cerita ceriti,  disleksia,  KelasBunsay#1,  Kuliah Bundsay IIP,  my little angels,  my world,  Parenting,  Self reminder

Tantangan hari#8 Komunikasi Produktif

Alhamdulillah hari ini Akib mau dibangunkan untuk sahur. Pukul 4.30 aku sudah menyiapkan nasi goreng favoritnya lengkap dengan telur matasapi dan kerupuk.

“Siapa yang bilang Akib mau puasa hari ini!” Gerutunya saat aku membangunkannya sebelum subuh.

“Kan, semalam minta dibangunin cepat, sekalian aja sahur karena hari ini ada shaum jama’i di sekolah.” Jawabku.

“Bunda puasa juga?” Akib bertanya melihat aku menyanyi nasi di sebelahnya.

“Iya, tapi Bunda puasa ganti, Nak.” Aku menjawab lagi sambil senyum. Berusaha meredakan lekuk kerutan akibat kesal di wajahnya. Matanya mulai menghangat ramah, tidak setajam tadi.

Aku menyeduh teh dan membagi dua teh tersebut. Azan berkumandang dan aku membangunkan suami agar ke masjid. Aku sengaja tidak mengajak suami sahur karena hari ini beliau membongkar shelter dari Panteriek ke Reuloh. Dipastikan tidak bisa dalam keadaan berpuasa dengan tekanan darahnya di bawah normal.

Senang menyaksikan Akib sahur banyak dan menghabiskan tehnya. Menggeliat kembali ke tempat tidur.

“Duuh, Baang. Azannya udah siap itu.” Kataku.

Saat azan di masjid mengumandangkan Asshalatu khairumminannauum. Akib menjawab “Yang mau tidur lagi siapa?” Duuh ini kan, pasti ada yang ditiru siapa yang gemar menggerutu di rumah. Aku kah itu? Hehe. Tapi nggak heran, Akib memang walau tidak ada role model tetap bisa dapat inspirasi beberapa hal yang bikin urut dada.

“Laki-laki ke masjid salatnya, Sayang. Kalau Bunda jadi Akib nggak akan menyiakan kesempatan bisa bangun pagi dan bersepeda subuh ke masjid. Dingin nggak masalah. Lagian sudah makan kan mulai hangat badan kita.” Uuups panjaaang pula subuh-subuh. Hampir kuberikan kuliah 2 SKS tentang katabolisme. Hihihi.

Finally, dia pun bangkit dan memilih jaket. Berwudhu dan menyusul ayahnya. “Yaah, Akib ikut. Akib ngikutin Ayah dari belakang naik sepeda, boleh?” Ayah mengangguk dan ia senang.

Sekembalinya dari masjid ia langsung mengambil tab dan meng-install launchpad. Waduuuh… Mulai, deh.

“Pagi bantu Bunda berberes. Biyya kalau selesai salat jemur kainnya, tolong ya.” Tidak ada yang menggubris. Biyya dengan legonya dan Akib yang belakangan ini dapat beberapa kali orderan desain merasa tidak salah memegang tab pagi-pagi untuk mengasah skill. Ooh BIG NO.

“Ingat kapan bisa mengakses gawai, Kib?”

“Jeeh, Bunda ini! Tau Sabtu Minggu, tapi Akib ini bukan main game!” Dia salah paham mungkin. Karena kita ijinkan pakai di luar Sabtu Minggu, dia jadi salah paham.

Akhirnya pukul 7.10 ia mandi. 7.15 semua siap diantar. Kecuali Akib tentunya, seperti biasa ia berpakaian sendiri, minta jajan karena ia lupa kalau sedang puasa.

“Eh Jajan apa? Puasa kan?” Kataku mengingatkan. Ia nyengir dan langsung bilang “oiya ya.”

Kamis aku mengajar kelas percakapan Bahasa Inggris di salah satu sekolah bilingual di Aceh Besar, full dari pagi hingga pukul 16.00. Aku pulang terlambat menjelang azan magrib dengan Grab. Akib sudah ada di rumah dan dia sudah mandi.

“Bunda, pinjam hape-lah. Akib mau pesan sop buah sama ayah.” katanya.

Suamiku memang bolak balik mengangkut papan dan besi shelter yang rencananya akan dibangun di sebelah rumah kami. Tak lama setelah Akib selesai mengetik pesan di WA, ayahnya kembali. Akib kecewa berat dan komplain pada ayahnya. “Duuuh Ayah, padahal Akib mau sop buah tadi.” Demi melihat Akib yang sukses berpuasa sunnah, mungkin suamiku jadi tidak keberatan balik lagi sebelum azan magrib berkumandang. Biyya Si Tengah sudah menenteng sekotak pisang goreng adabi.

Waktu berbuka tiba dan kami berbuka dengan air putih plus pisang goreng adabi. Suamiku pulang dengan sop buah. Akib lahap sekali menyeruput airnya dan memilih buah kesukaannya. Aku biarkan saja karena dia sudah berjuang menahan haus dan lapar hari ini. Kami tidak salat magrib berjamaah, malam ini pengecualian. Ayah salat lebih dulu di kamar dan lanjut memindahkan kayu dan besi bersama Pak Alam, teman yang membantu kami pindahan kali ini.

Makan malam juga disantap Akib alkadarnya. Cuma dengan gulai nangka yang dibeli ayah tadi siang. Aku minta maaf karena tidak menyiapkan makanan istimewa hari ini pada Akib, tapi kelihatannya dia enjoy saja. Suamiku dan temannya sudah balik lagi ke Panteriek untuk melanjutkan pekerjaan. Awalnya ia menawarkan untuk kami memesan makanan yang diinginkan, tapi kami ternyata terlalu lapar dan mengantuk, makan seadanya saja apa yang ada di atas meja. Sesaat setelah azan isya, aku langsung tertidur dan tidak sempat mengobrol banyak dengan Akib tentang sekolahnya, tentang Alquran yang dipesannya pada Faris.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *