disleksia,  my little angels,  Parenting,  Self reminder

Disleksia (How To Manage Mood Swing)

 

Dyslexia Today, Genius Tomorrow!

 

Sebagai individu disleksia, kerap kali Akib disalahpahami banyak orang, terutama guru-guru di sekolah barunya. Hal itu  membuat mood-nya sangat buruk selama hampir satu semester ini. Evaluasi tiga bulan berada di sekolah baru menunjukkan penurunan signifikan dalam banyak hal. Kami selaku orang tua bukan pula yang terlampau saklek tentang akademis sehingga kami selektif sekali memilihkan sekolah untuk Akib, tapi lebih kepada kecocokan. Di SD-nya dulu juga punya tuntutan akademis tinggi, tapi para guru yang kooperatif berhasil mencuri hatinya dan membuat Akib enjoy dan have fun dengan sekolah. Enam tahun adalah rezeki yang ternilai buat kami. Alhamdulillah ia yang diskalkulik justru sangat menyukai guru matematikanya. Aku sebagai ibu malah pernah turun pamor karena Akib kecil mengatakan Bu Khayra lebih cantik daripada Bunda, pengakuan yang jarang diungkapkannya. Selama ini bagi Akib, bundanya adalah perempuan yang paling cantik.

Aku tidak menyalahkan ketika banyak orang heran dengan cara Akib berpikir dan bersikap. Aku ingin memberitahu juga bahwa bagi Akib, cara orang berpikir  itu sangat membingungkan. Ada yang tidak berkesinambungan antara detik ini dan detik berikutnya. Short term memory-nya yang tidak bagus sempat membuat orang lain merasa Akib suka berbohong, padahal ingatannya sedang tumpang tindih.

Perlu diulang bahwa disleksia bukanlah kelainan, cacat, atau pun kesulitan belajar disebabkan IQ rendah. Individu disleksia mesti memiliki IQ normal atau di atas rata-rata untuk tegaknya diagnosa tersebut pada dirinya. Maka saat akhirnya diagnosa tegak tentang diskalkulia dan disgrafia kepada Akib, sudah sepantasnya kami berujar syukur yang tiada putus. Pertama sekali karena Allah telah memilih kami menemani satu anak luar biasa istimewa, insyaallah kami lah orang tua itu, orang tua yang pantas mengemban amanah ini. Kedua, sudah jelas bahwa disleksia adalah anugerah dan hanya butuh ekstra sabar untuk menemukan renjana dalam dirinya. Ketiga, kami diminta untuk jadi tim yang solid sekeluarga, kami harus kompak, satu visi dan misi. My family my team, akan lebih kentara setelah kami tahu bahwa Akib disleksia. Kejutan lainnya adalah, keunikan fungsi otak yang dimiliki oleh anak sulung kami itu diturunkan oleh aku, ibunya. Luar biasa, pantas saja selama ini aku merasa hidup dan cara berpikirku sangat out of the box dan aku juga heran bagaimana sebuah hal simpel menjadi rumit di mata orang lain dan sebaliknya.

 

Lalu kenapa Akib tidak HS saja? Untuk saat ini ia akan tetap bersekolah umum agar banyak yang tahu bahwa disleksik itu benar-benar ada, they are exist in our daily life. Mereka ada di sekitar kita, mereka pantas mendapatkan kesetaraan hak belajar dengan akomodasi yang tepat.

 

Mood Swing Pada Individu Disleksik

Menghadapi tahapan ini memang tidak pernah mudah, tapi percayalah saat kita bisa melewatinya, kita sedang maju melangkah satu tahap, bahkan empat tahap untuk poin menjaga efek traumatis, bonding, dan self esteem, dan mimikri pada individu disleksik.

  • Menjaga dari efek traumatis sebenarnya lebih kepada menjaga kenangan masa kecil agar ia tetap baik dan indah untuk diingat. Sekiranya kita sebagai orang tua gegabah dan kehilangan kesabaran sampai membentak dan menyakiti fisiknya, bagaimana pun kelak anak dengan segala kemampuan logika dan pemahamannya yang terus berkembang, akan memaafkan kita selaku orang tua, tapi kenangan buruk tak akan terhapus dari ingatannya dan tidak ada yang ingin pergi menghadap Tuhannya dengan meninggalkan kenangan buruk pada orang lain kan? Apalagi pada anak sendiri. Jadi bersabar saat momen itu adalah hal yang harus kita lakukan.
  • Bonding di sini dimaksudkan ikatan antara anak dan orang tua yang bukan tidak mungkin akan merenggang saat perang terbuka ketika kita menghadapi mood swing sang Disleksik dengan membalas sikap tantrumnya. Kalau mood swing terus terjadi ke arah yang negatif dan terjadi sekurangnya seminggu tiga kali, bayangkan bagaimana hubungan kita dengan anak sendiri.
  • Self esteem, kepercayaan diri tidak serta merta dibawa ketika ia lahir ke dunia. Walau secara fitrah segala fungsi baik, belum tentu di masa pengasuhan dan pengalaman yang anak dapatkan sehari-hari membuat ia terus tetap menjadi pribadi yang percaya diri. Apalagi setelah tahu bahwa ia anak yang berbeda, ia akan lebih banyak membutuhkan perhatian, bukan hanya karena ia akan menjadi minder karena ia agak unik dibandingkan teman sekelilingnya .
  • Mimikri yang dimaksud di sini adalah kemampuan anak mencontoh sikap dan tindakan kita selaku orang tua. Ketika ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana orang tua menghadapi sikap tantrumnya, apa yang dilakukan orang tua dengan kelakuannya yang tidak sesuai dengan harapan, kelak tentu ia banyak meniru dari pada mengambil pelajaran dari semua itu.

Aku ingin memberikan semangat dan dukungan sepenuh hati bagi para orag tua, terutama ibu yang diamanahkan anak istimewa, berarti ia adalah manusia yang sudah dipilih dan memiliki kapasitas dan kompetensi istimewa pula. Abaikan standar-standar normal yang ada di sekitarmu, tetap positif dan berprasangka baik kepada Tuhan, walau terasa sulit ketika harus berlapang dada dengan penghakiman orang sekitar. Paling penting standar di mata Tuhan kita penuhi, amanah yang diberikan kita jalani dengan penuh rasa tanggung jawab. Fighting!

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, Faza, dan Kareem. Pencinta bahasa Indonesia. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *