cerita ceriti,  my world,  Self reminder

Tentang Abak (Bagian 2)

Singgahlah ke rumah Abak, maka engkau akan merasakan kezuhudannya, atau paling tidak jika engkau tak mengenal Abak, kemudian ada kesombongan yang bersemayam dalam hatimu, engkau dengan rasa jumawa akan memberikan amplop berisikan selembar uang biru atau bahkan hijau. Maka, kami tidak pernah diajarkan marah dan tersinggung dengan hal semacam itu karena Abak selalu bersikap tenang dan memberikan teladan yang nyata tentang sikap rendah hati.

“Mak Tangah, ngapain masih mengupas kacang seperti ini?” tanya Bapak Z sambil meperhatikan tangan Umak yang panjang-panjang dan mulai keriput itu mengupasi kulit ari kacang tanah satu per satu. Tangan itu begitu gigih dan cekatan, tak ada satu lingkar cincin pun menghiasi jari manis Umak.

“Mak Tangah, saya bingung melihat kalian berdua (Pak Tangah dan Mak Tangah panggilan Bapak Z untuk Abak dan Umak). Kalau dibilang miskin nggak mungkin (lalu dia menyebutkan beberapa rahasia umum tentang Abak), tapi kalau saya bilang kaya, lihatlah ini, Mak Tangah masih jualan kacang goreng seperti ini.”

Memasak adalah bagian kebahagiaan Umak. Abak selalu menyebut Umak sebagai Ketua DPR alias kepala dapur. Umak yang sejak usia 12 tahun ikut Ummi memasakkan panganan untuk anak-anak panti, tidak pernah bisa memasak satu kuali ukuran kecil, Umak mesti masak untuk satu kompi. Nanti masakan itu dibagi-bagi. Semakin orang mengatakan masakan Umak enak, semakin menjadi-jadi porsi masak Umak. Aku pun sudah terbiasa melihat Umak memasak bermacam menu dengan jumlah banyak, walau hari itu di rumah hanya ada aku, dua orang anakku yang  masih balita, dan Abak. Namun, tentu saja rumah Abak dan Umak jarang sekali sepi, ada kakak dan uda-ku yang berkunjung dan singgah kapan saja, ada tetangga, ada kerabat yang sebentar-sebentar singgah untuk berbagai keperluan.

Aku besar dengan kenangan seperti itu. Lalu kenangan tentang bagaimana sikap Abak menghadapi kebiasaan Umak. Tidak pernah sekalipun Abak komplain atau protes mengenai hal itu. sepanjang ingatanku hingga dewasa, Abak hanya punya keinginan supaya Umak tidak telat salat lima waktu, wajahnya tampak tak senang kalau Umak ingin memasak cepat menjelang azan Magrib. Abak selalu bilang, sebaiknya setengah jam sebelum magrib, kita semua sudah bersiap-siap mendirikan salat, tidak ada lagi kegiatan lain. Abak tidak pernah menuntut agar Umak begini dan begitu, tapi selalu fokus mengapresiasi kalau Umak melakukan hal yang sangat disukai Abak, misalnya mengerjakan salat sunat atau membaca Al-Qur’an. Abak dengan terang-terangan akan memuji Umak di depan kami. Kalau Abak bercerita tentang Umak, selalu memuji-muji kemampuannya dalam hal memasak, kebaikan dan ketulusan hatinya.

Abak selalu memanggil Umak dengan nama depannya dengan nada yang sangat menyenangkan di telinga. Umak memanggil Abak dengan sebutan Ajo Manih (mungkin bisa diartikan secara bebas menjadi Abang Manis), kalau mengingat hal itu, aku sendiri menjadi begitu terenyuh tetapi juga malu karena kehalusan budiku tak seberapa pada pasanganku.

Abak tidak main-main dengan kasih sayangnya, dengan kehalusan budinya pada Umak, seumur hidupku aku tak pernah mendengar suara tinggi atau bentakan yang ditujukan pada Umak. Jika diingat-ingat kini, saat Umak lelah mengurus semua keperluan rumah tangga, Umak memang terlihat begitu asyik dengan aktivitas dan di ujung hari, kelelahan seperti menderanya. Kami jadi jarang melendot atau bersenda dengan Umak. Namun, berikutnya aku akan mendengar selorohan Abak mengenai “Jam apa yang bisa melakukan banyak hal?”.

Nama depan Umak adalah “Zam” dan ketika dilafazkan  bunyinya mirim dengan “jam”. Jadi Abak akan membuat tebak-tebakan jam apa yang serbabisa dan melakukan banyak hal untuk kami. Aku bisa mengingat momen itu, ketika kami semua tertawa dan menyimak penjelasan Abak bahwa Umak sudah luar biasa melayani kami semua. Kami diingatkan dengan detail apa yang sudah dikerjakan Umak untuk kami: Membuat masakan yang paling enak di dunia—walaupun saat itu kami belum sepenuhnya sadar, bahwa masakan itu akan menjadi hal paling istimewa saat kami dewasa—memastikan pakaian kami telah bersih dan bisa digunakan kembali, membereskan rumah tempat kami beristirahat.

Mungkin maksud Abak agar kami tidak melewatkan hal penting begitu saja, bahwa tanpa adanya Umak, kami tak mungkin melewati hari-hari senyaman itu, atau Abak mengajari kami bagaimana menyatakan terima kasih secara tak langsung pada Umak, bagaimana menghibur Umak yang sedang kelelahan. Pesan-pesan tersirat atau subteks semacam itu memang tak bisa langsung dipahami, tapi jadi ingatan hingga kini.

Abak bukan orang yang suka tampil di depan. Dulu seingatku, setiap kali dapat giliran berceramah di masjid, Abak kerap mengangkat tema-tema kecil yang sering dilupakan orang pada saat itu, ketika sumberdaya air bersih masih begitu berlimpah di kampung kami, Abak sudah mengajak semua orang untuk bijak menggunakannya. Bagaimana keresahannya tentang lingkungan dan tindakan-tindakan kecil yang nantinya berdampak besar. Abak tidak membahas tentang hal muluk-muluk, tetapi segala hal yang mungkin dilakukan siapa saja.

Abak seorang visioner dan futuristik, bahkan ketika kendaraan bermesin masih ada satu unit di kampung kami, Abak sudah pula membuka usaha berjualan bahan bakar minyak. Karena itu, walau yang Abak miliki hanya berupa kedai minyak, orang suka menyebutnya sebagai Galon Abdi. Hal ini menjadi lucu saat aku menceritakan kembali, walaupun semua yang ada saat ini berjalan terasa begitu wajar dan apa adanya.[]

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya: Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Bisa dihubungi melalui surel medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published.