Resensi

Terusir (Sebuah Novel Sastra Melayu Terbaik)

Judul buku          : Terusir

Penulis                 : Hamka

Tebal                     : 129 Halaman

Penerbit              : Gema Insani Press

Harga                    : Rp 38.000

Nama Buya Hamka terdengar familier dalam keluarga kami. Barangkali karena beliau adalah ayah ideologis bagi Abak sebagai ‘Kaum Muda’. Seperti yang sering kuceritakan, kakak pertamaku adalah guru, pendongeng, dan mentor pertama dalam hidupku. Hal yang kujalani ketika dewasa kebanyakan merupakan jejak-jejak yang ditinggalkannya ketika mengurus diriku yang bawel dan rewel ketika kecil. Abak dan Umak memiki sembilan anak, aku anak kedelapan, kalau bukan abang dan kakakku, siapa pula yang telaten mengurus anak disleksia yang rewel dan kurang tahu diri ini?

Kakakku sering bercerita dan berulang-ulang pula. Saat ia bersekolah di Tapak Tuan, seringkali ia menghabiskan waktu berlama-lama di perpustakaan. Perpustakaan itu punya banyak buku dan sepi pula. Asyik sekali untuk mengkhayal. Ia bercerita tentang buku-buku Hamka yang ia baca. Kebanyakan tentu yang dipilhnya sebagai anak muda waktu itu, adalah buku fiksi semacam novelet. Jadi, saat aku melihat buku Buya Hamka seperti Dalam Lindungan Kakbah, Tafsir Al-azhar, Dalam Lembah Kehidupan, dan lain-lain, aku merasa bernostalgia, padahal itu pertama kalinya aku membaca, tapi karena kakakku sudah spoiler duluan, aku hanya seperti membaca ulang.

Baru-baru ini aku kembali melihat di lapak buku online langgananku, ia mengeposkan begitu banyak judul karya Hamka yng dicetak ulang. Tak ayal menerbitkan air liurku. Tentu saja belum semua buku Hamka diceritakan Kakak kepadaku, salah satunya yang berjudul Terusir.

Sebagaimana novelet atau novel Hamka lainnya, gaya khas dan alur yang tajam, konflik berlapis yang mengaduk emosi memang bisa kita jumpai juga dalam Terusir. Konflik-konflik sosial dan satire agama masih menjadi komoditas andalan Hamka di sini. Tokoh-tokohnya seperti Mariah di novel ini begitu hidup, pedih luka nasib yang membawa takdirnya hingga ke akhir cerita, sebagaimana tokoh Hamid dalam Di Bawah Lindungan Kakbah. Diksi dan gaya bahasa selingkung yang dipertahankan oleh penerbit Gema Insani Press menambah rasa kental dalam tulisan-tulisan Angkatan Pujangga Baru ini.

Walau cerita ini dibuat berlatar belakang era 1930-an relevansi dengan kehidupan sosial kini masih tak jauh berbeda. Novel yang kental budaya Minang dengan seting zaman Hindia-Belanda ini, bercerita tentang perempuan yang berasal dari Jawa yang kemudian menikah dengan lelaki bangsawan Minang. Ia tidak disukai oleh mertua dan iparnya, ia difitnah berselingkuh dengan Hamzah dan diusir oleh Azhar, suami yang ia cintai. Intrik ini masih dimainkan dan dipakai dalam cerita kehidupan sehari-hari. Cara penyajian Buya Hamka yang elegan tetap membuat karya sastra ini menjadi berkelas. Pembaca pun diajak kembali ke masa-masa perjuangan mengembalikan martabat bangsa. Walau seting terasa sudah terlampau jauh di zaman baru-baru merdeka, tapi pelajaran moral yang diberikan tak pernah kurang nilainya di mata pembaca.

Mariah yang difitnah dan dipaksa bercerai, dipisahkan pula dari anaknya Sofyan. Nasib badan membawanya terkatung-katung tak tentu arah. Sekuat apa pun ia berusaha tetap lurus, kondisi payah masa itu akhirnya menjerumuskannya ke lembah hitam prostitusi. Sementara suaminya, Azhar dan anaknya tetap hidup terhormat, walau setelah kedatangan sahabatnya, Haji Abdul Hamid dari Tanah Suci, kemudian mereka berdiskusi, Azhar akhirnya menyesali perbuatannya. Ia termakan tipu daya keluarganya untuk memisahkan hubungan suci ia dan istrinya, Mariah. Keluarga memintanya untuk menikahi orang satu suku dan ditenggarai lebih mulia strata sosialnya ketimbang Mariah yang berasal dari tanah Jawa.

Konflik yang dibangun begitu kental di awal, membuat pembaca menguras air mata sejak bab pertama. Hidup lantang luntung dalam kepedihan merindukan anak kandungnya, Mariah yang kemudian berganti dengan Neng Sitti dipertemukan kembali secara utuh dengan keluarganya dalam keadaan yang tak terduga. Sofyan dewasa menjadi pengacara yang sukses, sementara Neng Sitti yang masih menyimpan hati bak mutiara harus menjalani sidang sebagai tertuduh atas kematian seorang anak muda bernama Wirja.

Cita-cita Neng Sitti aka Mariah untuk memeluk dan mencium kening anaknya kembali dikabulkan dalam keadaan yang pilu dan memedihkan. Cerita ini tetap sarat pelajaran penuh hikmah yang dapat diambil oleh pembaca, buah karya seorang cendikiawan sastra yang cerdas.[]

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pecinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *