my world

Si Buta dari Gua Rak Buku

Ada hal yang paling aku syukuri walaupun hingga usia pernikahan enam belas tahun, kami belum punya rumah sendiri, tapi rumah yang kami tumpangi seringkali tidak dikenakan biaya sewa atau kalaupun menyewa, harganya selalu miring. Rumah itu pun kami tinggali tidak untuk setahun, biasanya bisa lebih dari tiga atau empat tahun. Jadi, kerepotan pindah-pindahan tidak terlalu menghantuiku.

Rumah yang pernah kami tinggali seringkali unik dan memiliki sebuah kesamaan: disukai tokek dan rayap. Kalau kucing, itu masalah lain, tentu karena ada yang mengundang dengan rutin menyiapkan sarapan hingga makan siangnya setiap kali dia selesai makan; ini memang rutinitas ayah anak-anak, dulu saat dia tinggal di mess, orang suka memanggilnya “Abu Hurairah”.

Selain suka membaca buku, ternyata aku juga suka mengoleksinya. Sebab kadang-kadang ‘penyakit’ membaca ulangku seringkali kumat. Aku juga suka buku berilustrasi bagus, entah kenapa, suka saja memandangnya beberapa kali, lagi, dan lagi. Sebenarnya sudah lama aku ingin mengalihkan kesukaanku membeli buku menjadi suka meminjam saja di perpustakaan. Sebab setelah aku menilik ulang, ada beberapa buku yang seharusnya hanya perlu kubaca sekali saja dan aku punya animo tinggi untuk membeli buku dibanding membeli apa pun. Ini sedikit tidak sehat untuk keuangan keluarga, karena begitu insentif mengeditku cair, biasanya aku punya kebutuhan yang harus didahulukan, tapi aku selalu tergoda dengan buku. Penasaran dengan yang ini dan itu, terjemahan di penerbit A dan B, padahal buku yang diterjemahkan, ya, sama saja (sebenarnya aku sangat ingin menjadi penerjemah, karena biasanya diberikan bukti terbit buku, aku bisa membaca buku bagus berkali-kali, tapi bahasa Inggris-ku pas-pasan. Silakan tertawaa).

Mungkin karena ayah anak-anak membiarkan saja kebiasaanku ‘foya-foya’ dengan uangku sendiri, membuatku tak merasa bersalah melakukannya lagi dan lagi. Eh, tapi pernah dia berdeham keras sekali, ketika paket buku tiba sampai lima kali dalam sebulan dan bukunya nyaris setebal-tebal bantal.

“Itu dibaca semua?” Katanya dengan raut muka yang tak biasa. Sejak itu aku berjanji puasa belanja buku selama setahun, tapi ternyata setelah tiga bulan, kembali godaan datang.

Aku punya banyak kontak bakulan buku yang biasanya sering kuintip akun jualannya. Apalagi penjual buku yang memang suka membaca, menuliskan kembali blurb bukunya, kemudian menambahkan sedikit testimoni tentang buku tersebut, penjual buku yang paham betul kualitas sebuah tulisan dan buku apa yang harus dijajakan.

Agar tidak terkesan egois, hanya bersenang-senang untuk diri sendiri, aku juga loyal membelanjakan buku untuk anak-anakku. Biasanya buku yang dijual per paket, di dalamnya banyak gambar memantik minat baca anak-anak. Aku percaya bahwa semua anak sebenarnya suka membaca, dia harus menemukan buku yang dia sukai terlebih dahulu.

Buku-buku di rumah kami semuanya bisa dijangkau, aku menaruh rak kecil di sebelah tempat tidur kami. Sebelum ada rak buku, aku menumpuk beberapa buku begitu saja di lantai. Kapan saja ada waktu bisa membaca, kami bisa dengan mudah menjangkaunya. Memang terkadang terlihat berantakan, tapi aku cukup rajin mengemasinya kembali. Apa tidak bosan? Yah, mungkin kalau dipikirkan tentu bosan, tapi aku tak terlalu memikirkan itu.

buku-buku yang sudah jarang kutemukan di toko buku

Kembali ke cerita rumah yang memang dihuni rayap di beberapa titiknya, ini seringkali jadi masalah berulang. Kadang waktuku membaca buku malah habis untuk membongkar rak buku kami. Beberapa buku berhargaku sering cepat terselamatkan karena Allah membikin tanganku gatal membongkar rak-rak buku. Oh iya, bukuku sebenarnya tetap tidak banyak, aku hampir bisa mengenali semua buku milikku. Bahkan buku yang dipinjam dan tidak dikembalikan biasanya dengan begitu mudah terdeteksi. Jadi, aku memperkirakan, buku yang raib dari rak buku kami, sama banyaknya dengan buku yang tertinggal saat ini. Ada masanya aku sangat suka meminjamkan buku pada siapa saja, bahkan orang yang dulu punya hobi memelihara kelinci. Penghobi tersebut silih berganti datang ke rumah dan dengan bodohnya aku tak sungkan meminjamkan bukuku. Padahal kalau aku pintar, tentu aku berpikir; untuk apa penghobi kelinci meminjam buku? Kalaupun dia hobi membaca buku, dia bukan pembaca buku yang baik; yang tahu buku dipinjam harus dikembalikan. Lalu, kalau dia punya buku atau penulis yang sangat dia senangi, dia harus memiliki buku itu, bukan meminjamnya. Sebab sekali lagi, buku yang dipinjam, harus dikembalikan.

Pertarunganku hari ini selain dengan peminjam buku yang lupa mengembalikan adalah: dengan si Buta dari Gua Rak Buku. Serangga buta itu tidak hanya menyukai kayu, tapi juga suka buku.

Hari ini setumpuk buku paket kesayanganku juga kena sasar si Buta. Buku seri Muhammad Teladanku adalah buku bagus yang bisa dibaca seluruh keluarga. Anak-anak juga suka aku bacakan buku tersebut. Hari ini saat mencoba mengambil beberapa buku yang tersusun rapi, aku melihat lumpur cokelat yang mengeras di sudut salah satu buku. Aku segera menarik seluruh isi rak dan memperhatikan sudut-sudutnya. Lumpur cokelat yang mengeras tadi memang sarang si Buta. Dia mencoba membangun kerajaan di sana. Sebuah sudut rak buku paling bawah sebelah kanan.

Di sini gua favorit si Buta.

Alhamdulillah tidak semua buku Muhammad Teladanku digerogoti, justru buku yang kuselipkan di atas tumpukan buku paket tersebut yang terlihat agak parah. Sebuah buku lama yang diterbitkan Little Tiger Press berjudul “I Don’t Want to Go to Bed” yang sayangnya itu adalah buku kesukaan anak kedua dan keempat kami. Buku yang sering kupakai untuk read a loud dan mereka sangat suka dengan ilustrasinya.

buku kesayangan Faza dan Kareem
korban kebrutalan si Buta.

Untuk persoalan rayap ini, kami belum tahu solusi yang tepat kecuali harus membaca semua buku yang tersusun di rak secara bergantian. Mereka memang membuat ki harus rajin-rajin membaca, melakukan penggeledahan rutin dan membersihkan bagian-bagian yang rawan ditinggali rayap. Salah satu usaha untuk mencegah buku-bukuku disantap rayap adalah dengan membuat selubung baru untuk buku-buku di lemari paling bawah. Aku mendapat info dari seorang teman, bahwa ada perajin eceng gondok di Kota Meulaboh yang bisa membuatkan keranjang sesuai dengan ukuran yang aku butuhkan. Kalau ada yang tertarik, sekaligus ingin menyejahterakan perajin lokal, silakan mengontak langsung ke pranala ini, mungkin boleh melalui DM saja atau klik pranala yang ada di keterangan bio akun Instagram mailiascraft.

Bentuk keranjangnya beragam, tapi aku butuh yang model begini.

Sambil terus berusaha mencari tahu apa yang bisa mengusir si Buta yang dikenal sebagai arsitek luar biasa ini, kurasa aku akan bahagia memeriksa atau membongkar-bongkar rak buku paling tidak seminggu sekali. Namun, aku ingin berpesan pada si Buta dari Gua Rak Buku, sehebat dan secakap apa pun kalian membuat rumah, tolong jangan gerogoti bukuku, ya!

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *