cerita ceriti,  Just My Opinion,  my world,  Self reminder

Tentang Abak (1)

Tentang Abak (Bagian 1)

Saat menemani Abak di ICU, hatiku bertanya kapan akan memulai menulis tentang Abak? Menulis tentang Abak adalah sesuatu yang luar biasa bagiku. Karena terlalu banyak yang akan tumpah dari kepala dan pikiranku. Segala hal yang sudah pula di ujung jari, suatu hal yang sudah berkali-kali kucoba lakukan dan aku sering gagal.

Lalu, aku mengatakan pada diriku sendiri: Nanti aku akan menuliskan perasaanku tentang Abak setelah aku ‘sembuh’. Kukira untuk sampai pada tahap itu pasti akan lama, ternyata tidak. Ini hari keempat kepergian Abak untuk selama-lamanya. Saat aku kecil, sepanjang ingatan tentang perasaanku kala itu, usiaku masih sembilan atau sepuluh tahun, aku dan adik bungsuku sering berjalan-jalan di punggung Abak. Kalau untuk bagian kaki dan lengan Abak, kami berjalan sebelah kaki di kasur, satunya di lengan atau kaki Abak, kalau di bagian badan Abak, kami berjalan dengan dua kaki kami sembari oleng menjaga keseimbangan tubuh mungil kami.

Ada hal yang aku tak pernah lupa, yaitu sesuatu yang kupikirkan kala itu: Bahwa aku berdoa pada Allah agar meninggal lebih dulu sebelum Abak, saking tak sanggup membayangkan bagaimana hidup tanpa Allah berikan Abak di sisiku lagi. Aku berdoa berkali-kali Abak panjang usia, saking takutnya kehilangan, aku selalu mengulang-ngulang doa yang kini kupikir amat konyol itu: “Ya Allah, cabutlah nyawa hamba sebelum Engkau menjemput Abak”.

Allah memang Mahatahu dan Abak meninggal di usiaku yang ke-36. Abak tutup usia 79 tahun. Pergi dengan damai dan pelajaran paling besar untukku adalah ikhlas, ternyata ikhlas itu tidaklah berat.

Bagaimana aku tak ikhlas, Abak sudah cukup tabungan amalnya. Malam pertama takziah, Ustaz Muadz Vochry menyebutkan sejarah berdirinya Muhammadiyah di Aceh Singkil, takziah hingga hari ketiga sama ramainya seperti hari pertama dan pelayat tumpah ruah melebihi teras kami. Kalau kata One, adik Umak, “jauh labih banyak daripado di tampek baralek”, lebih banyak pelayat hadir daripada tamu undangan pesta pernikahan.

 Aku bisikkan pada Umak, “Mak, apa tidak mengapa jasa-jasa Abak disebutkan seperti itu? Bagaimana dengan pahala Abak?”

“Bialah, yang penting bukan anak-anak Abak yang menyabutkan,” kata Umak.

Jadi, aku tak bisa meneruskan dengan detail tentang isi ceramah Ustaz Muadz Vochry (mantan Bupati dan salah seorang tokoh berpengaruh di Aceh Singkil) malam itu; sebuah sejarah dengan saksi hidup yang masih ramai, sebuah amanah sekaligus nikmat bagi anak-anak Abak. Sama seperti yang dikatakan adik bungsuku, kami melepas Abak dengan bangga. Aku sendiri dengan air mata yang sulit mengering, tapi hati yang begitu ikhlas. Belum pernah aku seikhas ini rasanya. Sebuah perasaan yang tak mampu aku deskripsikan dengan baik, tapi aku yakin telah melakukannnya dengan benar.

Kami bersembilan menyaksikan fardhu kifayah Abak, aku sendiri sempat memandikan satu atau dua siraman di wajah tenang Abak penuh senyuman, aku benar-benar ikhlas.

Dalam bayang-bayang temaram, ketika tersentak di malam hari, aku sering melihat kembali Abak berdiri di atas sajadah tepat di sepertiga malam. Usiaku sepuluh tahun, aku sudah kelas enam SD, tapi aku masih sering pindah tidur ke kamar besar tempat Abak selalu salat malam, saking sering dan berulang-ulangnya peristiwa itu, sampai seperti tertinggal di pelupuk mataku. Maka sering pula terlintas hingga kini, saat aku sudah menjadi ibu bagi keempat putra dan putriku. Itu salah satu keteladanan yang sulit aku lupakan dari Abak; sebuah pesan kuat untuk memintaku melakukan hal yang sama tanpa dia pernah menyuruh berkali-kali untuk salat tahajud, kalau tak sanggup bangun kembali setelah tidur, berangkatlah untuk salat malam. Abak selalu menutup harinya dengan pantas.

Di antara banyaknya keteladanan yang Abak sisipkan dalam kesehariannya, salat sunnah rawatib—yang belum mampu kulakukan sebaik Abak—salat tahajud, dan membaca adalah tiga hal yang paling membekas di jiwaku. Untuk kerendahan hati, sedekah, wakaf, tutur kata yang baik, dan banyak hal lain yang hanya mampu kukagum-kagumi hingga kini, aku berarap suatu hari bisa melakukannya sebaik Abak.

Abak yang dipanggil Umak dengan sapaan “Ajo Manih” tidak pernah galak dan bersuara tinggi. Sosok yang sangat humoris dan mudah bergaul, dia tahu banyak bahasa daerah dengan penuturan yang fasih, tentu saja berbeda denganku. Di antara sembilan bersaudara aku lebih mirip Umak secara fisik dan karakter, bisa jadi begitu. Namun, itu tidak mengurangi kebahagiaan hatiku sama sekali menjadi salah satu anak Abak.

Abak dari penuturan banyak orang yang tidak bisa kuulang-ulang menceritakan kisahnya. Satu hal yang disebutkan mereka adalah, “Jangan sedih, Abak sudah banyak tabungannya, bahagia dia di sana”.

“Abak sudah bahagia di sana, orang paling baik sedunia.”

Saat mengantarkan Abak ke peristirahatan terakhir, Uda Akhyar menyampaikan permohonan maaf jika selama Abak berinteraksi dalam kesehariannya, ada kesalahan disengaja atau tidak disengaja.

“Abak kami seorang pedagang, suka berseloroh dan bercanda, bila dalam bermuamalah selama ini ada yang kurang berkenanan mohon dimaafkan, jika masih ada sangkut paut utang, mohon segera temui kami agar kami bisa menyelesaikan. Supaya lapang jalan pulang Abak.”

Banyak tamu melayat mulai dari Rimo, Singkil, hingga Subulussalam dan mereka sanggup mengisahkan satu per satu mengenai sosok Abak ketika berinteraksi secara langsung. “Ada orang yang punya banyak harta tapi masih bisa hidup sederhana, di mana lagi kita mencari yang seperti itu”.

Aku tercenung dengan kalimat itu. Memang, di mana lagi dicari sosok seperti itu. Sosok yang sangat hati-hati dengan rezeki yang didapatnya.

Suatu hari, aku pernah kesal pada teman yang kerap meminjam barang milikku yang saat itu sangat kuperlukan. Barang itu juga belum banyak dimiliki orang lain, aku membelinya karena keperluan penelitian. Sambil memijat jari-jari sebelah kanan Abak yang kaku, aku terus mengeluh panjang.

“Tidak apa-apa, biar dipinjamnya. Setiap barang itu ada sedekahnya, biar berkah. Kalau bisa sekecil apa pun benda atau harta yang kita miliki, sudah suci ketika jadi milik kita. Masalah dipinjam-pinjam itu anggaplah zakat barang tersebut.”

Aku kaget, benar juga, ya. Sejak saat itu aku tak pernah lagi terpikir mengenai benda tersebut, hatiku lebih ringan dan aku malah bersyukur ketika barang kesayanganku ada yang meminjam. Aku berhati-hati pula meminjam barang orang lain, siapa tahu malah tidak berkah buatku. Setiap harta yang dititipkan pada kita seharusnya bersih dan suci, jangan sampai disisipi hak orang lain, itu prinsip hidup Abak.

Abak sudah terserang stroke di tahun 2000. Bagian yang lumpuh sebelah kanan, mula-mula sulit digerakkan dan lama-kelamaan memang tidak lagi mampu digerakkan Abak. Saat pertama Abak terserang stroke, aku akan mengikuti ujian akhir SMA. Dulu namanya masih EBTANAS, diikuti UMPTN. Segelintir orang-orang berbicara mengenai sakit stroke dan aku selalu menyimak dan merekam tanpa bisa menghindar: Kalau sakit begini hanya tahan empat tahun, kalau tidak sembuh, ya meninggal. Kata mereka.

Abak bertahan hingga 21 tahun. Abak sangat hati-hati dan tidak pernah jatuh sekalipun selama terserang stroke. Keluhuran budi Abak sangat teruji, Abak tidak pernah menyusahkan. Kami bersembilan sangat menyayangi Abak dan berbangga hati ambil bagian kala itu. Abak memberikan kami banyak kesempatan dan ladang pahala, terutama bagi Umak dan Uda Akhyar yang mengambil porsi besar merawat Abak, terutama di tahun-tahun terakhir.

Aku suka sekali membacakan majalah-majalah di tahun-tahun awal menemani Abak. Seperti Desi Anwar yang sering disimak Abak di berita pagi televisi. Banyak kenangan dan optimisme yang terpancar dari segala hal yang dikatakan dan dilakukan Abak saat sakit. 21 tahun bukan sebentar, kalau itu seorang anak, tentu dia bukan lagi remaja, usia itu bahkan sudah dewasa, Abak sampai mahir menulis dan melakukan banyak hal lagi dengan tangan kirinya, bukti Abak pembelajar sejati.

Baru saja sekali tarikan napas, aku menulis melebihi seribu kata malam ini. Aku lega sekali, merasa sangat sehat jiwa dan raga. Sudah tunai tugas Abak di dunia. Aku juga sering berseloroh dengan harap bahwa saat aku tidur malam, aku bisa bertemu dengan Uci (panggilanku untuk ibu Abak), aku ingin sekali bertanya bagaimana cara Uci mendidik Abak. Aku ingin meneladaninya.

Lalu Abak cuma tersenyum, tidak begitu menanggapi selorohanku, tapi dari mata Abak kemudian terpancar rindu yang dalam, lalu Abak mulai berkata: “Tahukah kamu Uci-mu itu dulu, paling sayang pada Abak …”

Tentu Abak bercerita dalam bahasa keluarga kami, lalu cerita-cerita itu kembali mengalir panjang. Aku masih bisa menceritakannya berulang-ulang, bahkan rahasia-rahasia besar dan kecil yang menjadi begitu berharga dan memperkaya jiwa. Abak sudah benar-benar tenang di sana. Aku ikhlas sepenuhnya.     

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya: Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Bisa dihubungi melalui surel medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published.