahnya. Siang itu ia yang kemudian bermuka muram lalu dengan segala yang ia redam, bertanya perlahan padaku. Sebenarnya apa yang adik inginkan, apa mungkin lupa hari lahir sampai sebegitunya?

Eun yud masih 25 tahun, aku dua tahun di bawahnya. Kami menikah muda sekali dengan kondisi yang jika dijabar di sini amatlah panjang. Tapi sekali lagi, menjadi tua itu pasti dan menjadi dewasa adalah pilihan. Kami berdua akhirnya memilih menjadi dewasa berdua. Sebenarnya cerita ini sudah pernah aku tulis juga dan barangkali sudah diposting di blog lama. Malah barangkali tersimpan di Axioo gamewatch-ku yang sudah rusak dan file-nya tidak lagi terselamatkan.

Eun yud menekankan bahwa kekecewaanku bukan murni karena ia telat ingat hari lahirku, tapi ada banyak sesuatu di balik itu. Sebuah akumulasi kekecewaan bahwa aku harus mengalah sepenuhnya mengemong anak dan berhenti dari segala aktivitas kampus, lalu di organisasi juga off untuk sementara. Pekerjaan domestik dibantu oleh Eun yud tanpa asisten lain, pekerjaan Eun yud yang belum bisa dibilang mapan dengan skripsi S1-nya yang masih keteteran. Apakah aku kecewa dengan semua itu?

Satu sisi aku semakin tersinggung karena berpikir ia sudah meragukan keteguhan hatiku plus meremehkan prinsipku mengenai hari istimewa. Di sisi lain aku juga merasa tertampar oleh sikapku yang begitu kekanakan.

Satu hari yang menjadi titik balik dan sejarah untuk rumah tangga kami, aku melukai Eun yud yang sedang babak belur dihantam gelombang ketidakpastian kuliah dan masa depan kami waktu itu. Sementara aku merengek dengan ego kekanakanku. Amatlah lucu.

Setelah hari itu betapa banyak dialog diantara kami. Aku membaca buku-buku yang dihadiahkannya. Ia tahu aku sukaaa sekali. Nonfiksi bergenre roman adalah favoritku, hiburanku di sela-sela tumpukan buku teks Mikrobiologi dan Farmakologi dulu. Walau mungkin bagi Eun yud itu menggelikan menggandrungi roman. Ia sendiri lebih suka menonton. Eh malah ia menonton film action dan syukurlah kami sama-sama menyukai  japanesse anime. Di antara seribu perbedaan kami, aku hanya mampu mengingat sekitar lima atau enam persamaan kami. Itu sudah cukup membuat kami saling menggilai satu sama lain.

“Adek lupa ya, Abang ulang tahun hari ini, pasti tadi sadarnya pas diingatin sama fesbuk kan?” Godanya sambil menembus rinai gerimis mengantarku ke DPBA.

“Aah nggak! Sueer bukan diingatin fesbuuk. Tapi kok bisa Abang berpikir Adek lupa…” ngeleees. Aku tidak bohong loh, ya. Aku diingatkan ponakan bukan Facebook. Haha

“Selama 10 tahun Adek nggak pernah lupa ngucapin selamat ulang tahun tepat di pukul 12 lewat dikit. Bela-belain nunggu dan bangunin Abang untuk jadi yang orang yang pertama bilang.”  Eun yud mengingatkan betapa ‘haha’-nya Si Bunda ini. Tapi aku takjub juga dia ingat kelakuanku selama ini.

“Nah, terus gimana tuh, kali ini beda?” Aku malah bertanya lagi.

“Yah, gak apa-apa…”

“Betulan gak apa-apa? Eh malah nungguin ya kali ini. Maaf yaa…” pintaku sekali lagi sambil berterus terang kalau aku sebenarnya diingatkan ponakan dan bukan karena lupa hari ulang tahunnya tapi lebih karena aku tidak ingat tanggal.

Berderailah tawa kami berdua. Persis seperti anak SMP kami cekikikan sambil menembus rinai gerimis-Halah kayak apa gitu- Lalu keluarlah gurauan faktor U dan lain sebagainya yang semakin membuat perut teraduk-aduk. Lucunya tingkah Ayah Bunda ini yang qadarullah selama nyaris 12 tahun kami selalu dikumpulkan oleh-Nya. Bahkan nyaris 1×24 jam, kami bekerjasama berbagi porsi peran yang sama besar. Aku sebagai Ibu Rumah Tangga sungguhan yang penuh waktu, ia pun Bapak Rumah Tangga sungguhan penuh waktu. Termasuk mencari penghasilan untuk mengepulkan asap dapur, kita tejtap berbagi peran.

Dulu Eun yud pernah bekerja kantoran beberapa tahun dan resign. Salah satu alasannya biar bisa membantuku mengurus dan mengasuh anak-anak. Kita punya waktu bekerja seumur hidup, anak-anak hanya punya satu kali masa kecil. Hal itu kerap diingatnya dan begitu terus ia dengungkan.

Memang resign-nya hari itu tidaklah murni karena hal yang di atas. Ayah mana pula yang bisa berdiri begitu yakin keluar dari tempat kerja sementara ia adalah tulang punggung rumah tangga? Tapi itu adalah salah satu motivasi terbesarnya dan keyakinan bahwa rejeki tidak akan tertukar itu nyata adanya. Hingga detik ini Allah Sang Maha Pemurah memberikan begitu banyak pertolongan-Nya.

Bersama kami bergandengan tangan, menikmati waktu bersama keluarga inti. Diskusi-diskusi mengenai pernikahan jarak jauh juga ada. Bagaimana kami mengatasinya, kemudian jika salah satu dari kami lebih dulu menghadap-Nya.

“Ya, kita usahakan berkumpul sampai anak-anak usia emasnya. Kalau bisa usia akil balighnya juga, semoga jarak kita masih serangkulan begini. Nah, kalau sekiranya nanti akan ada perubahan. Entah Ayah atau Bunda harus berjarak sementara waktu atau bahkan selamanya, ayo disaat bisa sebebas ini menikmati waktu, kita saling mengeratkan hati. Setiap momen dan detik harus berkualitas. Semoga bisa menjadi amunisi selama tinggal di dunia dan berkumpul lagi di surga-Nya.”
Berkali-kali kurapal “Aamiin”dalam hati.

Eun yud juga mengajar beberapa jam dalam seminggu. Ia mengalokasikan waktunya lebih banyak buat keluarga. Awalnya kita tidak lagi berpikir mengenai piknik kemana. Selain tidak suka perayaan ulang tahun, Ia juga tidak suka main air laut. Hal yang mengherankan juga bagiku dulu. Jadi aku harus ekstra sabar kalau merangkai kata dalam balutan piknik dan menyenangkan anak-anak. Sebenarnya susah, loh, mengajak Eun yud piknik outdoor. Kadang Ia lebih suka kita bikin home teather gitu. Gelut-gelutan di rumah sambil beli makanan segombreng. Ngajakin main arcade game  (Ini yang aku tentang dan akhirnya proposal buku per minggu diloloskan untuk menggantikan game).

Untuk sekarang aku kagum Ia mau berusaha main pasir, basah-basahan dengan anak-anak di pinggir pantai. Cebar-cebur di kolam renang. Kalau sedang ada rejeki melepaskan anak-anaknya ke wahana bermain. Kuliner, jangan tanya… Eun yud dan Akib punya lidah yang sangat fleksibel dengan segala aneka rasa dari seluruh dunia.

Buku-buku dan sarana belajar anak selalu diusahkannya, walau tahu sendiri kondisi finansial orangtua tipe kami ini tidaklah semulus keluarga lain yang pasti uang masuknya setiap bulan.

Untuk sekedar menapakkan jejak ingatan yang baru, akhirnya kami singgah di salah satu cafe sederhana untuk menikmati dua gelas minuman hangat dan dua piring mie seafood. Mengobrolkan banyak hal yang tidak bisa kubahas satu-satu di sini. Tidak lupa mie empat porsi untuk dibawa pulang dengan segera.

Ya, sebenarnya tulisan kali ini hanyalah sekedar napak tilas perjuangan seseorang yang gagah berani menjadi kapten bahtera di usia muda. Yang kemarin menginjakkan kakinya di angka 34 tahun. Ayah tiga orang anak yang semoga saja anak-anak ini kerap menyejukkan matahatimu. Penyeka peluh, pelumat gundahmu yang doanya mengalir seterusnya hingga kita keduanya tiada lagi di dunia.

Selamat ilang tahun Eun yud. Jatah satu tahun sudah menghilang lagi dan lagi setiap tahunnya

20140508_175550
edisi berdua saja. Untuk ayah dan bunda beranak tiga, saat berdua itu sangat berharga. hahaha

aini-n-eun-yud

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *