my world

Simpai Rasa untuk Rofa (Bagian IV)

Bagian I

Bagian II

Bagian III

Besok jadi ke perpus wilayah?” Dika mengirim pesan ke Rofa. Sudah beberapa hari ini Rofa mencoba menyelesaikan jurnalnya dan memanfaatkan kartu anggota perpustakaan kota milik Dika. Sambil menunggu urusannya di Banda Aceh selesai, Rofa tetap mengerjakan tugas-tugasnya. Harusnya satu minggu ternyata sudah hampir satu bulan setengah urusan ini belum juga selesai. Berbagai cara disiasati Rofa agar bisa dapat izin dari pihak fakultas. Termasuk meyelesaikan tugas-tuganya secara online.

“Nggak jadi, aku ada janji sama notaris besok.”

Oh. Oke. Siap-siap aja aku jemput pukul sembilan.”

Waktu teramat nakal membuat ritme-ritme tersendiri dalam hari-hari Rofa tanpa ia sadari. Dibaluri banyak alasan, ada saja yang membuat Dika dan Rofa saling bertemu. Tak ada rasa enggan atau canggung untuk kembali ke masa-masa itu. Seperti saat SMA dulu, Dika bermasalah dengan Salsa, ia kembali ke Rofa. Entah perkara itu akan berakhir bagaimana yang penting Dika tidak lagi sedih. Dika bisa kembali tertawa renyah dan Rofa yang paling tahu kapan ia harus ada untuk Dika. Rofa bukan seorang psikolog. Ia tidak mengambil psikologi klinis setelah gelar sarjana psikologinya, tapi ia tetap saja psikolog andal bagi Dika.

Ibu Rofa yang membaca gelagat bahagia Rofa selama beberapa minggu ini merasakan firasat berbeda.

“Kok malam begini baru pulang, Nduk?”

“Eh, Ibu… belum tidur.” Rofa tersentak kaget, padahal ia sudah berusaha mengendap-endap sepelan mungkin agar suara putaran kunci pintu dan langkah kakinya tidak terdengar. Ditatapnya jam dinding yang menunjukkan pukul setengah satu malam.

“Tadi, kan, Ira udah telpon untuk bilang pulang malam, Bu. Masih perlu wifi yang kenceng buat download beberapa bahan, Bu.” Jawabnya sambil membuka kaos kaki dan melepas jilbabnya.

“Pukul delapan juga sudah malam, to?”

“Hm.. iya, Bu. Maksud Ira tadi mau selesaikan semuanya. Nanggung…”

“Pulang diantar Dika lagi?” tanya ibunya yang disahut Rofa dengan matanya.

“Ibu paham perasaan kamu, Ra…”

“Bukan, Bu. Dika dan Rofa nggak ada apa-apa…temen, nggak ada yang berubah.”

“Siapa bilang nggak ada yang berubah. Nduk, Ibu sayang kamu. Ibu paham apa yang kamu rasakan.”

“Bu…”

“Dengarkan Ibu, Ra. Dengan kondisimu yang seperti saat ini, apa pun itu, kamu harus tahu bagaimana bersikap. Ibu tidak pernah mengatur-ngatur kamu. Sekarang satu hal, kamu harusnya memberikan hatimu untuk orang yang benar-benar mencintaimu. Sekali lagi, untuk yang benar-benar-benar condong padamu, jangan dibalik, jangan sampai terbalik. Bukan orang yang terlalu kamu cintai.”

“Bu…”

Rofa tak lagi tahu berujar apa. Kalau lah ibunya mengatakan agar ia sadar diri, dengan posisinya yang baru saja bercerai dengan Guntur, lalu Dika yang sekarag ini sudah memiliki kehidupannya sendiri, Rofa tentu punya jawaban panjang. Terutama kalimat yang menerangkan antara ia dan Dika tak ada hubungan apa-apa selain pertemanan. Ia juga tidak mungkin lama di sini, setelah urusan penjualan tanah dan lainnya selesai, ia kembali ke Malang bersama ibunya. Apa salahnya bertemu teman lama dan sekadar saling bantu. Hanya Dika yang membantu mobilisasinya selama di Banda Aceh sehingga semua urusan lekas kelar. Dika juga merasa ada yang meringankan bebannya, bisa bekerja seperti biasa dengan energi penuh, bisa rehat sejenak dari himpitan batinnya sekian tahun belakangan.

Lalu urusan mereka juga tidak melulu tentang berduaan dan perasaan. Mereka sama-sama mengerjakan tugas sendiri, di tempat umum malah terkadang bertiga dengan ibu. Jadi sama sekali tak ada yang salah. Persoalan Dika dengan istrinya itu murni kesalahpahaman saja. Dika juga sedang berusaha meluruskan semuanya. Entah…kalau meluruskan atau menambah rumit. Tiba-tiba sesuatu membutakan keduanya. Barangkali sebuah rasa… cinta?

Rofa justru tak bisa tidur malam itu. Sebelumnya ia mengetik pesan WA. “Dika, aku besok naik ojek aja, deh, ya. Aku pergi sendiri kok. Ibu nggak ikut. Minggu depan mungkin urusannya udah kelar, baru, deh bawa Ibu.”

Dika yang juga baru sampai ke rumah, membaca pesan itu tanpa membalasnya. Tiba-tiba hatinya kosong sekali menatap ruangan sunyi. Sedikit-sedikit rumah yang beberapa hari lalu kemas kini mulai agak berantakan. Bunga-bunga terlihat kuyu, baju kotor yang akan dibawa ke binatu, dan piring kotor juga menumpuk. Menghubungi Yurin akhirnya dia lakukan juga seminggu kemudian. Niat hati ingin menjemput, tapi Mamak yang mengangkat telpon mengatakan Yurin belum ada rencana pulang.

Dika seperti kehilangan sesuatu dan ia menatap hampa isi lemari. Membaui aroma Yurin dan anak-anak. Kemudian gelisah hingga tertidur entah pukul berapa.

Esoknya Dika dan Yurin tidak jadi bertemu. Keduanya alfa saling menghubungi. Aktivitas di tempat kerja Dika juga sedang padat.

Buku-buku terus… kalau Yurin tuh, ya. Sukanya ke butik atau mal.” Celoteh Dika di sela-sela obrolan mereka saat bolak-balik perpus dan toko buku.

Ingatan Rofa melayang ke Salsa, Meira, Shezy, dan beberapa nama lagi yang pernah dekat dengan Dika. Kesemuanya memiliki karakter yang sama, fesyenista. Walau tidak semuanya cantik, tapi kesemuanya pintar berdandan.

Lalu ditatapnya bayangan yang memantul dari cermin meja riasnya. Kulit sawo matang dengan wajah yang biasa saja. Rofa tidak pintar berdandan, kerjanya hanya belajar dan belajar. Dia tak paham fesyen walau selalu berpakaian serasi dan enak dipandang, tapi ia tahu selera Dika terhadap perempuan itu yang seperti apa.

Tapi apa salahnya? Bukankah ia juga berhak bahagia dan ia tak pernah meminta Dika mendekatinya. Dika yang datang dan datang lagi. Dika juga blak-blakan memujinya dan sering membuatnya melambung belakangan ini. Ia tak melakukan kesalahan apa pun. Ia tak mengganggu atau menggoda Dika.

Tidak cukupkah penderitaannya selama ini? Penantian pada simpai rasanya yang sejak dulu tak pernah berbalas. Kini Dika datang menawarkan sejenis rasa yang sama. Memulas hari-harinya dengan penuh warna. Istrinya sendiri yang tidak berusaha menjaga rasa itu.

Sekitar pukul dua belas malam telpon selular Rofa bernyanyi “Rofa… sedang ngapain? Aku kangeen!” suara Dika diseberang terdengar berbeda.

“Aku udah tidur, Dodol! Ngapai kamu nelpon tengah malam begini!”

“Ke mari doong, aku rindu banget!”

“Nggak mau. Enak aja. Mabok kamu!”

“Kok tahu? Hehehe…”

“Eh?” Rofa sontak kehilangan kantuknya. “Serius Dika, kok suaramu sengau gitu? Kamu di mana?”

“Di rumah. Kamu ke sini, dong. Aku udah mau mati.” Tut tut

“Dika! Dika! Halo!”

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *