Cerpen,  my world,  Self reminder

The Man O’ Mine

“Sedihnya sudah? Kalau sudah, ke sinikan tanganmu.” Ia menarik pelan tanganku dan kami melangkah beriringan, ada cercah cahaya di balik celah. Aku belum paham betul maksudnya, tapi aku tahu, sesuatu yang jauh lebih baik akan kujelang sesaat lagi.

Menatap matahari terbit di Pulau Balai (foto: dokumen pribadi)

Ia lelaki bermata api yang saat pertama kutemui melindap dalam sekali tatap.

“Aku menyukaimu, bolehkah bersebab itu aku menyegel seluruh kesumat dan membiarkannya lumat bagai melekut.”

“Tapi siapa aku? Kau jangan coba menduga hingga pada akhirnya hanya mengisi gantang pesuk!”

“Tidak! Tidak! Aku tidak akan melakukan itu. Ini bukan hanya perkara suka yang menggelontor begitu saja dari bibirku. Telah lama asa menggelantang terbiarkan. Aku bukan penyuka kesia-siaan, tak pula aku sudi menyanduk kuah dalam pengat!” Tegasmu lagi.

Aku diam satu jenak, tak lama. “Tapi bagaimana nanti jika ternyata semua terlampau jauh dari segala yang kau pernah kira?” Sambungku pula.

“Aku akan serahkan pada-Nya.” Tatapmu mantap.

Lalu gamang datang membuatku geming. Geligi tubuh bukan separuh. Sudah keseluruhannya galau. “Baiklah, tapi aku belum tahu apa cara kita sama dalam hal menanggapi rasa serupa ini.”

“Apa? Bagaimana caramu? Bukankah dua kutub pun tak mungkin mampu bersatu jika keduanya sama persis. Kita butuh berbeda, lalu inilah yang akan membuat kita serupa.”

“Jelas tak serupa denganmu!”

Lalu geletar hatimu tampak ke permukaan. Kau tak siap dengan kelugasanku, sebenarnya.

“Coba jelaskan padaku.” Pintamu mulai ragu. Aku khawatir manik matamu tak lagi mampu menatapku.

“Aku terikat, dikekang oleh sebuah prinsip yang kupilin sekian lama. Maka tak heran ia telah kokoh hari ini.” Aku memulai dengan sebuah intro yang lambat.

Mata apimu tak lagi lindap. Ah, kau tak siap dengan penolakan. Inilah yang kusebut maturasi yang belum lengkap. Bagaimana mungkin kau siap menghadapi mozaik hidup bersamaku. Sementara aku…aku hampir tak pernah semudah itu kau tebak.

“Sebuah ungkapan suka dan cinta, harus terikrar dalam ikatan berat, di mana runtuhnya ia akan mengguncang arsy Tuhan.”

“Yang kau sebut itu…adalah sebuah ikatan suci?”

“Benar.”

Mata apimu membelalak.

“Lalu siapa pula aku yang berikutnya dengan tiba-tiba kau dapuk menjadi pemimpin bagimu?”

“Kenapa kau ini? Bukankah kau yang memulai dengan segala pikir yang naik menjadi kata. Pengungkapan telah sampai maknanya padaku, tinggal kau harus mempertanggung jawabkannya?”

Lelaki mata api, seberapa lama itu kau redam. Lalu kau terbakar.

“Kau…kau sungguh tak mengerti keadaanku.” Erangmu mulai panas terbakar. “Seberat itu sebuah konsekuensi kata? Apa salahnya kita jalani anak tangga pertama?”

“Anak tangga? Kau hanya ingin bermain denganku. Enyahlah mulai sekarang.” Kataku getir. Aku pun merasa tertolak. Aku terluka mata apimu. Sekujur hatiku panas.

“Kenapa kau buat gunung es sedemikian tinggi dan membuat seluruh hatimu membeku?” Tanyamu lagi.

“Kau bodoh,” gumamku hampir tak terdengar. “Saat ini sebenarnya gunung es telah luruh dibakar api simpati. Sekarang semuanya runtuh, rasa telah membanjiri keseluruhan diriku.”

Lalu kita berpaling, tak saling berkata. Semua aksara lesat dalam deru pikiran.

“Biarkan aku berpikir.” Suara paraumu terdengar pahit.

“Lalu selama kau berpikir, menjauhlah. Ambillah sebuah jarak yang tak mungkin kulampaui.”

“Kau sekejam itu…” Mata apimu memelas.

Aku pejamkan mataku menahan pedih. Rasa menjalar di seluruh tubuh.

Kita membuat sebuah kotak dimensi. Kau dengan dimensimu sendiri dan aku boyak oleh prinsipku sendiri. Rasa itu telah kukurung dalam kerangkeng, dalam sebuah dimensi yang berbeda pula darimu.

Tapi kita memang dua kutub yang saling tarik menarik. Rasa itu ibarat metafil yang tak berhenti berkembang. Laksana benalu jiwa di mana seluruh energi untuk hidup telah terserap ke sana.

Saat makan, tidur, beraktivitas, bahkan aku lupa bagaimana caranya menangis sedih dan tertawa bahagia.

Ah, apa bedanya menarik nervus fasialisku melengkungkan sebuah garis senyuman atau tangisan? Toh segala gurat wajah yang tercipta tak mampu mengoyak dimensi yang kita buat. Ia bahkan meruyak menjauhkan kamu dariku. Aku pun dengan langkah gontai dan seringkali terseok untuk menjauh darimu.

Mata apimu berpijar setiap waktu. Sebuah kesumat yang katamu ingin kau lumat. Ah, aku justru membuatnya semakin tersemat gagah di matamu.

“Apa aku tak pantas bahagia?” Tanyamu kali itu yang berhasil melewati dimensi ruang dan waktuku, terbawa oleh angin tanpa sengaja.

Tanya yang menghentak dan nyaris memutus pilinan tali prinsipku.

“Bahagia pun butuh cara yang benar.” Lirihku mulai merasa amat berdosa.

“Aku sungguh belum siap…”

“Aku pun mungkin sama, buat sajalah diri kita setengah siap. Itu sudah cukup. Lalu masing-masing kita menyerahkan setengah itu pada Tuhan. Separuh tambah separuh, maka ia akan menjadi utuh.” Kataku kemudian.

Lalu lelaki mata api, kau selesaikan setengah bagianmu, lalu aku sudah siap dengan setengah milikku. Hari itu satu Juli. El Nino dan La Nina sedang menggejala di negeri kita. Kemudian semburan air laut tumpah seperti rasa kita berdua.

“Aku akan bahagia dengan cara yang benar.” Ucapmu. Disaksikan oleh penduduk bumi dan langit. Kita telah mengucapkan perjanjian berat itu. Menggenapkan yang separuh.

“Sedihnya sudah?” Tanyamu mengusik lamunanku. Mata apimu sudah lindap. Aku memadamkannya. Ah, rupanya semudah itu. Namun sekarang kita kembali dihadapkan badai baru, bukan lagi persoalan rasa semacam itu.

“Iya.” Jawabku.

“Kau masih boleh sedih, tapi tak boleh lama-lama. Sejak hari itu kita berjanji bahagia.” Bujukmu lagi.

Mataku mengerjap untuk membuang paksa sesuatu yang bening dari sudut mataku. Kau bantu menyeka.

“Kemarikan tanganmu.” Helanya lagi dengan pelan. Kami berjalan lagi beriringan. Lalu cahaya itu kian benderang.

“Kau sudah siap?” Tanyanya lagi sambil menatapku lekat-lekat.

Dengan sisa air mata dan hidung memerah karena berkali-kali diseka, aku mengangguk dan mengikuti lengkung senyum di bibirmu.

 

Foto: dokumen pribadi

Komplek BuAs 23 Juli 2018

Hai, Eun Yud. Kau sepertinya punya berpeti-peti harta karun yang tak pernah berhenti memproduksi harta benda berharga untuk menghibur dan mengembalikan senyumku. Walau tak pernah ada cukup-cukupnya, aku selalu ingin ucapkan terima kasih, terima kasih, terima kasih! Alhamdulillah.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *