cerita ceriti,  disleksia,  KelasBunsay#1,  Kuliah Bundsay IIP,  my little angels,  my world,  Parenting,  Self reminder

Tantangan hari#4 Komunikasi Produktif

Hari minggu pernah menjadi hari yang bikin galau dulu. Kuharap telah berlalu tapi hari ini terulang kembali.

“Akib, bukannya kita sepakat berberes diri dulu baru mulai pegang HP?” kataku menyambi mencuci piring dan menata meja. Biyya pun mulai membantu hal yang ringan-ringan seperti mengelap meja.

“Tapi Akib mau lanjutin buat video yang kemarin.” jawabnya tanpa mengalihkan mata dari layar.

“Oke, silakan dilanjutkan tapi mandi dulu. Bantu Bunda kek, menyapu.” ups, aku mulai menyuruh berlapis. Hal yang harusnya dihindari, tapi suliiiiiit sekali.

Menit berlalu. Sulungku bergeming. Terpaku ada layar 4 inci.

“Biyya siap-siap terus, Nak. Ayah berangkat pagi sekali, kita nanti latihan ke Taqwa naik Gojek aja.” masih menyambi karena rumah dalam kondisi amat sangat membutuhkan sentuhan. Baru pindah-pindah kan, ya? Padahal katanya yang hidup harus didahulukan dari benda mati. Tapi sarapan pun harus kelar. Suami sudah harus berangkat kerja walau minggu, kapal masuk harus bongkar muatan. Biasa pukul 10 kami akan berkumpul lagi. Kapal tidak setiap hari masuk, paling dalam seminggu ada tiga kali. Bisa dikata masih banyak waktu bersama, si ayah masih sangat beruntung bisa turut andil lebih banyak dalam pengasuhan. Tiada lain, inilah kemewahan yang diberikan-Nya pada kami saat ini.

Biyya tidak suka naik Gojek, ia pun protes sejadi-jadinya. Tapi aku berhasil membujuk dan akhirnya dia mandi dan bersiap. Sudah lengkap dengan pakaian Tapak Suci-nya, organisasi tempat Biyya belajar beladiri. Akib? Ia masih seperti tadi.

“Akib tolong cepat ya, Nak, karena kita udah pada siap. HP-nya Bunda ambil aja kalau Akib masih belum bergerak.” aku mulai mengeluarkan pernyataan ancaman yang cuma ditanggapi “hm” oleh Akib.

Kain sudah dikeluarkan dari mesin cuci dan aku minta Akib menjemur saja kalau tidak mau mandi. Ia pun tidak bergerak. Sekarang aku meminta Biyya membantu tapi Biyya merasa ini unfair, ia sudah banyak berkontribusi, Akib belum satu pun. Benar juga, pikirku.

Biyya mulai bereaksi berlebihan karena Akib diizinkan ngeles begitu rupa. Akib juga memegang HP lebih beberapa jam kemarin di hari sabtu. Akib pun memyahut dia tidak main game melainkan mendesain. Biyya juga keukeh ingin bisa desain tapi tak ada kesempatan pegang HP. Bersitegang dan Akib berdiri berniat mandi, tapi sebelumnya ia mau mengecas HP lebih dulu. Ia mulai marah-marah karena aku tidak membantu mencari charger miliknya.

Wah, serasa inilah saatnya meletus. Ketika melihat Akib sangat jumawa dan melepas charger milikku yang masih terisi setengah. Kami akan keluar mengendarai Gojek. Aku butuh asupan baterai untuk bisa terhubung dengan suami dan juga untuk tahu Gojek yang dipesankan menit keberapa dibooking.

Kekhawatiran terjadi saat Biyya membuka WA dan mengatakan pada ayahnya bahwa ia sudah siap dengan pakaian seragam. Suamiku memesan Gojek sementara aku dan Akib masih belum selesai berpakat. HP Akib kutahan. “Akib nggak perlu HP hari ini. Maunya Bunda cemplungin HP¬†ini ke dalam bak mandi!” ya, harusnya inii tdak terjadi, tapi setelah tahu Gojek sudah on the way sementara Aku belum mandi apalagi Akib. Lekas kumandikan Faza yang bungsu dan meminta Biyya memakaikan bajunya. Akib kuajak ke kamar mandi dengan kondisi mulai tantrum. Ia mulai berteriak. Suara mulai serak khas anak baligh. Sedih komplit hari minggu. Aku mencoba membalas dengan suara rendah. Akib masih membahas HPnya kemana, dimana. Ia memang khawatir aku masukkan ke dalam bak mandi. Insiden hari minggu kembali terulang dan mereda setengah jam kemudian. Sikat gigi dilempar ke lubang WC dan Akib berkata “untuk apa sikat gigi? Nggak perlu! Nggak penting!”

Mencak-mencak itu berakhir karena aku tak begitu menggubris. Aku selesaikan diri sendiri dan mengisi bekal makanan. Biyya masih dengan amarah juga melihat kondisi tidak kondusif, tapi ia sempat memyiapkan sebotol air minum dan memakaikan celana dan singlet adiknya. Akib menolak memakai baju seragam-yang harusnya ia juga rutin berlatih beladiri tapi karena kurang disiplin dan tidak berminat, aku tidak memaksa- alasan tidak memakai seragam karena sabuknya tertinggal di rumah lama.

Ketika kami sampai di Taqwa, pelatih baru saja bersalin pakaian. Kami tidak terlambat karena Gojek yang dipesankan suami tepat waktu datang dan tibanya di lokasi, hanya aku yang harus berkali-kali memohon maaf karena membuat driver menunggu dan tidak sempat menjemur baju adalah hal yang kusayangkan juga di hari secerah ini.

Akib mulai bicara lagi dengan santun kepadaku. Aku lupa apa ia ada meminta maaf, karena he keeps doing. Repeat the same things. Itu sering sekali. Bosan menunggu Biyya latihan, meminta izin memakai HP-ku membuat video Biyya. Aku menunggu Biyya sambil mengobrol dengan Mama Qais. Qais itu teman baik Biyya. Karena Akib sambil mengemong adiknya, aku biarkan ia memakai HP-ku sebentar setelah ia sarapan bekal yang kubawa.

Selepas latihan kami bersilaturrahim ke rumah Teh Uceu. Akib senang karena ada teman baiknya Akmal di sana. Mereka mulai bermain beberapa game dan aplikasi Super Mu di android. Selagi Akib kooperatif dan hari minggu memang aku berharap tak perlu bersitegang di waktu-waktu yang mestinya berkualitas. Jadi aku hanya mengajaknya berdialog. Tidak lagi kularang dan ingatkan tak boleh pegang gawai. Toh, tadi pun aku bilang aku tahan HP-nya, bukan larangan total tak boleh bermain gawai. Selesai zuhur mereka mulai membaca majalah bobo hingga jelang asar.

Membaca majalah Bobo di kamar sahabatnya, Akmal.

 

Suamiku sudah sejak jam 11 menyusul silaturrahim ke rumah Teh Uceu. Hanya saja mereka ikut pelatihan instruktur outbond di aula yang terletak bersebelahan dengan komplek panti yang dihuni Teh Uceu.

Malam bada magrib, saat Family Forum, tidak ada tausiyah atau kisah sahabat dari ayah atau bunda. Tidak juga penggalan hadits atau cerita yang dibacakan dari buku pilihan oleh Biyya. Yang ada hanya pidato ayah tentang hari ini. Suamiku sudah kuceritakan tentang kejadian pagi tadi. Ia berharap Akib tidak mengulang kesalahan yang sama. Biyya juga yang sore hari memperparah keadaan dengan mengamuk tak mau mandi. Family Forum diisi dengan ucapan-ucapan tegas suamiku tentang bakti kepada ibu. Akib ditantang untuk berubah. Biyya yang saat itu salat magrib dalam keadaan belum mandi, kuberi izin untuk meninggalkan forum dan segera mengambil handuk. Demi melihat ayahnya yang agak murka, tanpa babibu ia segera mengambil waktu.

Suamiku mengakhiri pidatonya dan aku menutup forum sambil mengajak makan malam.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *