cerita ceriti,  my world,  Resensi,  Self reminder

Suguhan Alegori Politik dalam Animal Farm

Jika ada dua hari yang sibuk di dunia nyata, sebenar-benar sibuk rasanya saat kita akan melaksanakan sebuah hajatan di rumah, walau sekecil apa pun itu, kita tidak ingin mengecewakan tamu yang kita undang. Begitu juga dua hari persiapan arisan di kompleks membuatku lupa berpikir keras, kerja… kerja … kerja, lupa berkhayal tepatnya, hehe…

Dua hari saja tidak menulis memang melelahkan bagiku, sebab sebagaimana raga yang terlihat mesti diberi asupan nutrisi, jiwa yang abstrak tadi mesti dipelihara dengan asupan yang cukup dengan cara salah satunya menulis. Menulis terbukti secara ilmiah menjadi salah satu terapeutik yang ampuh untuk jiwa. Seorang bijak mengatakan, “your words could be sword. But words could be honey and bread to feed your wounded heart”(EB). Bahkan untuk jiwa yang tak luka, menulis adalah sebuah seni bercerita yang amat menghibur hati.

Untuk memulai menulis dengan kepala yang terbilang ‘kosong ide’ yang paling baik adalah mengingat kembali apa kejadian yang paling berkesan beberapa hari belakangan, atau perasaan paling berkesan yang masih lekat di ingatan. Misalnya sepotong percakapan dengan teman dekat, celetukan anak, buku yang baru dibaca, atau apa saja yang membuat kita bersemangat sesaat setelah membuka mata. Kali ini mungkin aku ingin bercerita tentang buku yang sedang dibaca saja di antara banyaknya pilihan  mengesankan yang ingin kutulis.

Tak bisa kupingkiri bahwa kesibukan yang padat juga yang membuatku menjadi pembaca yang sangat lambat kali ini. Hanya seratus lima puluhan halaman memakan waktu lebih dari seminggu, itu juga belum khatam karena aku baru saja menyelesaikan buku Always Online-nya Mbak Diah Ningrum, sebuah buku parenting kekinian yang tak kalah asyik. Saat ini aku membaca sebuah novel klasik fenomenal karya George Orwell yang diterjemahkan oleh Prof. Bakti Soemanto yang kubeli awal bulan April karena tak tahan godaan. Padahal tidak niat membeli buku buatku, hanya buat anak-anak karena bujet sudah habis sesaat setelah mereka memilih boardbook yang harganya dua atau tiga kali lipat buku-buku pilihanku. Di sini aku sangat ingin menjadi orang kaya, hahaha… Tapi aku masih bisa meminjam buku-buku bagus di aplikasi Ipusnas atau cukup ke perpustakaan pribadi milik abang atau menunggu pinjaman adik yang rutin membeli buku bagus setiap ia gajian. Apa salahnya mengalah pada anak dalam hal seperti ini, kan?

Book of the Month

Baiklah, kembali ke buku Animal Farm yang ditulis oleh George Orwell (Entah kenapa aku selalu salah mengetik Goerge kali ini, sering terbalik antara O dan E, padahal ini nama orang Inggris yang pasaran luar biasa. Hahahaha). Animal Farm merupakan novel alegori politik yang ditulis George Orwell pada masa Perang Dunia II sebagai satire atas totaliterisme Uni Soviet. Dianugerahi Retro Hugo Award (1996) untuk novela terbaik dan Promotheus Hall of Fame Award (2011), karya inilah yang melejitkan namanya.

Animal Farm bercerita tentang tentang ternak-ternak di Peternakan Manor milik Pak Jones yang kemudian diambil alih oleh binatang-binatang ternaknya sendiri. Adalah seekor babi yang cerdas dan dituakan, dipanggil Major oleh penghuni peternakan, ia menginisiasi pemberontakan binatang. Ia dikenal paling bijak bestari dan diyakini mampu mengubah nasib seluruh penghuni peternakan. Atas provokasi dan pengaruhnya, suatu malam ia berpidato dan menceritakan tentang mimpi yang katanya harus disampaikan kepada binatang lainnya, pemberontakan para binatang pun terjadi.

“Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan.” Bukanya dalam pidato malam terakhirnya di halaman 6. “Ia tidak menghasilkan susu, ia tidak bertelur, ia terlalu lemah menarik bajak, ia tidak bisa berlari cepat untuk menangkap terwelu. Namun ia adalah penguasa atas semua binatang. Manusia menyuruh binatang untuk bekerja, manusia mengembalikan seminimal mungkin hanya untuk menjaga supaya binatang tidak kelaparan, sisanya untuk manusia sendiri. Tenaga kami untuk membajak tanah, kotoran kami untuk menyuburkan tanah, tapi tak satu pun dari kami yang memiliki luas tanah seluas kulit kami.”

Beginilah awal mula cerita bahwa Major mendapatkan visi dari mimpinya bahwa kelak suatu hari nanti akan ada sebuah pemberontakan oleh binatang terhadap manusia; menciptakan sebuah dunia di mana binatang akan berkuasa atas dirinya sendiri.

Rencana disusun dengan rapi dan dalam waktu yang singkat perubahan itu terjadi. Para binatang berhasil menguasai peternakan dan mengubah peternakan Manor menjadi bernama “Peternakan Binatang”. Polemik kekuasaan terjadi, perebutan kursi kepemimpinan, simpati massa, kebijakan-kebijakan, hingga saling menjatuhkan.

Sesuai dengan genrenya sebagai novel alegori politik, Orwell telah menyulap semua aksara memesona pembaca. Terkadang memantik decak, ah, bisa saja dia, terpikir pula membuat seperti itu, ada-ada saja. Ah, benar juga. Kenapa bisa begitu, dan sebagainya. Intrik-intrik politik dan propaganda juga dinarasikan secara apik menambah daya tarik cerita. Aku sendiri tak bisa menebak akhir cerita walau sudah lebih separuh jalan membaca.

Terkadang ada rasa geli dan miris, pelajaran moral yang disuguhkan menjadi luar biasa. Kekritisan Orwell di Animal Farm benar-benar membuat kita merenung bahwa ternyata kekuasaan sungguh memabukkan. Bahkan dalam lingkup kecil sekalipun ini jadi pelajaran berharga. Ketika apa yang tengah terjadi dalam hidupku sehari-hari di tengah hiruk pikuk jelang Pemilu, para caleg yang dipajang fotonya di setiap sudut jalan, bahkan pada sebuah komunitas yang beranjak ramai dan ‘basah’, semua alegori yang disajikan ini sangat pas… pas… dan tepat!

Bacaan ketiga bulan ini cukup menghibur dan memberikan pelajaran berharga buatku. Kalau kamu, apa yang memantik ceritamu hari ini? Tulis, yuk, untuk berbagi kebahagiaan![]

 

 

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, dan Faza. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *