my world

Serendipiti!

“Sudah selesai hectic-nya?” Tanya Arju sambil meletakkan ponselnya di meja.

Dia memang suka datang tiba-tiba dan bertanya seperti tadi. Aku tak kaget lagi, tetap khidmat menyelesaikan bacaanku setengah halaman, kemudian berganti menatap sosoknya dengan selarik senyum.

“Hm, alhamdulillah sudah.” Jawabku sambil menutup The Chemist Stephanie Meyer yang sejak tadi menyita perhatianku.

“Malam ini ada event seru yang nggak bisa dilewatkan, aku sudah minta ijin Ibu kost kalian untuk keluar dengand Muhar sekalian, tapi kamu sendiri belum membalas pesanku.” Arju mulai duduk dan memberikan kode pada pramusaji, memesan secangkir kopi kesukaannya.

“Oh, itu… Iya maaf. Terlalu banyak pesan yang masuk. Haha… Oiya, mana Muhar?”

“Tidak ikut. Kusuruh nanti sore saja sekalian berkumpul jelang berangkat. Ini aku mau bertemu berdua dulu sama kamu.” Kata Arju sambil mengamati mataku dan mereka-reka apa yang sedang kupikirkan.

Ia tak akan pernah bisa menebakku kalau aku tidak bersuara. Air mukaku sudah begini sejak lahir, kata orang-orang jutek. Memang. Hanya Arju saat ini yang masih punya nyali berdekatan, mengobrol panjang, dan melakukan pekerjaan yang membutuhkan kerja tim bersamaku.

Seringkali aku tidak ingin diganggu kalau punya pekerjaan yang membutuhkan ketenangan dan karena aku bekerja sungguh-sungguh, jarang orang bisa mentolerir sikapku yang mengabaikan panggilan telpon, ajakan bertemu, dan semacam itu kalau sudah dikejar deadline. Orang yang tidak maklum barangkali tidak pernah merasakan hidup seperti aku. Arju mungkin juga tidak, tapi ia cukup kuat untuk terus bertahan.

“Silakan kalau ada yang mau dibilang, lagi pula sekarang kalau penting dan mendesak, kamu bisa telpon karena aku udah nggak begitu sibuk lagi.” Kataku menyilakan Arju dengan sungguh-sungguh.

“Hm, aku nggak tahu ini waktu yang tepat atau tidak, tapi jelas aku akan kehilangan kesempatan kalau tidak mengutarakannya saat ini.”

“Oh ya? Aku cukup fleksibel kok, silakan.” Aku terbiasa dengan kejutan dan apa pun kemungkinan-kemungkinan baru yang harus kuhadapi dalam hidup.

Aku kerap mengalami serendipiti dalam banyak hal. Terutama pelajaran-pelajaran hidup. Maka aku keras bukan karena aku merencanakan hidup seperti ini, tapi keadaan menempaku.

“Kamu tahu aku dan Muhar akan menikah. Bagaimana perasaanmu?”

“Perasaanku? Pardon, aku belum menangkap maksudmu…”

“Maksudku begini… Aku memang baru mengenalmu sejak kuliah. Kamu orang yang…hm, pintar. Ah, barangkali jenius. Kamu juga sudah dewasa dan terbilang berumur. Terus terang, kamu cantik. Maaf, aku … Aku heran dengan usiamu kini, kenapa kamu tidak menikah saja dulu dan jeda dari fokus pada pekerjaanmu? Aku melihat kamu terlalu cuek dengan sekitarmu. Mungkin kamu bisa jadi orang yang lebih terbuka, mungkin…atau jadi pribadi yang lebih luwes.” Pertanyaan yang penuh perhatian dari Arju.

“Arju yang baik, kau mengusik urusan Tuhan dan mengait-ngaitkannya dengan sikapku. Kalau aku boleh bertanya, apa yang kamu tahu tentang aku yang sudah dalam keadaan seperti ini? Apa menurutmu jodohku belum datang karena aku begini dan begitu.” Jawabku penuh senyum. Kali ini entah pun berkali-kali aku tak pernah marah dengan pertanyaan sejenis ini.

Arju terdiam. Angin siang ini berembus agak gerah karena terbawa suasana yang terik.

“Kenapa memilih kopi di hari sepanas ini? Tanyaku memecah kebekuan yang sejenak tadi hadir.

“Yah, aku belum ngopi seharian ini. Rasanya agak kurang sreg.” Jawab Arju sedikit ragu dengan jawabannya.

“Kamu… Suka kopi pahit?” Tanyaku lagi.

“Yah, kadang…”

“Ooh…”
“Kenapa?” Tanya Arju balik bertanya.

“Bukan apa-apa, aku juga suka.” Kataku sambil menyesap segelas jus jambu biji.

“Kita punya banyak kesamaan…” Kata Arju menggantung.

“Jadi karena itu kamu tertarik padaku.” Sambungkan yakin.

“Oke, aku salut akan kelugasanmu.” Muka Arju sedikit tidak nyaman seperti salah tingkah.

“Hahaha…maafkan aku. Toh, beberapa bulan lagi kamu akan menikah dengan Muhar. Maafkan kelancanganku.”

“Tidak. Kamu benar. Tapi aku …”

“Kamu tidak perlu merasa nggak enak begitu. Terima kasih obrolannya ya. Lalu, cuma itu yang ingin disampaikan?”

Arju menatapku sekali lagi, lalu ia membuang pandangannya ke jalanan.

“Iya, hanya itu.” Jawab Arju setelah beberapa menit berlalu. Kulihat ia menelan ludah bersama segumpal ucapannya yang lain. Aku bisa melihat jakunnya yang naik kemudian turun. Jelas banyak yang urung ia ungkapkan.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *