cerita ceriti,  disleksia,  Kelas Bunsay#3,  Kuliah Bundsay IIP,  Melatih Kecerdasan Emosi,  Parenting,  Self reminder

Tantangan Game Level 3 Melatih Kecerdasan Emosi Hari#8

Pagi hingga sore tidak ada perbedaan yang cukup signifikan dalam naik turun emosi anak-anak. Hanya pagi yang datar, persoalan sikat gigi untuk Biyya, debat kecil perlu atau tak perlu memakai singlet dan semacam itu. Sementara seperti biasa, kamis aku harus mengajar dan dilanjutkan dengan rapat dewan guru.

Faza tidak rewel hanya tak mau tidur siang, lalu sorenya menolak mandi. Mungkin karena tugas ini aku delegasikan kepada santri hari itu. “Sari minta tolong bujuk Faza untuk mandi sore, ya. Bunda masih ada rapat di kantor. Nanti setelah mandi antar lagi Faza ke kantor.” Ternyata ia tak mau mandi, hanya mau berrmain mobilan dan batu-batu di teras asrama.

Sementara Akib dan Biyya, berdasarkan laporan ayahnya, bermain bersama temannya di komplek. Saat ayah anak-anak akan menjemputku, mereka masih di rumah tetangga.

Insiden terjadi karena Biyya belum mandi dan balik ke rumah ketika azan Magrib. Akib mulai mencak-mencak dan tidak sabaran. Kami berkunjung ke kost adikku untuk makan malam. Kakak kedua sedang menginap di kost tersebut sudah memasak lebih dan meminta kami berkumpul sekaligus mengantar keponakanku, Sayuqi, yang sedang sakit.

Akib berharap kami bisa makan di luar. Entah di rumah makan Padang atau sekedar di kafe. Akib mungkin kecewa karena keinginannya tidak sejalan dengan rencana kami. Ditambah ketika aku singgah berbelanja sayuran di warung, ia minta dibelikan snack berpenyedap dan aku membelikan hal lain. Seplastik besar kerupuk untuk bisa dimakan bersama saat makan malam, lalu satu bungkus snack ukuran kecil untuk dibagi bersama Faza.

Akib mulai kesal tak satu pun keinginannya bisa terkabul. Ia merengut tak terkendali. Coba melobi bunda atau ayahnya kembali tapi tidak berhasil. Sesaat ketika baru tiba di kost adikku, Faza memukul kepala Akib karena kesal juga Akib melendotiku terus. Kebetulan kena benjolan di kepalanya yang terbentur saat jatuh dari sepeda siang tadi sepulang sekolah.

Akib murka dan spontan memukul balik kepala Faza dan aku tidak sempat mengelak. Jadilah keriuhan kecil itu. Kukatakan kecil karena tak lama. Ayahnya tak sampai turun tangan menyelesaikan dengan ceramah panjang. Aku kumpulkan anak-anak di kamar adik dan meminta mereka menjelaskan perasaan masing-masing. Terutama Akib yang benjolannya digampar Faza pertama sekali. Akib terbata-bata dengan bantuanku menjelaskan kalau ia baru saja jatuh tadi siang. Kuminta ia menunjukkan luka di lutut, kaki, dan mata kakinya. Faza memandang kasihan dan berempati.

“Kasihan Abang, kan, Dek? Akib juga, Faza nggak tahu kalau Akib sakit. Dia juga kesal karena Lays tadi Akib ambil nggak seijinnya.” Aku menambahkan. Biyya yang sedang stabil  juga terlibat di forum ishlah tersebut. Aku sangat terharu saat Akib mencium kepala adiknya sambil meniupnya lembut dan meminta maaf. Wajah Faza juga melunak sembari memeluk abangnya. Mungkin ini yang namanya happy ending.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, dan Faza. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *