cerita ceriti,  Cerpen,  Fiksi

Simpai Rasa untuk Rofa (Bagian III)

Bagian I

Bagian II

Hari ini ada rencana ke mana?” Suara Dika dari seberang terus saja mendesak Rofa untuk bertemu hari ini.

“Aku mau bawa Ibu check up ke rumah sakit.” Jawab Rofa akhirnya menyerah mengangkat telpon dari Dika yang sejak pukul delapan tadi krang-kring terus.

Aku antar, ya.

“Eih, emang kamu nggak kerja hari ini? Nggak apa-apa, aku naik angkutan umum saja.”

Beres itu, lagi nggak padat. Aku anterin. Siap-siap aja, ya.

“Hei! Tunggu Dika…” tut tut… telepon diputus.

Rofa buru-buru mengetik pesan WA-nya. Akhirnya dengan sedikit enggan dia mengaku bahwa mengantar ibunya periksa ke dokter nanti sore, sudah mendaftar di parktik dokter penyakit dalam.

Berarti kamu senggang, dong, siang ini. Aku tunggu di kafe...” Balas Dika lagi sambil menyebutkan sebuah kafe berikut petanya.

Rofa menangkap gelagat yang tidak beres pada Dika. Entah kenapa hari ini memaksa ingin bertemu, kalau ditanya ada hal penting apa, jawabnya cuma ingin bertemu karena kangen saja. Sebuah jawaban yang tidak masuk akal dan tidak lagi cocok untuk kondisi mereka saat ini.

Rofa paham betul dengan sifat persisten Dika yang sulit ia patahkan. Akhirnya mereka bertemu di sebuah kafe.

“Kamu ada apa, sih? Kumat lagi kebiasaan anak kecilnya. Suka banget maksa orang.”

Rofa datang belakangan dan langsung duduk di bangku sebelah Dika. Kafe yang didominasi warna putih ini sebenarnya rumah yang dibobok dinding depannya dan dipugar ulang agar lebih luas. Ditambah dengan kanopi memanjang hingga ke halaman rumah. Kafe ini memadukan gaya perpustakaan dan warung kopi, dilengkapi dengan koleksi buku-buku berbagai genre dan satu ruangan barista yang dipenuhi dengan toples-toples berbagai biji kopi populer dan tentu saja sebuah coffee maker.

“Sini…” Dika masih dengan telepon selulernya menunjuk kursi di depannya. “Duduknya di depan aku. Bukan di samping.”

“Iih… apaan, sih?”

“Iyaa… pindah. Duduknya berhadapan, nggak mau di sebelah. Aku nggak bisa ngelihatin muka kamu.”

“Dika, ah!”

“Aku seriussss, Faaa. Ketemu kamu, tuh, susah banget. Tahu nggak, sih? Gih, duduk di depan aku.”

“Ish!” Rofa berdiri sedikit menghentak kursi dan pindah ke kursi persis di depan Dika.

Sejenak kemudian hanya bisu. Pelayan kafe datang mengantarkan daftar menu dan mereka memesan secangkir robusta dan secangkir mochacino.

“Nggak pesan milkshake vanila, Fa?” tanya Dika retoris.

“Udah tahu nggak ada di daftar menu. Dasar usil. Kenapa ke sini, sih?” Tanya Rofa sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe.

“Kenapa, coba?” Dika balik bertanya.

Rofa sumringah memandangi sekelilingnya yang dipenuhi tanaman hias dan bunga, di sebelahnya berjejer buku-buku fiksi. Di seberangnya lagi ada buku-buku psikologi, majalah, dan banyak lagi.

“Hm, lumayan, kafenya asyik… kayaknya aku suka.” Rofa berujar pelan.

Dika tahu Rofa suka sekali aroma kertas. Ia suka sekali membaca. Kuliah di jurusan arsitektur awalnya dan kemudian pindah ke jurusan psikologi saat di Malang yang akhirnya ia tekuni hingga master dan menjadi dosen di bidang psikologi. Ia masih sangat menyukai aktivitas menekuri buku.

Tanpa bicara lagi ia berdiri dan mulai mengamati buku-buku yang berjejer rapi di seberang meja mereka. Ia mengambil dua buku fiksi Pride and Prejudice yang ditulis Jane Austen dan War karya Leo Tolstoy.

“Walau nggak ada milkshake, tapi ada juga yang serasa vanila di sini, kan?”

“Ih, kamu masih ingaat! Haha” Rofa tergelak dan kembali duduk di depan Dika sambil membawa buku tersebut.

“Bukannya sudah pernah baca yang itu?” Tanya Dika.

“Iya… punyaku udah nggak ada lagi.” Jawab Rofa menggantung. Ia tak suka mengingat bahwa banyak buku-bukunya lenyap karena amukan si Jago Merah.

Dika menatap Rofa penuh perhatian. Tiba-tiba Rofa sadar wajah Dika seperti lelah dan ingin menceritakan sesuatu.

“Oiya, ada apa sih, pengen ketemu hari ini?”

“Udah dari tadi kan aku bilang. Pengen aja, aku kangen.”

“Dikaa… kamu tuh, udah jadi bapak. Udah bisa dilepas tuh  gelar Playboy Cap Ayam Kampung-nya. Aku juga bukan orang yang mempan digituin, tahu!”

Rofa berharap Dika membalas perkataannya dengan derai tawa seperti biasa, tapi ternyata tidak, ia terlihat murung.

“Emang aku beneran kayak playboy ya, Fa?”

“Eh…”

“Aku suami yang baik, lo. Aku bingung, kurangnya apa, sih?”

Suasana mendadak serius. Rofa menutup buku dan menumpuknya di sebelah kirinya. Berbarengan dengan itu pelayan kafe datang mengantarkan minuman yang mereka pesan.

“Aku capek dicurigain terus. Selama ini aku udah sabar banget menghadapi semua tingkah istriku. Aku kerja, berusaha jadi suami yang baik, udah penuhin semua keperluan keluarga. Kalau kurang-kurang dikit… yah, namanya juga hidup, kan. Kapan cukupnya, sih? Aku memang minta istriku di rumah dulu karena beberapa alasan. Bukan cuma alasan anak-anak masih kecil. Aku mau dia juga siapkan mental dan lebih dewasa. Aku lelah, Fa…”

Rofa terdiam dan coba mendengarkan. Ia tahu sahabatnya kini sedang ada masalah yang baginya mungkin cukup berat. Ia menunjukkan wajah empatinya dan menunggu Dika berbicara sampai tuntas.

“Istriku itu, kamu nggak kenal ya, Fa. Dia egois banget. Entah karena anak pertama di keluarga yang berada, bicaranya nggak mau ngalah. Kalau aku nggak pintar-pintar siasati, aku nggak bisa mengendalikan dia. Jadi aku membaca situasi dulu, kuatur gimana caranya dia bisa menemani anak-anak saja dulu. Bukan berarti aku nggak kasih dia kerja, tapi tipikal istriku itu belagu banget, kalau punya income sendiri, bisa-bisa aku nggak lagi dihargai.”

Oh, rupanya Dika sedang ‘tersinggung’ harga dirinya, batin Rofa. Dika termasuk ekspresif dan pintar mengungkapkan segala sesuatu secara verbal. Ia cukup populer di sekolah dulu. Kalau di organisasi, dengan kempuan public speaking-nya yang baik, ia selalu didapuk jadi ketua. Jiwa kepemimpinannya juga mumpuni.

“Sekarang malah semakin parah. Istriku gampang banget ngomong cerai. Dikit-dikit kalau udah nggak suka, ngomongnya cerai, pisah, hah! Betul-betul senewen aku dibuatnya.”

Perkara sensitif, Rofa belum berkomentar apa pun.

“Gimana aku nggak kangen kamu, coba, Fa? Kamu tuh, beda banget. Selalu bisa bikin aku nyaman sejak dulu. Udah lama aku nggak ngerasa perasaan ini lagi. Bisa bebas cerita apa aja… ketawa lepas. Aku lupa sama penatnya kerjaan waktu ketemu kamu lagi tempo hari. Aku kepikiran terus.”

“Eits! Stop ya bandingin akuuuu…”

Please, Fa. Biarin kek, sebentar aku bicara lagi. Aku lelah banget.”

Tiba-tiba Rofa diperangkap mata sendu Dika. Seperti ada simpai rasa yang berkelebat di sana. Dulu sekali Rofa pernah menyimpan rasa yang sama tapi kenapa harus berbalas ketika keadaan sudah seperti ini? Rofa memang belum bisa sepenuhnya lupa sakit yang digoreskan Guntur untuknya, tapi tak ada bekas trauma untuk bisa kembali jatuh hati kepada Dika.

“Tapi Dika, kamu harus tahu juga, sejak kamu memilih dia, berarti kamu udah menerima satu paket kelebihan sekaligus kekurangannya. Toh, nggak ada manusia yang sempurna. Mau sama siapa juga nanti kita akan mengahadapi hal yang sama. Sekarang menurut aku, kamu pikirkan saja kelebihan dia apa. Kamu juga nggak bisa, dong, menghalangi dia untuk berkarya. Entah barangkali itu pula yang membuat dia semakin sensitif.”

Setelah itu mereka berdua membahas hal lain. Bercerita tentang sahabat-sahabat dulu hingga tentang film. Lalu berjanji bertemu lagi minggu depan.

image credit

Sementara hubungan Dika dan Yurin semakin memburuk tak ada titik temu, sudah lebih tiga hari mereka perang dingin dan berbicara seperlunya saja. Dika semakin tidak betah di rumah. Di media sosial interaksi Dika dan Rofa hampir tidak ada lagi. Mereka juga merasa tak perlu interaksi dunia maya, toh mereka sering bertemu di dunia nyata.

Dika tidak lagi banyak mengeluhkan tentang Yurin. Dia merasa lebih baik seperti ini, tidak saling bicara, itu artinya ia tak lagi lelah mendengar segala keluhan dan tudingan Yurin untuknya. Dalam hati Dika membatin, kalau memang Yurin menuduh dia punya afair, kenapa tidak sekalian saja dia wujudkan tuduhan-tuduhan istrinya yang bermula dari imajinasi Yurin sendiri. Biarlah prasangka itu jadi nyata. “Maunya dia kan, ya? Toh aku nggak kepikiran awalnya.

“Mau ke mana?” tanya Dika yang pulang lebih cepat sore itu. dilihatnya Yurin mengepak koper. Sebahagian baju-baju sudah ditariknya dari lemari. Rumah seperti biasa tidak berantakan. Bunga-bunga di balkon dan taman belakang jusru terlihar sangat segar karena semuanya baru disiram Yurin. Kulkas penuh dengan stok makanan. Sebuah kebiasaan Yurin ketika ia meninggalkan Dika sendiri jika ia ada keperluan pulang kampung melihat ibu atau ayahnya yang sakit.

“Nggak ngomong jauh hari kalau mau ngunjungin Mamak? Ayah sehat, kan? Aku baru nelpon tadi siang.” Dika  bertanya lagi.

“Apa perlu ngomong?” jawab Yurin ketus.

“Duuh, kamu tuh, ya!” suara Dika rendah menahan geram. “Aku, kan, harus atur jadwal dulu kalau harus ngantarin kalian.”

Lulu dan Layin masuk ke kamar dan berhambur ke pelukan Dika. Mereka berdua sudah wangi, sudah rapi. Dika memeluk dan menciumi kedua putrinya. Sambil mencandai keduanya geram.

“Aku tahu kamu sibuk. Aku pulang naik angkutan umum saja.” Kata Yurin.

“Eh, nggak bisa begitu, dong. Aku  nggak mau!” Jawab Dika tak setuju.

“Papa… Mama bilang malam ini kami boleh naik bus Tayo!” teriak Layin kegirangan. Usianya menjelang empat tahun. Lulu enam yang enam tahun sudah duduk di kelas satu SD mengiyakan adiknya tak kalah girang.

“Kalau Papa takut ditanyain sama Mamak dan Ayah, kenapa kami pulang nggak dianterin. Biar aku yang atur.” Kata Yurin lagi.

Dika mengajak anak-anaknya ke ruangan tengah dan menyalakan teve, “Duduk di sini ya..lihat Papa bawa buah apa, niiih…” katanya jenaka sambil mengeluarkan anggur dari kotak steoryform lalu meninggalkan keduanya dan kembali ke kamar.

“Mama nggak bisa begitu, dong. Papa betulan nggak bisa nganter kalau malam ini. Mana sanggup langsung balik ke Banda Aceh, besok belum bisa libur.” Susulnya ke kamar dan berbicara dengan Yurin lagi.

“Aku nggak perlu diantar, aku udah pesan tiket.” Suara Yurin sedikit gemetar.

Dika sadar Yurin sedang menahan tangis. Ada sedikit sesal dalam hatinya.

“Aku udah siapin makanan di meja. Ada rendang, kalau udah habis ada ayam ungkep juga di kulkas. Tinggal goreng. Sekarang aku mau sendiri, aku nggak mau bicara lagi sama kamu. Tinggalin aku.”

“Rin…kok?”

“Kalau kamu masih bisa dengar, tolong tinggalin aku. Aku nggak mau lihat muka kamu!” kata Yurin setengah menangis dan membuang muka dari Dika.

“Rin, kamu ini… nggak adil. Bicara dulu, kek. Gimana kalau aku nggak kasih izin kamu pulkam?”

“Apalagi ini? Sejak kapan ada aturan macam itu?” Suara Yurin mulai tinggi lagi. Dika terhenyak, ia baru saja mencoba bersimpati dan memahami perasaan Yurin. Kini Yurin kembali menunjukkan wataknya yang keras kepala.

“Terserah kamu! Ini uang kalau kamu butuh dan aku akan jemput kamu minggu depan!” Balas Dika tak kalah sengit dan mereka pun melanjutkan perang dingin hingga ojek online menjemput Yurin dan anak-anak menuju  terminal bus.

Suara pekikan kegirangan anak-anak berlomba berpamitan pada papanya melambaikan tangan ke arah Dika  sudah lenyap. Dika sekarang sendirian, masuk menuju ruang tengah dan mematikan teve. Mengambil telepon selular dan tenggelam dengan obrolan panjang dengan Rofa.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *