my world

Waktu yang Tepat Menanamkan Kemandirian Anak

Biyya sebagai sosok kakak.

Saya teringat ketika Biyya, anak kedua kami yang saat itu masih TK, duduk di bibir pintu sambil memasang kaus kaki dan sepatu sekolahnya, setiap pagi melakukan rutinitas yang sama tanpa kami bantu. Bagi saya saat itu semuanya tampak biasa saja, sampai suatu ketika saat berkunjung ke rumah teman, Biyya melakukan kebiasaan itu secara spontan dan menarik perhatian teman saya yang memiliki anak berusia sepantar Biyya.

“Dari tadi aku perhatikan, putrimu ini mandiri sekali,” puji teman saya.

Saat itulah saya mulai memperhatikan anak yang lain seusia Biyya; bagaimana mereka memasang sepatu, memakai baju, makan sendiri menggunakan sendok, menekan tombol dispenser untuk mengambil air minum, bahkan cara memegang gelas dan meneguk yang terkadang oleng dan tertatih, memang berbeda dari Biyya yang tampak cekatan dan memiliki keterampilan mengurus dirinya sendiri. Saat dikatakan Biyya lebih mandiri, saya lantas menjawab sekenanya saja: karena kami tidak pernah punya asisten rumah tangga, jadi biasanya anak-anak melakukan banyak hal sendiri.

Padahal tidak juga, saya menerapkan beberapa hal dan berusaha konsisten agar Biyya, gadis kecil kami itu bisa menjadi anak yang mandiri. Sejak berusia empat tahun, Biyya mulai belajar melakukan banyak hal sendiri, seperti mandi, memakai baju, makan, menyiapkan perlengkapan sekolah ketika dia mulai mendaftar ke Taman Kanak-kanak. Bahkan ketika berusia 9 tahun, dia bisa menyiapkan makanan untuk kami sekeluarga, asalkan mood-nya sedang baik, keterampilannya hampir sama dengan anak dewasa muda dan tidak lagi merepotkan orang lain.

Biya dan sepupunya

Beberapa saat ketika saya membaca-baca artikel di Ibupedia, saya jadi belajar banyak hal, salah satunya adalah tentang kemandirian anak yang bisa dilatih. Bukan persoalan di rumah ada asisten rumah tangga atau tidak, tapi ada cara yang mesti ditempuh oleh orang tua secara konsisten untuk menempa anak-anaknya agar mandiri.

Saat itu tahun 2009, saya sudah membuat blog setahun sebelumnya dan berpikir itulah saat yang tepat untuk mulai mengelolanya.  Akhirnya saya benar-benar menikmati aktivitas mempersiapkan tamu istimewa kami, kata dokter bayinya insyaallah perempuan. Saya pernah membaca bahwa anak perempuan lebih kalem dan mandiri. Wajar kan, kalau saya merasa excited dengan kehadiran bayi perempuan? Alasan yang dikemukakan di sini mungkin bisa membuat kita paham kenapa punya anak perempuan itu seru.

Saya mengisi waktu luang dengan membaca buku dan artikel sambil mengelola blog. Mungkin karena terbiasa dengan tugas-tugas kuliah seperti menulis jurnal laporan, mencari dan menerjemahkan referensi, saya jadi tidak bisa berhenti sepenuhnya dari aktivitas semacam itu.  

Kalau saat anak pertama saya begitu khawatir menjalanai hari-hari nifas tanpa bantuan keluarga besar, kali ini saya memilih melahirkan di perantauan. Saya berdiskusi panjang dan berulang dengan suami, memperkirakan segala kemungkinan dan merencanakan detail-detailnya, bahkan saya langsung mempersiapkan nama ketika tahu jenis kelaminnya.

Seingat saya, memang sejak proses mengandung, saya sudah berusaha hidup mandiri. Tentu saja dengan dukungan keluarga besar yang mengizinkan saya tetap di perantauan untuk menjalani persalinan dan mengurus bayi merah tanpa ada seseorang yang 24 jam menunggui saya. Memang saya selalu mendapatkan bantuan dari suami, adik angkat yang kami minta menginap lebih sering di rumah kami, dan tetangga tentunya. Saya yakin sepenuhnya semua orang yang menyayangi saya melangitkan doa-doa baiknya untuk kelancaran dan kebahagiaan keluarga kecil kami.

Pengalaman yang tidak terlupakan sesaat setelah bayi perempuan dengan berat badan 3600 gr itu diletakkan di atas dada saya, lalu ibu bidan dan asistennya bertanya apa dia sudah punya nama dan saya bilang iya, lalu saya memanggil nama yang memiliki arti kebijaksanaan yang diberikan Tuhan sejak usianya masih kanak-kanak, kami memulai petualangan menanamkan kemandirian kepada Hukma Shabiyya.

Biyya tumbuh sehat dan lucu, senang bicara dan banyak bertanya. Dia anak yang bangga bisa melakukan banyak hal sendiri. Saya lebih sering membiarkannya memilih pakaian yang ingin dia pakai. Walau terkadang terlihat kacau dan tidak matching, saya berusaha menghargai pilihannya. Hasil kerjanya yang tidak rapi, seperti lipatan baju, lantai yang tak terlalu bersih disapu atau piring dan gelas yang masih bersabun, terkadang saya tak segan mengapresiasi.

Pernah satu kali saya meninggalkan Biyya dengan Akib di rumah selama tiga jam lebih. Tentu saat usia mereka saya rasa memang sudah pantas; Akib 15 tahun dan Biyya sudah 11 tahun. Namun, ada yang membuat saya takjub, Biyya membereskan rumah mungil kami dari depan sampai belakang. Dia bahkan menyikat lantai kamar mandi, menyusun handuk-handuk dengan rapi, keranjang wadah sikat gigi dan odol semua dia sikat hingga mengilat. Pukul 19.30 WIB kami tiba di rumah, sandal-sandal rapi tersusun di teras, Biyya menutup semua jendela dan gorden dengan rapat, layar di depannya menyetel video yang sudah kami simpan untuk anak-anak, Biyya duduk bersila sembari menikmati semangkok mi instan. Tentu saja saya memberikan apresiasi lebih dari sekadar pujian. Kami menghujaninya dengan pelukan dan ciuman, dia tampak gembira dan bangga.

Saat ini usia Biyya sudah 11 tahun. Rumah kami saat ini adalah hunian mungil tipe 36 yang memiliki dua kamar yang juga berukuran kecil, alhamdulillah masih ada tanah yang cukup untuk membuat satu bangunan lagi di sebelahnya. Jadi, kami membeli sebuah shelter dengan rangka baja dan dinding kayu yang ukurannya hampir sama dengan rumah permanen yang kami tempati. Shelter yang kemudian lebih sering kami sebut ‘pondok’ itu kami sekat menjadi dua bagian. Satu untuk Akib dan di sebelahnya Biyya.

Kedua buah hati kami yang kini berusia 15 dan 11 tahun itu sudah memiliki kawasan teritorialnya sendiri dan harus bertanggung jawab tentang kebersihan, kerapian, dan kenyamanannya. Ayahnya akan membantu segalanya lebih nyaman; bagaimana agar ketika terik, pondok itu tak terlalu panas; ventilasi udara yang baik; hingga bagaimana agar pondok kecil itu bebas nyamuk.

Sejauh ini, memberikan tanggung jawab menjaga kebersihan dan kerapian kamar, tampak lebih mumpuni dalam membantu anak-anak mandiri. Sering saya meluangkan waktu memantau kamar mereka dengan meminta izin sekadar membaca buku atau mengetik di meja belajarnya. Bagaimana pun saya lega dengan hasil latihan Biyya sejak usia TK hingga hari ini. Ada kalanya dia bosan merapikan pakaiannya dalam lemari, atau mengatur letak buku-buku dan mainan yang dibongkarnya sendiri—kadang berantakan karena adiknya—tapi saya memaklumi hal-hal semacam itu dan tetap mendorongnya agar konsisten menjaga kebersihan dan kerapian pondoknya.

Saya mencoba untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi dan tidak membuat target yang muluk untuk anak, baik dalam hal kemandirian atau hal lainnya. Hal tersebut menjadi catatan penting untuk diri saya sendiri. Saya sering meminta suami agar mengingatkan saya bahwa mereka tetaplah anak-anak dalam hal berlatih kemandirian, jangan terlalu perfeksionis, bahkan kita orang dewasa pun ada rasa jenuh dan malas. Saya pribadi kerap terpicu lebih konsisten melakukan kebiasaan baik karena harus memberikan teladan untuk anak-anak.[]

Hukma Shabiyya yang kami latih mandiri sejak tahap menyematkan nama untuknya.

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *