my world

Simpai Rasa untuk Rofa (Bagian V/ Selesai)

Cerita sebelumnya

Rofa menyeret kursi plastik ke balkon. Sudah hampir sejam ia duduk melempar pandangan ke luar. Tidak biasanya ia duduk tanpa melakukan apapun. Tidak membaca tidak juga mendengar musik. Bagaimana hal yang awalnya dia katakan tak masalah, kini menjelma rumit tak berujung.

image credit

Ia sempat senang disanjung dan diharapkan Dika. Entah sebagai apa, barangkali hanya pelengkap derita. Rofa menikmati hari-hari dengan kebahagiaan semu. Bernostalgia dan sempat lupa berpikir bagaimana kalau ia berada di posisi Yurin. Bukankah dulu ia pernah juga merasakan sakitnya dikhianati walau bukan diduakan, tapi sakitnya diabaikan dan dibuat merasa tak berharga itu tak jauh berbeda.

“Rin… Rin, sakit. Ke sini. Sakit banget, Rin…kepala…” Dika dengan setengah sadar terus bicara dan memanggil-manggil istrinya.

“Ya Allaah, Dikaaa! Badan kamu panas sekali!” Rofa kaget begitu sampai di rumah Dika. Lampu depan pun tidak menyala.

Beruntung semalam sepupu jauh Rofa menitipkan motor matic-nya karena sedang liburan pulang kampung. Dengan sigap ia bersalin pakaian dan pamit pada ibunya yang juga terbangun karena mendengar suara telepon selular Rofa. Ibu tak bisa berkata apa-apa selain mendoakan hati-hati dan jaga diri.

Rofa mencari persediaan obat di kulkas dan mengompres kepala dan badan Dika. Dika terus-terusan memanggil Yurin. Benar-benar dalam kondisi setengah sadar. Rofa berusaha mencekokkan parasetamol dan berusaha menurunkan suhu tubuh Dika.

Sejam kemudian usahanya membuahkan hasil. Dika tertidur dengan suhu tubuh yang tidak setinggi tadi. Rofa mengamati sekelilingnya. Rumah keluarga Dika  dan jejak-jejak sentuhan Yurin di setiap sudut rumah. Bingkai-bingkai foto yang dipajang.

Tiba-tiba saja ia disergap cemburu. Belum pernah Rofa secemburu ini. Selama ia menjadi sahabat Dika dan berulang kali jadi tempat curhat lelaki yang memang womenizer ini, belum pernah ia merasakan kesungguhan hati Dika pada seorang wanita. Sesekali Dika masih menceracau dan menyebut nama istrinya. Kan memang pantas, tapi kenapa sesakit ini? Batin Rofa.

Yurin perempuan dengan sejuta pesona yang sudah mengikat erat hati Dika. Lalu selama ini Dika mulai beralih padanya tidak lebih hanya karena pelarian saja. Tak ada simpai cinta di hati Dika untuk yang lain. Yurin adalah sumber kebahagiaan dan ketentraman hati bagi Dika. Dari obrolan tak langsung selama ini Rofa tahu, Yurin sangant telaten mengurus suami, rumah, dan anak-anak.

Sambil mengompres Dika, Rofa stalking ke akun medsos Yurin. Perempuan bermata cokelat dan berkulit putih itu piawai sekali mengolah bahan dapur. Dika barangkali lupa mendetailkan kelebihan-kelebihan Yurin tapi dari setiap sudut rumah, dimulai dari halaman hingga dapur, Rofa tahu Yurin sudah bersungguh-sungguh menunaikan baktinya.

Selarik sesal tergurat di hati Rofa. Urusannya di Banda Aceh sudah selesai, harusnya ia kembali dengan tenang ke Malang. Namun perkara rasanya pada Dika yang kembali tumbuh perlahan, walau secercah, ia tahu bahwa hatinya kembali berharap-harap.

“Sudah pesan tiket, Nduk?”

“Ah, i… iya, Bu. Handphone Ira mana, ya?” jawab Rofa gelagapan karena baru sadar ternyata ibunya sudah berdiri di sampingnya, menatap lembayung senja yang menjingga dari atas balkon.

“Sudah, jangan dilanjutkan, Ra. Kamu juga belum terlambat untuk menyudahi semua.” Sambung Ibu lagi seolah Rofa sudah menceritakan keseluruhan isi kepalanya pada Ibu.

“Boleh, kan, Ira sedih, Bu? Sekali ini saja… izinkan Ira sedih sekali lagi.”

“Tidak apa, Nduk? Sini Ibu peluk. Berapa kali pun itu, Ibu tak pernah keberatan mendengarkan kamu.”

“Tapi, Bu… Ira nggak pernah bikin Ibu bahagia. Ira selalu membebankan Ibu dengan masalah-masalah yang menimpa Ira.”

“Ra, sejak kapan kamu berpikir membebankan Ibu dengan semua masalahmu? Kamu sepatah pun tak pernah cerita. Dengan yang dulu tiba-tiba aja kalian berpisah, Ibu tidak tahu sejak awal kamu semenderita itu. Justru Ibu yang merasa terus-terusan jadi beban dan tanggungan kamu. Kamu jadi tidak bisa leluasa mengurus karir atau pun mimpi-mimpimu.”

Dalam dekapan hangat sang Ibu, air mata Rofa luruh tanpa suara. Ia terbiasa seperti itu, tak sesenggukan karena baginya menangis bukan untuk menambahkan beban Ibu.

“Bu, Ira juga nggak pernah merasa dibebani. Mulai hari ini, impian Ira cuma satu, membahagiakan Ibu. Sudah cukup. Kalau boleh… membuat Ibu bangga walau sedikit.”

“Ibu bangga sekali punya putri yang mandiri dan tegar seperti Rofa Mahira.” Jawab ibunya sambil melepaskan pelukan dan berganti menatap wajah Rofa penuh sayang.

Seolah terlepas dari seluruh belitan polemik dalam hatinya, Rofa sudah menyelesaikan satu tahap langkah melangkah menggapai tujuannya.

“Ira booking tiket buat lusa ya, Bu. Urusan kita di sini sudah selesai.”

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *