cerita ceriti,  disleksia,  my little angels,  my world,  Parenting,  Self reminder

Sosok Anak, Antara Performa yang Diinginkan Orang Tua dan Dirinya Sendiri

Sudah sejak awal bulan persiapan Kids Survivor Level 2 menjadi tema obrolan rumah kami, bukan … bukan persiapan isi tas dan perlengkapan jelajah, tapi yah, sekadar obrolan karena perlengkapan dilis dan dibeli Akib bersama ayahnya beberapa hari jelang berangkat. Malah malam akan berangkat mantel yang nanti difungsikan juga sebagai bivak harus dicari pukul sepuluh malam. Sepatu yang sudah tersedia ternyata sudah menyempit, belum setahun yang lalu kami membeli sepatu yang agak kokoh supaya bisa tahan lama, Akib juga tidak pernah mau berangkat ke sekolah bersepatu, ia selalu bersandal jepit karena di sekolah nanti juga langsung buka dan simpan di rak sepatu, dalihnya. Lagi pula kata Ustaz Akib, yang penting saleh dan mau belajar, itu saja. Alhasil saat dipakai sekarang, sepatu yang masih seperti baru itu benar-benar sudah sempit dan membuat jari-jari Akib terpaksa melengkung di ujung. Benar-benar tidak layak dipakai eksplorasi ke hutan, kan?

Kali ini aku sedikit pun tidak membantu selain pakai ‘suara’. Itu juga mengerem beberapa kali agar tidak terlampau ketahuan kalau sebenarnya gatal ingin cerewet. “Peluit sudah? Mau ke hutan dengan risiko nyasar, masa peluit nggak dibawa…”

“Itulah…yang dulu entah ke mana,” jawabnya sambil mengingat-ingat.

Akib sudah ikut level 1 dan waktu itu memang tidak banyak kubantu juga, ia juga ogah pakai sepatu dan tidak sempat membawa mantel. Ia terpaksa push up karena kelalaiannya tersebut. Aku? Sudah ah, terima saja…selama tak membahayakan jiwa dan bisa jadi pelajaran baginya, aku cukup kuat hati. Apalagi mentornya maklum.

Sebenarnya aku sangat bisa membantu waktu itu, baru sekali aku ingatkan kalau harus pakai sepatu karena medannya bukan seperti jalanan di kompleks atau jalan raya. Sudah kuingatkan juga kalau mentornya yang menyuruh, kalau ia belum begitu yakin padaku, tapi Akib bergeming, ia lebih nyaman memakai sandal jepit kesayangannya. Ya sudah.

Kali ini walau ada lompatan jauh terutama mengenai kepatuhan dan fokus menyimak peraturan mentor, aku tetap saja merasa ‘gatal’ ingin membantu. Namun kutahan-tahan, malah aku tetap menyuruh ia melipat pakaian yang baru diangkat dari jemuran seperti biasa walau  ia sibuk dengan persiapan esok. Mood-nya sedang sangat baik dan tugas rutin tersebut tetap dilakoninya. Lalu tasnya yang sudah ‘tua’  rasanya ingin kuganti saja. Toh, masih ada bujet. Namun apa yang dikatakan ayahnya benar, jangan selalu ‘melindungi’ dengan mempermudah semuanya. Biarkan ia menyiasati tas tua yang ritsletingnya suka kumat itu untuk kali ini. Di grup orang tua juga aku diminta jangan grasa-grusu menyusahkan mentor, simak saja baik-baik…kalau benar-benar urgen dan tak paham barulah bertanya. Lagi pula banyak pertanyaan orang tua lain yang kurang lebihnya mewakili pertanyaan kami.

Aku memperhatikan rambutnya yang belum juga terpangkas, rasanya risih sekali. Lagi-lagi gatal ingin menyarankan pangkas. Akhirnya keluar juga saran dalam bentuk tanya, “Nah itu rambut apa mau dipanjangin? Sementang nggak ada yang mengharuskan pangkas lagi,” istilahnya semester ini karena dia unschooling ya, jadi tidak akan ada yang menjumput rambutnya dan kemudian memotong sedikit sebagai peringatan rambut terlampau panjang.

“Kenapa, sih, nggak bilang baik-baik aja? Akib nggak suka cara itu.”

Yaelaa…aku sejak awal melihat rambutnya sudah jingkrak biasanya langsung mengingatkan, “pergi pangkas besok ya, Nak, sebelum ditegur Ustazah.”

“Ah, Ustaz belum bilang apa-apa, kok!”

Nah, lo… waktu kena dia justru mengadu padaku tak suka cara itu. Sebenarnya begitu lah seorang disleksik berpikir, ia butuh hal-hal konkret, bukan pakai ‘peh sampeng’ alias pukul samping, peringatan, perumpamaan, majas-majas itu, dan segala macamnya. Malah di level yang lebih runyam, kode-kode seperti bel sekolah yang menyatakan saatnya masuk kembali setelah break, tak akan dipahami oleh orang disleksia seperti kami, harus ada yang rajin mengingatkan, kalau bel tiga kali pertanda masuk kembali.

“Bu, anak Ibu nakal, tidak patuh, walau sudah bel masuk dia masih berkeliaran di luar kelas,” adu seorang guru pada orang tua yang anaknya juga disleksia.

Setelah dikonfirmasi ulang, cerita punya cerita, anak tersebut tidak paham arti bel tersebut. Perset*n apa kawan-kawan berlarian ke kelas demi mendengar bel, ia tak peduli. Hingga disampaikan secara konkret, “Anak Sayang, kalau bunyi bel…yang begini teet …. Itu tandanya sudah harus masuk ke kelas lagi untuk belajar,”

“Oh baik. Aku nggak tahu karena nggak ada yang bilang,” jawabnya polos. That case wasn’t about Akib but that happened to someone like Akib!

Selanjutnya kembali pada persiapan Akib berkemah untuk kegiatan Kids Survivor Level 2. Akib biasanya pelupa berat, harus banyak diingatkan, tapi aku baru tahu juga ternyata ia bukan tidak telaten atau pelupa melainkan tak punya minat hingga terlihat begitu teledor selama ini. Guru-guru mengeluhkan kalau ia tak membawa buku paket, tidak membawa pulpen, peci dan perlengkapan sekolah lainnya. Aku pun harus dengan lapang hati dan sabar menerima komplain semacam itu, terkadang dengan elusan lembut di kepala, tak jarang dengan ujaran kesal karena kejadian ini terus berulang setiap hari.

Namun kali ini ia yang mengingatkan dirinya sendiri dan bahkan memintaku membantu mengecek. Seperti kertas-kertas tabel data, ia yang mengajak ayahnya ke fotokopian untuk menggandakan semuanya. Saat clipboard dan kertas itu tak lagi muat dimasukkan ke dalam tas, aku sedikit sangsi ia akan meninggalkannya esok pagi. Ia mengecek ulang senter emergensinya dan kembali mengisi daya senter tersebut sebelum tidur. Mengecek sekali lagi isi tas dan printilan-printilan kecil seperti slayer dan kaos kaki. Aku hanya memperhatikan sembari sedikit takjub. Ini dirinya yang sesungguhnya. Begitu pun sebenarnya aku masih ingin mengintervensi dengan baju pilihannya yang sudah ia bereskan dan gulung dengan rapi. Ia memasukkan baju lengan panjang yang mungkin baginya lebih nyaman, tapi di mataku sedikit belel, ia masih punya baju kaos lengan panjang yang lebih baru dan tentu saja ia terlihat lebih gagah dan terurus kalau pakai baju yang kurekomendasikan. Terurus? Iya, aku lihat anak-anak lain juga masih dipilihkan baju usia begitu, bahkan lengkap dengan stelan senada. Apalagi lelaki agak cuek, mau tabrak lari warnanya juga tidak peduli. Lagi-lagi aku harus menahan diri sampai akhirnya aku bertanya, “Akib bilang suka baju lengan panjang yang baru itu, celananya juga… Kayaknya Bunda lihat masih banyak celana yang lebih bagus,” aku masih ingat celana panjang yang dimasukkannya ke dalam tas itu sudah pernah kubantu jahit dua kali di dua tempat, ia masih punya celana baru lainnya.

“Iya, nggak apa-apa Bunda, ini ke lapangan…buat apa bagus-bagus kali, nanti yang ada malah kotor.”

Upsbenar juga, batinku. Akib yang dalam beberapa hari justru terlihat lebih matang dan dewasa, aku yang seperti anak kecil di depannya. Beberapa kali ritsleting tasnya harus dibuka dan ditutup kembali dengan hati-hati karena tas Eig*r itu sudah cukup tua dan bertingkah. Saat ia kumat, Akib sempat kesal, “Huf, beli baru ajalah!” dengusnya, tapi aku pura-pura tidak dengar dan melanjutkan melipat kainku sendiri.

Esok paginya ia memang harus dibangunkan karena kupikir wajar saja, lelah dan telat tidur. Ia tidak langsung bangun saat ayahnya berangkat ke masjid. Sekitar tiga kali panggilan akhirnya Akib bangun dan langsung salat Subuh, mandi, tidak lupa menggoda adiknya, Faza. Aku bisa melihat ia tidak keberatan menjalani hari ini. Biasanya Akib suka minum kopi instan atau teh saat pagi, ia buat sendiri tentunya, kali ini kulihat ia hanya berberes dan menanyakan ulang apakah harus memakai baju kaos yang dibagikan oleh panitia tempo hari atau boleh pakai baju apa saja.

Karena ingin lebih gesit kami langsung berangkat ke titik kumpul di BKSDA dan mengajak anak-anak sarapan nasi gurih di warkop yang berada tidak jauh dari sana. Tentu saja kami tidak terlambat, Akib ada di barisan paling depan dan saat pengecekan perlengkapan, ia bebas dari hukuman push up. Senyum lebarnya membentuk bulan sabit di matanya. Kami sering menyebutnya sebagai ‘smiling eyes’ yang saat masa kecilnya dulu sering sekali ia pamerkan. Semoga selalu dalam penjagaan Allah, selamat belajar di alam bebas, Akib!

Seorang ibu disleksik yang senang membacakan buku untuk anak-anaknya, Akib, Biyya, dan Faza. Istri Eun Yud yang rutin melembakkan 20.000 kata dan tidak melulu melalui lisan. Nah, salah satunya itu dengan tulisan juga. Menyerap energi dari pribadi-pribadi filantropis di sekelilingnya, tapi belum sepenuhnya bisa seperti mereka, hanya seorang 'wannabe'. Senang berbagi materi seputar parenting, buku, sains, dan dunia rabbitry . Silakan bersilaturahmi via e-mail medicus_84@yahoo.com.

6 Comments

  • Astri

    Menarik ceritanya kak, jadi bercermin pada diri sendiri yang kadang “gatal” utk komen ttg apa yang anak putuskan. Ahh jadi pengen ngobrol lagi sama kk aini khususnya ttg anak2.

  • Bunda Erysha (yenisovia.com)

    Wah Akip lucu ya Bun. Salam buat Akip. Sebagai emak-emak yang dasarnya emang seneng ngomong 20 ribu kata, menahan kata agar tidak terkesan mengomel memang butuh pengendalian diri ya dari kita. Kadang suka gemes sendiri ya bun hihihi. Aku juga begitu, suka belajar nahan kata, suka takut anak aku juga jadi bosen denger emaknya ngomel2 hihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *