cerita ceriti

Sepotong Maaf

“Kenapa tak mencoba menghubungiku?”

Hm, kenapa ya? Entah…kurasa waktuku sudah tiba. Menanggalkan segala asa dan rasa padamu. Aku sudah lama menunggu saat seperti itu, di mana aku bisa lupa suaramu, senyum, dan segala hal tentangmu.

Aku tinggalkan kau tergugu sendiri di meja itu. Bersama secangkir kopi yang mulai terasa basi. Bagaimana mungkin aku sekonyol ini? Berkeliaran dengan santai di lokasi tempat kau biasa menghabiskan sore.

Namun aku jadi lega, bukankah berarti aku tak lagi terikat fobia tentang bagaimana nanti sekiranya bersobok denganmu secara tiba-tiba? Ya, aku jauh lebih merdeka beberapa hari ini, walaupun tidak untuk beberapa hari ke depan. Setelah sosokmu kembali terekam lensa mataku.

“Kupikir, aku tak akan pernah lagi bertemu denganmu. Mereka bilang kau sudah berangkat sebulan lalu. Ah, syukurlah masih sekadar pembekalan. Jadi aku masih punya kesempatan bertemu. Kau mengganti nomor kontak?”

Kamu benar-benar bersyukur di atas bencana yang kualami. Bertemu denganmu adalah hal yang harus disyukuri, tapi tidak untuk pertemuan kembali setelah semua ini terjadi. Seberapa kuat hati ini, mengingat lara yang kau lepohkan tempo hari.

Bagaimana setelah malam itu aku kembali ke kamar kost-ku dan menyasar fotomu di meja mungil kesayanganku. Memutuskan bersamamu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Jadi kuenyahkan fotomu di dalam folder-folder laptop dan ponselku.

Hari-hariku kemudian tak pernah semenderita itu. Mengenyahkan semua jejak tentangmu.

Loving can hurt, loving can hurt sometimes But it’s the only thing that I know When it gets hard, you know it can get hard sometimes It is the only thing makes us feel alive. We keep this love in a photograph. We made these memories for ourselves. Where our eyes are never closing. Hearts are never broken And time’s forever frozen still. So you can keep me Inside the pocket of your ripped jeans. Holding me closer ’til our eyes meet You won’t ever be alone, wait for me to come home. Loving can heal, loving can mend your soul And it’s the only thing that I know, know I swear it will get easier. Remember that with every piece of you . Hm, and it’s the only thing we take with us when we die. Hm, we keep this love in this photograph. We made these memories for ourselves. Where our eyes are never closing
Hearts were never broken
Times forever frozen still.

Bait-bait lirik Photograph Ed Sheeran membuat kepalaku berputar. Loving can hurt…loving can hurt sometimes…

Berkali-kali aku menyalahkan diriku sendiri, bukankah sebaiknya aku tak perlu terbawa seperti ini. Aku sendiri yang menciptakan rasa lara ini.

Aku tidak mengerti sama sekali. Aku hanya tahu sedang merasa terganggu. Lekas kuganti nomor kontakku selagi bisa. Tapi sebelum itu, aku membuka pesan di ponselku. Sebuah pesan suara masuk, aku mengunduhnya.

If you’re lost you can look and you will find me
Time after time
If you fall I will catch you, I’ll be waiting
Time after time

If you’re lost you can look and you will find me
Time after time
If you fall I will catch you, I’ll be waiting

Time after time
Time after time
Time after time
Time after time
Time after time
Time after time
Time after time
Time after

Siapa lagi yang gemar mengirim pesan suara yang berisikan lirik-lirik seperti ini.

“Hanna, maaf. Andai waktu bisa diputar kembali, kalau pun tidak, lalu kenapa kita tidak mencoba memulai dari awal?”

Namun sepotong maaf tidak mungkin hadir begitu saja.

Lyric source

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *