cerita ceriti,  Forum Lingkar Pena,  my world,  Self reminder

Sudah Tiada Baru Terasa (Sepenggal Memoar Tentang Rumcay FLP Aceh)

Dari tempat duduk yang kupilih, aku bisa menyaksikan lanskap senja yang sendu, walaupun hanya berupa garis di sela-sela jaring hitam dan tembok setinggi hampir satu meter di kafe tempat kami membuat janji untuk rapat mendesak mengenai kondisi rumah baca yang dikelola FLP. 

Kopi nyaris tandas saat Cut Atta, tiba di kafe D’Energy sore itu. Cut Atta tiba sedikit terengah dengan dua buah hatinya, Usamah dalam gendongan kangguru dan Cut Kak Qonita di gandengan tangannya memakai kerudung merah dan baju model baby doll. Poni gadis kecil itu menyembul sedikit dari kerudungnya dan membuatnya tampak semakin menggemaskan. Cut Atthahirah, saat ini diamanahkan sebagai ketua Rumcay FLP Aceh.

“Kareem mana?” tanya Cut Atta setelah kami bersalaman.

“Kakak titipkan dengan ayahnya,” jawabku.

Kami sama-sama duduk di kursi kafe. Tadi aku membayangkan Cut akan datang sendiri tanpa membawa anak-anaknya, karena itu aku pun minta agar Kareem tinggal sebentar dengan ayahnya. Cut Atta bilang suaminya sedikit kurang sehat, tetapi tadi mau mengantarnya. 

“Jadi Kakak datang dengan siapa dan pulang nanti bagaimana?” tanya Cut Atta lagi.

“Tadi nebeng dengan ponakan yang kebetulan keluar rumah, mau ke Darussalam, dia pakai motor kami, jadi rasanya dia nggak akan keberatan kalau mengantar Kakak ke sini sebentar. Kan, nggak terlalu jauh dari rumah. Kalau pulangnya, nantilah kita pikirkan lagi,” jawabku santai dan kami tertawa saling maklum.

Begitulah kondisi di kepengurusan FLP saat ini. Sayang ya, sayang. Cinta ya, pastinya cinta, tetapi saat ini dari pengurus harian hingga anggota FLP Aceh, sedikit sekali orang-orang muda atau mahasiswa yang penuh stamina seperti masa-masa dulu. Yang ada hanya beberapa ‘emak-emak rempong’ yang semangatnya melebihi mahasiswa tahun pertama yang sedang berapi-api. Apalagi personel lelaki yang saat ini bisa dihitung dengan jemari tangan kanan saja; baik itu di kepengurusan wilayah maupun cabang Banda Aceh yang merupakan motor penggerak utama di Wilayah Aceh.

Sudah lebih dua periode ini sekretariat yang otomatis difungsikan sebagai rumah baca (Rumah Baca Hasilkan Karya—Rumcay FLP Aceh) milik FLP Aceh tidak lagi ada. Ini memang terjadi sebelum pandemi, ketika FLP tidak lagi mampu menyewa sebuah lokasi yang representatif serta terjangkau bagi pengurus dan anggotanya untuk dikelola secara lebih profesional. Di saat geliat literasi di Aceh kian menyala, TBM mulai muncul di mana-mana, hingga ada 30-an lebih komunitas literasi di Aceh yang terdata oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Aceh  beserta rumah bacanya, sementara Rumcay FLP Aceh kian redup cahayanya. 

Foto yang dibingkai dan dipajang di Rumcay FLP Aceh, sebuah event literasi besar di Aceh yang digagas FLP sebagai organisasi yang bergerak di bidang literasi, menggandeng organisasi internal Bank Indonesia

Roda berputar, posisi kita kadang di atas, kadang di bawah. Hal ini ternyata berlaku pada Rumcay FLP Aceh yang pernah jaya pada masanya. Ketika kelas menulis untuk anak yang diampu oleh relawan-relawan Rumcay begitu aktif, sehingga setiap minggunya ada saja kelas ataupun aktivitas yang diadakan di Rumcay. Kalau bukan karena kelas menulis, anak-anak tetap datang membaca buku, mendengarkan story telling, ada aktivitas read a loud atau sekadar menggambar dan mewarnai dengan perlengkapan yang disediakan di Rumcay. Kertas-kertas gambar dan kertas mewarnai dengan puluhan set kelir dan spidol warna-warni di dalam laci cokelat plastik milik Rumcay. 

Kami memulai rapat dan membicarakan poin pertama mengenai aset-aset Rumcay yang sebagian (berupa buku-buku) dihibahkan ke rumah baca dan perpustakaan yang masih aktif melakukan kegiatan literasi. Ada juga yang dibawa oleh personel atau orang internal FLP sementara waktu dengan ikrar akan dikembalikan lagi jika sewaktu-waktu Rumcay sudah bisa beroperasi normal, artinya mendapatkan tempat yang cocok dalam jangka waktu yang terencana dan bisa melakukan kegiatan literasi sebagaimana dulu yang pernah dilaksanakan. Aset Rumcay–menurut hemat pengurus dan kesepakatan bersama–harusnya lebih bermanfaat untuk orang banyak, jangan sampai punah, hancur dimakan rayap dan lembap tanpa bisa dimanfaatkan sebagaimana tujuan utama saat didirikannya Rumcay. Namun bagaimanapun, itu adalah aset yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dari sejak berdirinya FLP dan merupakan milik umat yang harus dipertanggungjawabkan nanti di akhir kepengurusan. 

Setelah pembahasan poin pertama, Syuhada dan buah hatinya hadir. Umer yang pertama kali menyambangi meja kami dan telunjuknya mengarah ke mobil kapsul hitam yang sedang sibuk mencari tempat parkir saat kami tanya di mana mamak Umer. Kami senang satu personel lagi hadir dan menambah kekuatan ide dan semangat untuk terus melakukan dakwah literasi ini. Syu–sapaan akrab ketua FLP Cabang Banda Aceh itu–terlihat sangat kelelahan. Matanya redup dan alisnya bertaut menahan sakit kepala. Syu memang sedang sangat sibuk dan baru saja kembali dari luar kota. Menurutku dia seharusnya istirahat dan itu jauh lebih baik buat dirinya dan kami semua. Namun, saat itu Syu sudah duduk bersama kami dan aku memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan poin kedua, karena senja semakin tua. Aku juga belum masuk ke rumah tadi sepulang kerja, tapi aku sudah memikirkan apa yang harus kulakukan setelah selesai rapat ini: sampai rumah, memandikan anak-anak dan memasak makan malam yang paling praktis sedunia, telur kecap kesukaan Kareem dan Faza.

Ada acara Hari Kunjung Pustaka di Perpuswil Lamnyong. Di sana para pegiat literasi diberikan  tempat untuk memajang karya-karya beserta dokumentasi aktivitas giat literasi yang telah dilakukan, mungkin sejak awal berdiri hingga hari ini. Itu juga masuk dalam agenda obrolan kami, walaupun saat ini giat literasi yang dilakukan oleh FLP Aceh tersendat banyak urusan internal, tetapi para pengurus tetap berjuang menghidupkan FLP dan melakukan dakwah literasi sesuai dengan kadar kemampuan hari ini. Jadi, untuk memeriahkan Hari Kunjung Pustaka dan menunjukkan bahwa FLP Aceh masih eksis, FLP akan tetap mengirimkan beberapa foto kegiatan Rumcay dan Radhia–sekretaris FLP Wilayah Aceh–hadir sebagai utusan untuk FLP di acara pelantikan pengurus Forum TBM Aceh.

Pembahasan terakhir adalah memperjelas SOP mengenai pembagian aset Rumcay yang saat ini disimpan di rumah-rumah anggota dan pengurus FLP Aceh di seputaran Banda Aceh. Dalam pembahasan akhir ini, ada poin penting yang mengatakan bahwa, jika Allah berkehendak dan FLP mendapatkan tempat, mampu kembali mengelola rumah baca–yang otomatis menjadi sekretariat FLP Aceh–maka aset-aset yang masih dalam kondisi baik, akan diambil kembali. 

buku-buku Rumcay

Walau kondisi Rumcay FLP Aceh ini sempat membuat pegiat FLP lesu, tetapi sumber daya dan semangat para pegiat belum sepenuhnya padam. Terkadang kita perlu melangkah beberapa kali ke belakang bukan untuk mundur, bukan pula menandakan kemunduran, tetapi untuk melihat target lebih jelas dan mengatur strategi baru yang jauh lebih baik dan tepat sasaran.

Atau ini hanya sebuah cara untuk memberikan kita pelajaran berharga, bahwa rezeki yang diberikan sudah semestinya dikelola dengan baik. Jika dulu FLP punya sekretariat yang bagus, tetapi tidak ada pengurus yang punya komitmen dan kesungguhan untuk menyedekahkan waktunya barang dua jam seminggu untuk FLP … Yah, mungkin cara yang paling baik adalah menarik kembali rezeki tersebut untuk sementara waktu. Supaya kita tahu rasanya. Persis seperti kata Haji Roma: “Sudah tiada baru terasa”.[]

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya: Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Bisa dihubungi melalui surel medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *